TRP
Jalur Kereta Ringan di Atas Jalan Arteri
20 Oktober 2015 \\ \\ 404

JAKARTA — PT Adhi Karya menyosialisasikan rencana pembangunan infrastruktur kereta ringan (light rail transit/LRT) rute Palmerah-Grogol kepada warga. Jalur dan stasiun kereta ringan itu akan dibangun secara bertahap setelah pembangunan rute utama di Cibubur-Cawang dan Bekasi Timur-Cawang selesai.

Sosialisasi pembangunan dan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) itu digelar di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Jumat (16/10). Acara dihadiri Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Wali Kota Jakarta Barat Yunus Burhan, Pelaksana Harian Manajer Proyek LRT PT Adhi Karya Endar Tri Prakoso, konsultan amdal dari Universitas Indonesia, warga, dan perwakilan dari Universitas Tarumanagara.

Sayangnya, hanya segelintir warga yang datang dalam pertemuan tersebut. Jumlah warga yang datang tidak lebih dari 10 orang. "Memang hanya sedikit sekali warga yang datang. Kemungkinan karena jaraknya terlalu jauh dengan rumah mereka. Tetapi, kami sudah menunjuk dua perwakilan dari lembaga musyawarah kelurahan (LMK)," kata Yunus Burhan, Jumat.

Menurut rencana, pembangunan infrastruktur LRT ini tidak memerlukan pembebasan lahan milik warga. Jalur kereta akan dibuat di atas jalan arteri dan jalan tol yang membentang dari Palmerah hingga Terminal Grogol. Menurut Endar, jarak untuk memasang tiang pancang hanya diperlukan sekitar 2 meter. Setelah tiang penyangga terpasang, PT Adhi Karya akan membuat jalur rel ganda selebar 8,5 meter. Tinggi tiang pancang diperkirakan 10-15 meter dari permukaan jalan. Di jalur sepanjang 5,5 kilometer dari Palmerah- Grogol itu, menurut rencana, akan ada dua stasiun, yaitu Stasiun Tomang dan Stasiun Grogol.

"Saat ini, detail engineering design (DED) proyek ini masih disusun. DED bisa berubah dan warga bisa mengusulkan perubahan itu," ujar Endar.

Saat ditanya mengenai target pembangunan di koridor, Endar mengaku skala prioritas pembangunan difokuskan pada dua koridor utama Cibubur-Cawang dan Bekasi Timur-Cawang. Proyek tersebut ditargetkan selesai Oktober 2017 untuk mendukung pelaksanaan Asian Games 2018. Setelah proyek itu selesai, penyelesaian proyek di koridor lain akan diselesaikan secara bertahap.

"Saat ini, kami sudah memiliki dana sekitar Rp 2,6 triliun untuk membangun proyek di koridor awal. Sesuai perjanjian dengan pemerintah, kami baru dibayar setelah pengerjaan pelintasan selesai dibangun," kata Endar.

Zaenal Abidin (52), Ketua LMK Kelurahan Kemanggisan, mengatakan, proyek ini diharapkan terealisasi untuk mengurangi kemacetan di area tersebut. Ia berharap masyarakat akan mau pindah ke moda transportasi umum ketika LRT beroperasi. Menurut dia, salah satu kawasan yang ramai dilalui pekerja adalah Slipi Jaya. Kawasan itu menjadi tempat transit warga yang bekerja di Dukuh Atas, Puri Indah, dan sebagainya.

"Setiap pagi hingga sore, kami disuguhi kemacetan lalu lintas yang semakin parah sehingga warga asli enggan keluar rumah. Semoga proyek ini bisa mengurai kemacetan," kata Abidin.

Dampak lingkungan

Setelah pertemuan ini, tiga bulan ke depan warga akan diajak untuk membahas mengenai amdal di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Saleh Abas, konsultan dari PT Lemtek Universitas Indonesia, menuturkan, sosialisasi amdal akan membahas mengenai dampak yang ditimbulkan akibat pembangunan prasarana LRT, seperti kemacetan, kebisingan, kesehatan masyarakat, lalu lintas, dan kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.

"Ini masih pengurusan amdal pada tahap awal. Izin belum keluar dan kami baru melakukan sosialisasi kepada warga sekitar," ujar Saleh.

Selama pengerjaan proyek, PT Adhi Karya berusaha untuk meminimalkan gangguan pembangunan. (DEA)

Sumber: Kompas | 17 Oktober 2015

Berikan komentar.