TRP
Dukungan dan Harapan untuk Bus Transjabodetabek
13 Oktober 2015 \\ \\ 252

Keberadaan bus transjabodetabek yang baru saja dioperasikan harus terus disosialisasikan. Dukungan warga Ibu Kota besar terhadap peran bus antarkota yang juga menjadi pengumpan transjakarta ini. Mereka optimistis layanan bus transjabodetabek bisa semakin baik dan mampu berkontribusi mengurangi kemacetan di Jakarta dan sekitarnya.

Pada akhir Agustus lalu, tiga koridor bus transjabodetabek resmi dioperasikan. Ketiga koridor ini menghubungkan wilayah Depok, Tangerang, dan Bekasi dengan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. Sementara itu, bus transjabodetabek rute Ciputat, Tangerang Selatan-Blok M, Jakarta Selatan, sudah hilir mudik mengangkut penumpang sejak setahun lalu.

Bus-bus yang merupakan hibah dari Kementerian Perhubungan ini berfungsi membantu moda pengumpan bus transjakarta dari wilayah Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi yang selama ini ditopang angkutan perbatasan terintegrasi busway (APTB).

Kendaraan-kendaraan yang dioperasikan Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) ini menggunakan jalur biasa saat berada di luar wilayah DKI Jakarta. Namun, mereka wajib masuk jalur bus transjakarta di wilayah Ibu Kota dan berhenti di setiap halte bus transjakarta. Dengan demikian, waktu tunggu penumpang di halte-halte bus transjakarta bisa dipangkas dan tak perlu menambah armada bus transjakarta lagi. Efek lain, keberadaan APTB nanti bisa dihapus.

Namun, hasil survei jajak pendapat Kompas, awal September lalu, menyebutkan, bus transjabodetabek hanya dikenal oleh separuh warga Jabodetabek (53,5 persen), khususnya warga Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang memang saat ini dilewati bus berwarna biru tersebut.

Mahal

Kurangnya sosialisasi bisa jadi berimbas pada sepinya penumpang, termasuk bus rute Ciputat-Blok M yang telah beroperasi sejak setahun lalu. Menurut catatan Kompas, saat jam berangkat dan pulang kerja, penumpang yang dilayani bus Koridor I tersebut 30-50 orang per bus. Padahal, kapasitas bus mencapai 70 orang. Bus yang melewati rute Harapan Indah, Bekasi-Kemayoran, Jakarta Pusat, rata-rata hanya mengangkut 10-12 penumpang per hari.

Mayoritas responden (52,3 persen) justru menganggap kereta komuter lebih cepat untuk menghubungkan wilayah Jakarta dan sekitarnya. Tarifnya pun murah, untuk 25 kilometer pertama cukup membayar Rp 2.000 dan Rp 1.000 untuk setiap 10 km berikutnya. Selain kereta, 28,2 persen responden lebih memilih kendaraan pribadi untuk mobilitas mereka.

Selain itu, hampir 30 persen responden menilai harga tiket transjabodetabek mahal. "Kalau Rp 9.000 untuk sehari-hari, sih, mahal. Tapi, kalau untuk sesekali naik seperti saya, ya, enggak mahal," kata salah seorang responden, Lisa (42), ibu rumah tangga yang tinggal di Pondok Ungu, Bekasi.

Sebelum ada bus transjabodetabek, warga Harapan Indah memanfaatkan bus transjakarta jurusan Pulogadung-Harapan Indah dengan tarif Rp 3.500. Setelah ada bus transjabodetabek, penumpang yang berangkat dari Harapan Indah harus membayar Rp 9.000.

Hanya dua dari lima responden yang menilai tarif bus yang berkisar Rp 8.000-Rp 10.000 ini cukup wajar. Menurut kelompok ini, angka itu sudah layak untuk biaya transportasi dari wilayah pinggiran ke DKI Jakarta.

Dukungan besar

Meski demikian, dukungan warga untuk bus transjabodetabek besar. Tujuh dari 10 responden meyakini jika bus pengumpan ini bisa terintegrasi baik dengan bus transjakarta pada masa mendatang. Bus yang dilengkapi dengan GPS dan kamera pemantau ini diharapkan bisa menguatkan keberadaan APTB yang sudah beroperasi.

Kehadiran bus transjabodetabek juga diyakini oleh separuh responden menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di masa mendatang. Setidaknya bisa memengaruhi para komuter yang selama ini masih menggunakan kendaraan pribadi untuk berpindah ke bus transjabodetabek.

Di sisi lain, pemerintah juga terus berupaya melakukan pembenahan. Respons terhadap tarif yang dinilai mahal oleh sebagian responden salah satunya. Pihak PPD saat ini sedang mengkaji penyesuaian tarif dengan memperhitungkan jarak, bahan bakar, dan biaya operasional.

Perbaikan yang disempurnakan dengan dukungan publik akan menjadikan layanan bus transjabodetabek kepada warga Ibu Kota dan sekitarnya lebih baik di masa mendatang. (M Puteri RosalinaLitbang Kompas)

Sumber: Kompas | 7 Oktober 2015

Berikan komentar.