TRP
Kaum Muda Perlu Dilibatkan Cari Solusi
20 Oktober 2015 \\ \\ 282

JAKARTA — Penanganan berbagai masalah perkotaan yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan kaum muda. Selain menjadi bagian dari kota, kaum muda diharapkan dapat mencari solusi menghadapi masalah perkotaan menjadi peluang.

Untuk itulah kaum muda akan berkumpul membahas masalah perkotaan pada Asia-Pacific Urban Youth Assembly (APUFY) yang diselenggarakan hari ini dan besok, 18 Oktober, di Jakarta.

"Urbanisasi akan terus terjadi, tidak bisa kita hindari. Kalau bisa dikelola, urbanisasi justru akan bermanfaat, ada peluang ekonomi, sosial, pendidikan. Melalui pertemuan itu, kaum muda bisa menyampaikan pendapatnya tentang penanganan masalah perkotaan," kata Direktur Keterpaduan Infrastruktur Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dwityo A Soeranto, Jumat (16/10), di Jakarta.

Berdasarkan Revision of World Urbanization Prospects 2014 yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan meningkat pesat. Pada 1950, jumlah penduduk perkotaan sebanyak 746 juta jiwa naik menjadi 3,9 miliar pada 2014. Saat ini, sekitar 54 persen penduduk tinggal di perkotaan dan akan meningkat menjadi 66 persen pada 2050.

APUFY merupakan forum bagi kaum muda untuk ikut mencari solusi terhadap berbagai permasalahan perkotaan. Akan ada 300 peserta dari negara-negara di Asia-Pasifik yang berkumpul. Forum tersebut akan disusul dengan pertemuan Asia Pasific Urban Forum 6 (19-21 Oktober) dan diakhiri dengan pertemuan Asia Pasific HighLevel Regional (21-22 Oktober).

"Banjir informasi membuat warga perkotaan menjadi mudah mengeluh atau menyalahkan, lewat media sosial misalnya. Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Anak muda bisa menjadi bagian dari solusi," kata aktivis Melanie Tedja.

Menurut Melanie, persoalan perkotaan berkaitan erat dengan ketersediaan infrastruktur. Namun, perbaikan infrastruktur memerlukan waktu. Di dalam proses perbaikan itu, kaum muda bisa ikut mencari jalan keluar karena pada akhirnya merekalah yang menghuni kota.

Pakar perkotaan Bernadia Irawati mengatakan, masalah urbanisasi, seperti kemacetan, yang dihadapi setiap kota di dunia mesti dipandang sebagai kesempatan. Kemunculan transportasi berbasis aplikasi di telepon pintar merupakan salah satu bentuk terobosan dalam menghadapi masalah perkotaan. Namun, Bernadia mengingatkan, meskipun persaingan di perkotaan sangat tinggi, penyelesaian masalah perkotaan justru memerlukan kerja sama dari warganya.

Kasubdit Pemantauan dan Evaluasi Direktorat Keterpaduan Infrastruktur Permukiman Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR Joerni Makmoerniati mengatakan, tahun ini, hal yang penting adalah meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi. (NAD)

Sumber: Kompas | 17 Oktober 2015 | PENATAAN PERKOTAAN

Berikan komentar.