TRP
Ancaman Gempa di Jakarta
20 Oktober 2015 \\ \\ 322

Data Sejarah Berperan Penting dalam Penelitian Kebumian

BANDUNG — Jakarta selama ini identik dengan bencana banjir. Kombinasi penurunan muka tanah, buruknya tata kelola air, dan tren kenaikan muka air laut menyebabkan banjir jadi tantangan terbesar kota ini. Ke depan, ibu kota negara ini mesti mewaspadai ancaman gempa besar sewaktu-waktu.

Riset terbaru menunjukkan, Pulau Jawa pernah dilanda gempa kuat dan merusak, salah satunya melanda Jakarta (dulu bernama Batavia) pada 1699. Gempa berkekuatan M (magnitudo) 8-M 9 itu sebelumnya luput dari perhatian, padahal kerusakan besar terjadi pada masa itu. Dibandingkan jumlah warga Jakarta yang kini mencapai 12,7 juta jiwa saat siang dengan gedung-gedung pencakar langit di tiap sudut kota, gempa sekuat itu bisa amat mematikan jika terjadi lagi.

Temuan gempa kuat yang pernah melanda Jakarta itu dipaparkan Phil R Cummins dari Research School of Earth Sciences, Australian National University and Geoscience Australia, dalam simposium internasional bertema "Bencana Kebumian dan Mitigasi Bencana", di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Senin (19/10). Sekitar 88 paper dipaparkan peneliti dari dalam dan luar negeri dalam dua hari ini.

"Daya guncang gempa Batavia (Jakarta) tahun 1699 lebih dari 7 MMI (Modified Mercalli Intensity). Kerusakan parah terjadi di Batavia dan sekitarnya," ucap Cummins. Skala MMI dipakai untuk mengukur kekuatan gempa. Skala MMI di atas 7 termasuk kuat dan merusak bangunan yang tak didesain tahan gempa.

Menurut Cummins, ada dua kemungkinan sumber gempa ini. Pertama, sumbernya ialah gempa berkekuatan M 9 di zona subduksi. Kemungkinan kedua, gempa terjadi di lengan lempeng (intraslab) berkekuatan M 8.

Data gempa besar di Jakarta itu dilacak dari dokumen Belanda, salah satunya katalog gempa Arthur Wichman. Katalog itu disusun Wichman untuk disertasinya di Royal Academy of Sciences in Amsterdam pada 1918.

Dalam katalog itu, Wichman menyebut gempa amat kuat dirasakan di Jakarta pada 5 Januari 1699 sekitar pukul 01.30, saat hujan lebat. Selain merobohkan banyak bangunan, gempa itu menyebabkan longsor besar di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak. "Banjir bandang berisi lumpur dan kayu memenuhi Sungai Ciliwung di Batavia, mengalir ke laut. Di mana-mana terjadi kehancuran," ujarnya.

Selain itu, gempa kuat tercatat terjadi di Jakarta pada 1780. Kekuatan gempa diperkirakan lebih dari 8 MMI. "Ada dua skenario penyebab gempa, yakni kekuatan M 7 bersumber Sesar Baribis atau bisa juga gempa M 8 dari interslab. Kemungkinan lebih besar dari Sesar Baribis karena sesuai observasi," ujarnya.

Selain itu, sejumlah gempa lain di masa lalu luput dari perhatian. Beberapa gempa besar itu adalah gempa di Bima dengan MMI > 8 pada 1820, gempa di Jawa Tengah dengan MMI > 7 kemungkinan bersumber di Sesar Muria-Progo, juga gempa tahun 1867 dengan MMI > 7.

Revisi peta gempa

"Amat penting memberi perhatian lebih pada potensi gempa besar di Jawa, terutama mengetahui periode keberulangan. Potensi gempa di Jakarta sepertinya jauh lebih besar dari perkiraan di peta gempa Indonesia yang disusun Tim 9," ucapnya.

Presentasi Cummins itu mengejutkan para peneliti kebumian yang hadir. Ahli gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang juga anggota Tim 9, Danny Hilman, mengatakan, "Kita perlu memberi perhatian lebih pada gempa di Jakarta ini. Kami tak memasukkan data gempa 1699 pada penyusunan peta gempa Indonesia karena saat itu belum ketemu datanya. Jika kini mau direvisi petanya, data ini seharusnya dimasukkan."

Mantan Kepala Badan Geologi Surono mengatakan, sulit membayangkan jika gempa sekuat itu kembali terjadi di Jakarta saat ini. Kehancuran bisa terjadi masif, apalagi tanah Jakarta tersusun dari endapan aluvial lunak sehingga amplifikasi guncangan gempa bisa amat tinggi.

"Hal yang juga jadi pertanyaan, gempa ini pasti pusatnya di selatan Jawa. Dulu mungkin data di kawasan selatan Jawa tak ada karena fokus pencatatan Belanda di Batavia. Jadi, kemungkinan terjadi kerusakan di selatan Jawa bisa lebih besar," ujarnya.

Kerentanan Jakarta kian tinggi dengan ada longsoran terpicu gempa, seperti tercatat di katalog Wichman. "Gempa 2009 terjadi terpisah di Sumatera Barat dan Jawa Barat, serta menimbulkan banyak korban karena tertimbun longsor akibat gempa. Itu bisa berulang jika gempa besar kembali terjadi di Jakarta," ujarnya.

Ahli gempa dari ITB Irwan Meilano menilai temuan Cummins itu menunjukkan pentingnya data sejarah pada riset kebumian. Apalagi, banyak zona kegempaan dan jalur sesar belum terpetakan secara rinci. (AIK)

Sumber: Kompas | 20 Oktober 2015

Berikan komentar.