TRP
Konservasi Air di Kaki Anjasmara dan Arjuna
22 Oktober 2015 \\ \\ 320

 

 

Tahun 2011, petani yang tergabung dalam Komunitas Petani Penyelamat Daerah Aliran Sungai Brantas terlibat dalam penanaman bibit pohon di lahan Perhutani yang gundul akibat penebangan di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Batu, Jawa Timur. Kini, sebagian dari mereka kembali terlibat dalam pembuatan tandon air untuk mewujudkan ketersediaan air bagi masyarakat.

Matahari bersinar terik, Senin (5/10) tengah hari. Suasana lembah hulu Sungai Brantas yang diapit Gunung Anjasmara di sisi barat dan Gunung Arjuna di sisi timur sepi. Lahan pertanian yang menghampar hijau saat musim hujan banyak yang terbengkalai tanpa tanaman. Hanya beberapa lahan kentang beruntung yang basah terguyur air dari ujung selang yang dilengkapi alat semprot berpemutar manual.

Di salah satu sisi lereng yang berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman, sejumlah warga tengah sibuk membuat tandon air. Lokasinya persis di dekat mata air Jeblokan yang jernih dan dingin. Tandon berbahan semen itu baru selesai sekitar 80 persen dari rencana panjang dua meter, lebar dua meter, dan tinggi dua meter.

"Tandon ini nantinya akan menjadi penunjang kebutuhan air warga. Saat terganggu, warga bisa mengambil ke sini," ujar Rahedi, warga Dusun Lemah Putih, Desa Sumberbrantas, yang ikut terlibat dalam pembuatan tandon.

Tidak seperti di dataran rendah, membangun tandon di tempat dengan topografi miring di atas 45 derajat memerlukan tenaga lebih. Semen, misalnya, harus dibawa dari kampung dengan sepeda motor tua modifikasi yang diberi roda khusus (trail). Dengan suara mesin meraung, semen dibawa menuruni jalanan setapak berdebu yang dihiasi tikungan-tikungan tajam.

Sumberbrantas adalah desa tertinggi di Batu, dengan jarak sekitar 18 kilometer di sisi utara kota. Selain wilayahnya berdekatan dengan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Raden Suryo, Sumberbrantas juga memiliki sejumlah mata air. Salah satu mata air yang terkenal dan punya peran vital adalah Sumber Brantas. Mata air ini juga menjadi titik nol kilometer Sungai Brantas yang melintasi sekitar 17 kabupaten dan kota di Jatim.

Sumber-sumber air di sekitar desa inilah yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari masyarakat, yang tergabung dalam Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (Hippam), termasuk untuk menyiram lahan oleh sebagian petani saat kemarau tiba.

Namun, saat kemarau panjang, aliran air melalui pipa yang dikelola Hippam sering terganggu. Debit air menurun. "Fungsi tandon selain untuk mempermudah penyiram lahan, juga untuk membantu masyarakat saat air di pipa terganggu. Kadang-kadang, air dari Hippam mati 1-2 minggu," katanya.

Dari tandon, nantinya air disedot menggunakan pompa ke atas untuk dipakai warga dari Lemah Putih dan Sumber Brantas lainnya. Pembuatan tandon merupakan inisiatif warga sejak dua tahun lalu, yang kemudian mendapat legalitas dari kepala desa. Keinginan warga difasilitasi Yayasan Pusaka (Pengembangan Usaha Strategis dan Advokasi Kelestarian Alam), lembaga sosial pemerhati lingkungan, serta partner Dompet Duafa sebagai penyedia dana.

Dari sisi teknis, diserahkan ke akademisi dua universitas besar di Malang. "Kami berusaha memfasilitasi. Sebab kalau tidak demikian sulit terwujud. Air di sumber ini kami optimalkan dengan membuat terminal, yakni tandon," ujar Bambang Parianom, Direktur Yayasan Pusaka.

Bambang melihat upaya konservasi air di hulu Brantas sangat penting. Di sekitar Desa Sumberbrantas terdapat tiga mata air. Namun, saat kemarau debitnya menurun. Ia mencontohkan, satu tahun lalu, air yang mengalir di lembah hulu Brantas cukup deras jika dilihat dari daerah Jebloka. Akan tetapi, saat ini airnya hampir tidak tampak alirannya.

Dibendung

Mengecilnya aliran air di puncak kemarau seperti saat ini terjadi akibat pengambilan air oleh petani di bagian hulu. Mereka menyedot air di dekat mata air Sumber Brantas, di dalam Arboretum, dengan menggunakan pompa. Untuk memaksimalkan volume air yang terisap pompa, petani membendung aliran air menggunakan kantong-kantong pasir sehingga petani yang ada di bagian bawah hanya memperoleh sisa-sisa.

Kawasan hutan di sekitar Desa Sumberbrantas terdegradasi dan berubah menjadi lahan pertanian. Pembabatan hutan marak pada tahun 1998-1999. Dari 19.000 hektar lahan di wilayah Batu, 11.000 hektar di antaranya hutan. Hutan yang kondisinya masih terjaga hanya ada di Tahura Raden Suryo.

Dampak dari deforestasi itu menyebabkan terjadi banjir bandang tahun 2004 di Desa Sumberbrantas. "Dengan latar belakang kerusakan inilah, mulai 2011, terbentuk Komunitas Petani Penyelamat Daerah Aliran Sungai (KPP DAS). Awalnya hanya delapan orang, dan sekarang telah menjadi 42 orang. KPP DAS ini terlibat dalam penanaman lahan gundul milik Perhutani dengan bibit buah- buahan, seperti jambu biji, nangka, dan kopi arabica," ujar Bambang, yang juga mantan Camat Bumiaji dan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Batu yang selama ini mengadvokasi petani setempat.

Penanaman bibit buah-buahan itu membuahkan hasil. Saat ini, sekitar 20 hektar lahan miring yang semula gundul telah memiliki tegakan. KPP DAS berusaha memelihara sembari memanfaatkan lahan di bawah tegakan untuk pertanian. Dari situ mereka bisa mendapatkan sedikitnya tiga manfaat, yakni hasil dari penjualan buah nantinya, hasil dari bercocok tanam di bawah tegakan, dan secara tidak langsung kelestarian alam. Oleh: Defri Werdiono

Sumber: Kompas | 21 Oktober 2015

 

 

Berikan komentar.