TRP
Rebutan Lahan, 1 Tewas
20 Oktober 2015 \\ \\ 359

Hingga Oktober, Terjadi Tiga Kali Konflik di Mesuji

BANDAR LAMPUNG — Konflik antarwarga kembali terjadi di Register 45, Kecamatan Sungai Buaya, Kabupaten Mesuji, Lampung. Kali ini, pertikaian akibat rebutan lahan garapan seluas 6 hektar itu mengakibatkan seorang warga tewas.

Kabar tentang peristiwa yang terjadi pada Jumat (16/10) itu diterima Kompas dari Kepala Bidang Humas Polda Lampung Ajun Komisaris Besar Sulistyaningsih di Bandar Lampung, Jumat sekitar pukul 22.30. "Seorang warga bernama Suwan (55) tewas karena luka bacok di bagian kepala," katanya.

Pelaku penganiayaan, kata Sulis, diduga tiga orang yang masih memiliki hubungan keluarga, yaitu Smd (55), Rmh (18), dan Spr (24). Rmh adalah anak kandung Smd. Spr adalah menantu Smd.

Bentrokan itu, kata Sulis, bermula ketika empat pekerja lahan garapan milik Suwan didatangi Smd, Rmh, dan Spr. Ketiganya memarahi pekerja karena dianggap menggarap lahan yang bukan milik Suwan. "Seorang pekerja lantas menelepon Suwan. Saat tiba di lokasi, Suwan bertemu Smd, Rmh, dan Spr serta sempat terlibat cekcok yang berujung pengeroyokan hingga mengakibatkan Suwan tewas," kata Sulis.

Melihat korban tergeletak, ketiga pelaku melarikan diri. Polisi masih memburu ketiganya. Untuk mengantisipasi kemungkinan konflik meluas, Polda Lampung menyiagakan sejumlah personel Brimob di lokasi kejadian.

Berdasarkan catatan Kompas, sebelumnya paling tidak ada dua konflik yang terjadi di Mesuji tahun ini. Konflik pertama terjadi pada Juni lalu, satu orang tewas. Konflik kedua pada Juli 2015, satu orang tewas.

Program kemitraan

Konflik perebutan lahan di Register 45, Mesuji, disayangkan sejumlah pihak. Dua minggu lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggulirkan program kemitraan di kawasan hutan produksi itu.

Hendro Widjanarko dari Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah VI Lampung mengatakan, di Register 45, Sungai Buaya, terdapat tiga kelompok warga. "Ada masyarakat yang sudah lama diam di Desa Talang Batu dan Labuan Batin. Ada pula masyarakat yang datang dari Kelompok Moro-moro dan warga yang baru datang dari Kelompok Karya-karya. Hanya kelompok Karya-karya yang merespons positif program kemitraan kehutanan," katanya.

Hendro mengatakan, program kemitraan kehutanan bertujuan merestorasi hutan agar bisa berfungsi kembali secara ekologi, ekonomi, dan sosial serta memberikan akses masyarakat berpartisipasi dalam pengelolaan hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui program itu, masyarakat bersama pemegang izin usaha menanam pohon disertai tanaman tumpang sari.

"Hasil kayu dan tanaman tumpang sari dibagi sesuai kesepakatan. Perjanjian sudah dilakukan, tahap berikutnya verifikasi kelompok tani yang ikut kemitraan terkait identitas anggota dan lahan kemitraannya," ujarnya.

Menurut dosen Hukum Agraria Universitas Lampung, Tisnanta, pemerintah perlu meninjau kembali program kemitraan itu. "Sejauh mana warga yang ikut dalam program itu mengerti?" kata mantan anggota tim pencari fakta konflik Mesuji 2011 itu. (GER)

Sumber: Kompas | 18 Oktober 2015

Berikan komentar.