TRP
MRT, Perwujudan Mimpi Setelah 49 Tahun
22 Oktober 2015 \\ \\ 411

Pembangunan angkutan massal cepat (MRT) yang dimulai sejak dua tahun lalu mendekatkan mimpi indah dengan kenyataan. Saat rampung nanti, warga yakin MRT akan bisa berperan mengurangi kemacetan di Ibu Kota.

Pembangunan MRT yang sedang berlangsung adalah perwujudan mimpi Gubernur Soemarmo sejak 1964. Dikutip dari laman Historia, Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta periode 1960-1964 dan 1965-1966 ini pernah berencana membangun lintasan kereta api bawah tanah pada Februari 1964.

Setelah 49 tahun diimpikan, MRT akhirnya mulai dibuat. Pada Oktober 2013, pembangunan angkutan massal yang berbasis rel resmi dimulai. Saat ini, proyek tahap I dengan rute Lebak Bulus-Bundaran HI sampai pada tahap pengeboran satu terowongan sepanjang sekitar 35 meter dari rencana jalur rel 5,9 kilometer. Satu mesin bor lain telah dipersiapkan untuk pengeboran terowongan kedua yang diperkirakan beroperasi awal November mendatang. Nantinya, transportasi massal yang direncanakan membentang sekitar 111 km ini akan memiliki tiga jalur, yakni jalur melayang, di permukaan tanah, dan di bawah tanah.

Rangkaian upaya mewujudkan mimpi indah ini disambut baik oleh warga Ibu Kota. Hasil jajak pendapat melalui telepon yang dilakukan Litbang Kompas pada awal September lalu menunjukkan antusiasme warga. Jika nanti proyek MRT sudah selesai dan siap digunakan, empat dari lima warga Ibu Kota akan memanfaatkannya. Bahkan, 20 persen dari kelompok ini memastikan akan menggunakan MRT setiap hari untuk mendukung aktivitas harian mereka.

Kehadiran MRT dinilai mampu membantu mobilitas warga. Jika nanti sudah resmi beroperasi, Supriyanto (39), warga Cinere, Depok, menilai angkutan massal ini akan bermanfaat sebagai alat transportasi ke kawasan pusat Jakarta. "Aku bakal naik (MRT) kalau sudah jadi nanti," kata karyawan swasta yang sekarang biasa menggunakan bus transjakarta atau Go-Jek menuju kantornya di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

Saat beroperasi pada 2018, harga tiket MRT diharapkan tidak terlalu mahal. Menurut hasil survei kali ini, sebagian besar (61,9 persen) responden menyebut kisaran Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per penumpang sebagai tarif yang memadai untuk satu kali perjalanan.

Kurangi kemacetan

Upaya sinkronisasi jalur transportasi angkutan massal di Ibu Kota terus dilakukan. Pengangkut massal, seperti bus transjakarta, bus transjabodetabek, dan kereta commuter line, sudah aktif beroperasi melayani warga Jakarta dan sekitarnya. Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) yang akan mengatur transportasi perjalanan orang dan barang di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi pun sudah dibentuk pada September lalu.

Dengan situasi seperti saat ini, mayoritas warga (65,7 persen) yakin MRT bisa mengurangi kemacetan lalu lintas di Jakarta, terutama di rute-rute yang dilalui. Apalagi jika rencana simpul besar integrasi di beberapa tempat, seperti Dukuh Atas, Jakarta Pusat, dan Blok M, Jakarta Selatan, yang mempertemukan banyak moda jadi dibangun.

Tahapan merealisasikan impian lama ini harus dibayar dengan konsekuensi yang tidak mengenakkan. Jalur proyek pembangunan tahap I yang melewati areal perkantoran dan bisnis menyempit. Padahal, selain MRT, saat ini juga sedang berlangsung proyek-proyek lain di kawasan lain di Ibu Kota.

Hampir separuh responden mengaku terganggu aktivitas hariannya dengan pembangunan angkutan massal yang tahun ini masuk dalam 100 proyek infrastruktur paling inspiratif dan inovatif di dunia. Kemacetan semakin parah di jalan-jalan tempat proyek MRT berlangsung. Butuh waktu lebih lama untuk sampai ke tujuan ketimbang sebelumnya. Jalan-jalan "tikus" di sekitarnya pun kian padat karena para pengendara mencari rute alternatif agar tak perlu melewati titik-titik kemacetan. (Umi Kulsum dan M Puteri Rosalina/Litbang Kompas)

Sumber: Kompas | 21 Oktober 2015

Berikan komentar.