TRP
Pengelolaan Wisata Selancar di Mentawai Perlu Diatur
20 Oktober 2015 \\ \\ 292

PADANG — Asosiasi Kapal Wisata Selancar Sumatera Barat mendesak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai serius mengatur pengelolaan wisata, khususnya selancar. Alasannya, wisata andalan Mentawai itu makin kacau serta kian buruk citranya akibat ulah segelintir orang.

Ketua Asosiasi Kapal Wisata Selancar Sumatera Barat Aim Zein menyampaikan hal itu di Padang, Senin (19/10). Konferensi pers ini terkait kejadian dugaan pengusiran turis dan kapal wisata selancar secara kasar di salah satu resort di Pulau Pagai, Mentawai pada 9 Oktober.

Saat itu, sebuah kapal wisata selancar milik turis Australia menepi di resort tersebut. Tanpa diduga, warga setempat bersama pengelola resort datang dan meminta kapal meninggalkan area tersebut. Sempat terjadi perdebatan wisatawan dengan masyarakat. Saat perdebatan itu terjadi, sebuah tembakan peringatan diduga dilepaskan anggota polisi yang turut hadir. Hal itu akhirnya membuat pemilik kapal meninggalkan area dan melaporkan kejadian ke sejumlah pihak, termasuk Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Penembakan oleh anggota polisi dibantah Kepala Satuan Intel Kepolisian Resor Mentawai Inspektur Satu Zuheldi. Menurut dia, anggotanya melepaskan tembakan sudah sesuai prosedur. Keputusan itu diambil untuk menghentikan upaya warga hendak naik kapal wisata itu.

Saat ini, kata Aim, karena tidak diatur, semakin banyak bermunculan resort di Mentawai. Bahkan, ada yang merasa menguasai sepenuhnya area resort. Lalu dengan bebas menetapkan tarif bagi peselancar. "Eksklusivitas itu bisa berdampak pada hilangnya pengawasan terhadap aktivitas sehingga hal-hal buruk bisa terjadi," ujarnya.

Persoalan lain adalah perebutan area selancar di antara peselancar. Apalagi, pada April hingga November peselancar yang datang ke Mentawai mencapai sekitar 6.000 orang. Terbanyak dari luar negeri.

Saat ini, terdapat ratusan titik selancar tersebar di kepulauan itu, 73 titik di antaranya memiliki ombak terbaik dan sangat diminati wisatawan asing. Dua di antaranya masuk 10 tempat selancar terbaik dunia.

"Biasanya, peselancar yang datang ke Mentawai tak hanya yang profesional dan amatir, tetapi juga yang sekadar bermain-main dan tak berkontribusi apa pun bagi pendapatan asli daerah. Yang terakhir ini yang sering mengganggu sehingga seringkali terjadi perkelahian. Tentu itu sangat tak bagus," kata Aim. (ZAK)

Sumber: Kompas | 20 Oktober 2015

Berikan komentar.