TRP
Optimalkan Ruang Bawah Tanah
13 Oktober 2015 \\ \\ 415

Presiden Tinjau Pengeboran Terowongan MRT

JAKARTA — Pemerintah akan memaksimalkan ruang bawah tanah untuk pengembangan transportasi massal. Langkah ini akan diterapkan di kota-kota besar di Indonesia. Pemerintah sedang menyiapkan aturan baru, baik yang melibatkan pemerintah pusat maupun daerah.

Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo saat meninjau aktivitas pengeboran jalur dalam tanah angkutan massal cepat (MRT), Kamis (8/10), di Tugu Pemuda, Jakarta. Menurut Presiden, pemanfaatan ruang bawah tanah tersebut membutuhkan regulasi baru karena belum banyak dilakukan.

"Saya kira pemanfaatan ruang bawah tanah akan sangat banyak di kota-kota besar," kata Joko Widodo di lokasi pengeboran jalur MRT, kemarin.

Presiden berpandangan, proyek MRT yang memanfaatkan ruang bawah tanah merupakan babak baru dunia transportasi massal. Proyek yang dianggap sebagai tonggak sejarah transportasi nasional itu, menurut Jokowi, mesti dikontrol terus pelaksanaannya.

"Sekali lagi, proyek ini sejarah. Saya ingin pekerjaan jalur MRT di dalam tanah betul-betul tidak ada masalah," kata Joko Widodo.

Proyek tahap pertama koridor utara selatan Lebak Bulus-Bundaran HI itu sekaligus menjadi tempat berlangsungnya transfer pengetahuan dan teknologi bagi tenaga ahli Indonesia. Teknologi pembuatan terowongan yang dilanjutkan dengan pembangunan dinding terowongan, kata Jokowi, merupakan hal baru di Indonesia.

Per Kamis kemarin, jalur yang sudah dibor dalam tanah mencapai 12 meter dari titik awal di dekat Patung Pemuda Senayan. Pengeboran rata-rata hingga 2016 diperkirakan 8 meter per hari.

Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami mengatakan, rencana kunjungan Presiden Joko Widodo ke lokasi pengeboran baru disampaikan sehari sebelumnya. Meski demikian, PT MRT berkomitmen untuk menjelaskan perkembangan tahapan proyek. Pengeboran di awal pelaksanaan, kata Boestami, memang tidak mudah. Perlu ada penyetelan mesin bor sehingga sesuai dengan jenis tanah.

"Rata-rata pengeboran di awal pelaksanaan hanya akan mencapai 1 meter hingga 2 meter per hari. Tetapi, secara bertahap pengeboran akan berlangsung lebih cepat," kata Boestami.

Jalur MRT tersebut, menurut rencana, berada pada kedalaman tanah rata-rata 20-22 meter. Kedalaman jalur akan semakin bertambah ketika melintas di bawah Kanal Barat di Dukuh Atas. Menurut Boestami, posisi stasiun di kawasan itu berada pada kedalaman 33 meter.

Sesuai jadwal

Pembangunan MRT fase pertama, yakni Lebak Bulus-Bundaran HI, berjalan sesuai dengan jadwal. Pemerintah menyiapkan fase kedua serta koridor timur-barat agar pekerjaan bisa ditempuh simultan hingga beberapa tahun mendatang.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang mendampingi Presiden meninjau pengeboran jalur MRT bawah tanah menyatakan, kecuali pembebasan lahan di beberapa titik di Jakarta Selatan, proses lain berjalan sesuai dengan jadwal. Diharapkan, lahan yang dibutuhkan bisa segera bebas sehingga fase pertama selesai pada 2018.

Pada saat yang sama, kata Basuki, PT MRT Jakarta menyiapkan pembangunan fase kedua, yakni di ruas Bundaran HI-Kampung Bandan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengantisipasi pembangunan MRT koridor timur-barat yang direncanakan menghubungkan Cikarang dan Balaraja.

"Fase kedua selatan-utara (Bundaran HI-Kampung Bandan) relatif lebih sedikit hambatan. Kami optimistis. Khusus koridor timur-barat, kami mengantisipasi kemacetan akibat pembangunannya dengan menyelesaikan Tol Dalam Kota Semanan-Sunter dan Sunter-Pulogebang," kata Basuki.

Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Selatan membongkar bangunan ruko di Jalan Fatmawati Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis. Lahan tersebut akan dipakai untuk fasilitas terkait MRT.

"Kami sudah membayar ganti rugi pembebasan lahan. Atas izin pemilik bangunan, hari ini pembongkaran dilakukan," kata Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi.

Pembongkaran dilakukan di atas lahan seluas 507 meter persegi di perempatan Jalan Fatmawati Raya. Lahan tersebut akan dipakai untuk membangun jembatan khusus yang menghubungkan Jalan RA Kartini dengan Jalan Fatmawati Raya. (NDY/MKN/DNA/B03)

Sumber: Kompas | 9 Oktober 2015

Berikan komentar.