TRP
Kampung Bisa Jadi Solusi Penataan
13 Oktober 2015 \\ \\ 407

Pembenahan kampung-kampung di Jakarta dan membangun institusi sosial agar menjadi lingkungan yang lebih baik merupakan kebutuhan sekaligus solusi penataan kota. Kampung sudah menjadi bagian dari perkembangan Jakarta sejak beratus tahun silam. Saat pembangunan yang mengatasnamakan penataan kota gencar dilakukan, tidak seharusnya kawasan-kawasan permukiman, tempat sebagian warga hidup, tercerabut.

Kepala Program Magister Konsentrasi Pendidikan Real Estate dan Kota Universitas Tarumanagara Suryadi Santoso mengatakan, kampung yang ditelantarkan sejak zaman Belanda bisa menjadi kantong sumber daya manusia yang berkualitas sekaligus menyelesaikan masalah kemiskinan kota.

"Masa depan kota kita bergantung pada seberapa cerdas kita bisa membenahi kampung menjadi lingkungan yang lebih baik sekaligus membangun institusi sosial. Tujuannya agar masyarakat yang tinggal di kampung bisa lebih bermutu. Inilah awal sekaligus akhir masa depan kota-kota di Indonesia seperti Jakarta," kata Suryadi, yang biasa dipanggil Jo Santoso, Jumat (9/10) malam, dalam diskusi di Goethe Institute.

Warga di kampung, menurut Jo, memiliki jiwa usaha yang tinggi dan mandiri. Mereka juga efektif memanfaatkan lahan yang relatif sempit. Di sejumlah kampung, seperti Rawabelong, Jakarta Barat, konsep kota hijau sudah diterapkan.

Sebagian besar pasar-pasar tradisional juga menjadi hilir untuk penjualan produk lokal. Di sinilah keterkaitan antara kota dan desa yang menjadi produsen sayur-mayur dan bahan kebutuhan masyarakat. Selain urusan ekonomi, Jo juga melihat pasar sebagai tempat multikultural bersemi. Sekat perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan pupus di pasar.

Kampung dan pasar inilah yang mesti dibenahi bukan dengan menghilangkannya begitu saja. Di sisi lain, Jo menekankan peran pemerintah untuk memberikan pendampingan dan pendidikan kepada warganya agar bisa hidup lebih layak. Kampung yang tertata baik justru bisa menjadi identitas positif sebuah kota. "Jangan sampai kota hanya berpihak pada warga yang bisa membangun gedung 40-50 lantai. Mereka yang tinggal di kampung-kampung juga harus diperlakukan sama," katanya.

Basis data

Wartawan Kompas, Ahmad Arif, yang juga menjadi pembicara dalam diskusi tersebut, menyatakan pentingnya basis data untuk pengambilan keputusan terkait kebijakan pembangunan kota.

"Selama ini, banyak keputusan diambil berdasarkan asumsi atau kepentingan politik elite semata. Idealnya, ada data yang kuat sebelum kebijakan diambil. Selain itu, penting juga dibuka pertimbangan untung-rugi serta risiko sebuah rencana seperti dalam rencana pembangunan tanggul laut dan penggusuran warga Kampung Pulo," katanya.

Terkait kepemimpinan di kota seperti Jakarta, Chairman Jakarta Consulting Group AB Susanto mengatakan, pemimpin di kota harus bisa mengatasi pelbagai persoalan yang kompleks.

Ada beberapa sikap, menurut Susanto, yang bisa dilakukan pemimpin tanpa melukai orang lain. Sikap ini, antara lain menggunakan tangan besi, tetapi memakai sarung tangan agar saat melakukan sesuatu dia tegas tetapi tidak melukai orang lain. Begitu juga karakter lain, seperti karakter kuat tetapi tidak kasar, halus tetapi tidak lemah, tegas tetapi tidak kejam, rendah hati tetapi tidak rendah diri, banyak pertimbangan tetapi tidak lamban, dan elegan tetapi tidak arogan. (art)

Sumber: Kompas | 12 Oktober 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.