TRP
Pulau Terluar yang Selalu Terisolasi
22 Oktober 2015 \\ \\ 340

Febriana Waty (45), pedagang bahan pokok di Seba, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, menunggu kedatangan feri yang membawa bahan pokok dari Kupang dengan penuh kecemasan. Dia khawatir, feri batal datang karena cuaca buruk. Tiba-tiba, feri yang dimaksud muncul dari kejauhan, dan akhirnya merapat di Dermaga Seba. Febriana pun lega. Stok bahan pokok di kios miliknya pun terisi lagi.

Bukan hanya Febriana. Belasan pedagang dan warga Seba pun menunggu kedatangan feri Uma Kalada pada Sabtu (19/9). Pedagang dan warga itu menitipkan barang lewat feri Uma Kalada. Itulah transportasi andalan yang melayani warga Sabu selama ini. Ada pula kapal perintis yang tiba di Sabu satu kali dalam sebulan.

Keresahan Febriana dan warga Seba lainnya sangat beralasan. Mereka khawatir feri itu lagi-lagi batal berlayar menuju Sabu akibat cuaca buruk. Sudah tujuh hari, feri berbobot 500 gros ton (GT) berkapasitas penumpang sekitar 300 orang, dan 12 kendaraan roda empat itu tidak berlayar ke Sabu karena cuaca buruk. Orderan bahan kebutuhan hidup pun tersendat.

Dua unit

Dua unit feri yang berlayar menuju Seba dalam satu pekan, yakni feri yang dikelola PT ASDP Kupang dan feri cepat milik swasta. Feri ASDP berlayar setiap Senin, sedangkan feri cepat berlayar tiga kali dalam satu pekan menuju Sabu. Namun, feri cepat tidak memuat barang dalam jumlah besar, apalagi kendaraan bermotor. Biaya feri cepat Rp 250.000-Rp 300.000 per penumpang, sedangkan feri ASDP hanya Rp 105.000 per penumpang

"Feri lambat (ASDP) menjadi andalan. Kami mendatangkan bahan pokok dari Kupang ke Sabu, terkadang juga masyarakat membawa bahan bakar minyak yang dibeli dari Kupang. Namun, kapasitas muatan feri sangat terbatas. Feri lambat lebih memprioritaskan penumpang, bukan barang," kata Febriana.

Bobot feri lambat dan feri cepat hampir sama, yakni sekitar 500 GT. Feri jenis ini hanya bisa berlayar ketika ketinggian gelombang laut berkisar 1-2,5 meter. Jika gelombang laut lebih dari 3 meter, feri seperti itu tidak berlayar.

Memenuhi kebutuhan bahan pokok, dan kebutuhan lain seperti bahan bangunan, elektronik, dan kebutuhan rumah tangga lain, pengusaha setempat memesan dari Makassar, atau Kupang dengan bantuan kapal khusus, termasuk kapal perintis. Namun, kapal-kapal itu hanya berbobot 500-700 GT sehingga tidak mampu berlayar selama gelombang di atas 3 meter.

Sabu Raijua terletak di perairan Samudra Indonesia, berbatasan dengan Australia. Pulau ini sering didera angin kencang dari arah Australia akibat perubahan musim. Saat gelombang laut di perairan selatan 4-6 meter, feri tak bisa berlayar ke Sabu. Hampir setiap bulan dalam tahun, terdapat 3-14 hari, feri dan kepal perintis tidak melayani rute Kupang-Sabu.

"September tahun ini, misalnya, sudah tujuh hari feri batal berlayar ke Sabu karena cuaca buruk. Kami terisolasi karena cuaca buruk, dan itu sering terjadi. Penerbangan ke Sabu dilayani pesawat Susi Air, tetapi terkadang batal terbang karena angin badai," ujar Febriana.

Pernah kapal pengangkut BBM ke Sabu dengan bobot 30 GT batal berlayar sehingga harga BBM di sana mencapai Rp 20.000-Rp 70.000 per liter. Harga bahan pokok pun mengalami kenaikan secara mendadak. Beras, misalnya, dari Rp 17.000 naik jadi Rp 20.000 per kg, gula pasir Rp 17.000 jadi Rp 30.000 per kg, telur ayam dari Rp 4.000 jadi Rp 7.000 per butir.

Butuh waktu

Kepala Bidang Pendapatan Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Negara Sabu Raijua, Pieter Rohi, mengatakan, kenaikan harga bahan pokok, barang kebutuhan lain, dan BBM di Sabu sangat dimaklumi terkait transportasi. Sabu masih terisolasi. Kondisi ini pula sering menjadi kendala dalam investasi.

"Kadang orang masuk gampang, tetapi keluar sulit karena cuaca buruk dan keterbatasan sarana angkutan. Dermaga pendek, kapal penumpang terbatas, penerbangan juga hanya berkapasitas 12 orang, itu pun kalau cuaca baik. Ini persoalan yang sedang dihadapi Sabu Raijua," ujar Pieter.

Kepala Seksi Perhubungan Laut Simon Nitbani mengatakan, pemda telah mengusulkan ke Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan untuk mengadakan feri, atau kapal berbobot di atas 2.000 GT, tetapi sampai hari ini belum terpenuhi. NTT minimal membutuhkan dua kapal dengan bobot di atas 2.000 GT, khusus melayani selama cuaca buruk.

"Ini provinsi kepulauan. Program pemerintah mengenai tol laut, sebenarnya difokuskan ke daerah kepulauan ini. Sebutan feri biasanya berlaku untuk pelayaran 2-4 jam per trip, tetapi di NTT feri berlayar sampai 24 jam per trip. Sementara draf feri hanya sekitar 2 meter ke dasar laut sehingga tidak mampu menembus gelombang laut dengan ketinggian di atas 3 meter," jelas Nitbani.

Namun, menggantikan feri di NTT, semua dermaga itu harus disesuaikan dengan ketinggian kapal. Ketika bobot feri dinaikkan, ketinggian dermaga feri pun perlu dinaikkan pula. Kegiatan ini butuh waktu lama.

Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome mengatakan, dengan kondisi yang minim ini, pengiriman hasil produksi sumber daya alam dari Sabu Raijua pun terganggu. Kini, Sabu Raijua telah memproduksi garam dan rumput laut berkualitas ekspor.

Pemda Sabu telah bekerja sama dengan sejumlah pengusaha untuk membeli garam dan rumput laut di pulau itu. Akan tetapi, jumlah produksi garam yang dibutuhkan pengusaha baru mencapai sekitar 1.000 ton, sementara pengusaha meminta 3.000-4.000 ton sehingga kapal yang dikirim ke Sabu tidak merugi. Sementara rumput laut baru mencapai 200-400 ton, tetapi pada akhir tahun ini produksi kedua komoditas unggulan Sabu tersebut sudah bisa dikirim ke luar NTT.

Dira Tome mengatakan, Sabu Raijua memiliki tiga dermaga, tetapi tidak mampu disinggahi kapal berbobot di atas 1.000 GT. Bahkan, ada dermaga yang panjangnya 950 meter dan lebar sekitar 8 meter di Sabu Timur itu memanjang lurus ke arah laut, dan masih menyulitkan kendaraan roda empat berputar balik setelah mengangkut barang.

"Kami mengusulkan ke pusat agar mendukung pembangunan di Sabu dengan meningkatkan kualitas dermaga dan bandara, tetapi sampai hari ini belum terlayani. Sementara pembangunan di Sabu sangat gencar, dengan pengelolaan semua potensi sumber daya alam yang ada," kata Dira Tome. (KORNELIS KEWA AMA)

Sumber: Kompas | 21 Oktober 2015

Berikan komentar.