TRP
Menata Kota Lewat Seruan Kantong, Lorong, hingga Bank Sampah
13 Oktober 2015 \\ \\ 595

Lebih dari setahun terakhir, Kota Makassar berdandan. Wajah kota yang dahulu terkesan kotor, semrawut, dan kumuh kini terlihat lebih cantik, berseri, karena bersih dan tertata dengan baik. Pemerintah Kota Makassar serius menata kotanya, tak hanya membuat program. Akan tetapi, mereka mencari solusi dan melengkapi fasilitas untuk menunjang semua program yang diluncurkan.

Itu terjadi karena hampir setahun ini, siswa sekolah dasar, menengah, dan atas peduli dengan sampah. Melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan, mereka membuat gebrakan melalui gerakan "Aku dan Sekolahku Tidak Rantasa" dan "Program 9 dan 9".

Rantasa dalam bahasa Makassar berarti kotor, sedangkan Program 9 dan 9 adalah program bagi para siswa di sekolah-sekolah di mana pada tanggal 9 setiap bulan, tepat pada pukul 09.00 mereka diminta keluar kelas untuk membersihkan lingkungan sekolahnya. Setelah itu mereka masuk ke kelas dan belajar kembali.

Tak hanya kepada anak didik, Dinas Kebersihan dan Pertamanan juga merangkul masyarakat melalui pendekatan komunitas. Mereka membangun dan membina Lorong Garden (Longgar) serta menghidupkan Bank Sampah. Juga, meluncurkan program Lihat Sampah Ambil (Lisa) serta Perahu Angkat dan Angkut Sampah di Pesisir Pantai (Pattasaki). Pattasa dalam bahasa Makassar berarti kondisi tidak bersih atau berantakan.

Semua kegiatan ini menyatu dalam program besar, yakni Kota Makassar Tidak Rantasa (kotor). Adanya program tersebut dapat mereduksi 30 persen dari 800 ton sampah per hari yang dibuang ke TPA Tamangapa.

"Sampah yang selama ini menjijikkan adalah sumber daya baru dan sumber pendapatan jika dikelola. Berbicara soal sampah itu menyangkut kebudayaan. Makanya, kita harus membangun kebudayaan sampah yang baik," kata Wali Kota Makassar M Ramdhan Pomanto di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional Bank Sampah di Hotel Grand Clarion, Makassar, Rabu (16/9).

Rapat yang ketiga kali diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berlangsung sejak Rabu (16/9) dan berakhir keesokan harinya. Rapat bertemakan "Pengembangan Bank Sampah Sistem Online" ini dihadiri 450 pegiat bank sampah se-Indonesia, sejumlah wali kota, pimpinan dinas kebersihan serta badan pengelolaan lingkungan hidup daerah di kota dan kabupaten.

Menyadari hal itu, Pemerintah Kota Makassar di bawah pimpinan seorang arsitek (akademisi dan profesional) ini menyatakan perang dengan sampah.

"Sebelumnya memang Kota Makassar kotor karena sampah tak terangkut. Namun, sekarang kota mulai bersih dan tertata," ujar Wali Kota kepada Kompas.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Kota Makassar terus meningkat. Tahun 2013 tercatat 1,3 juta jiwa dan meningkat menjadi 1,7 juta jiwa tahun 2014. Dalam sehari, volume sampah yang terangkut oleh 447 truk sampah milik Dinas Kebersihan dan Pertamanan sebanyak 700-800 ton. Jumlah itu belum termasuk yang diolah masyarakat melalui bank sampah sebanyak 800 ton per tahun dan lainnya (yang masih dibakar dan sebagainya).

Dahulu sebagian besar sampah tidak terangkut. Akan tetapi, saat ini sampah tidak lagi menjadi momok bagi masyarakat dan pemerintah. Malah sebaliknya, kota tertata menjadi mulai bersih, hijau, asri, sehat, dan rapi.

Kota Makassar yang selama ini kotor dan semrawut bisa menjadi kota bersih dan tertata. Masyarakat sehat dan sejahtera. Tujuan akhir dari semua itu adalah menjadikan Makassar sebagai Kota Cerdas yang layak huni, kunjungi, dan berinvestasi dengan masyarakatnya yang cerdas.

Tak mau jadi kota mati

Mengusung prinsip bahwa kota ibarat manusia, Ramdhan yang sering dipanggil Danny itu melibatkan masyarakat dalam berperang dengan sampah.

Bahwa manusia memiliki dua unsur penting dalam tubuhnya, yakni sel dan otak. Sel dan otak manusia harus tetap sehat. Dua unsur hidup ini harus dijaga agar tidak sakit, apalagi mati.

Hal sama terjadi dalam menata suatu kota. Sel diibaratkan sebagai masyarakat dan otak adalah pemerintah kota. Antara sel dan otak harus saling melengkapi dan terus dijaga agar selalu sehat atau tidak sakit, apalagi mati.

"Kalau selnya sakit atau mati, kotanya itu akan sakit atau mati. Prinsip kami bagaimana kota ini harus tetap sehat dan hidup," ujar Danny.

Salah satu program adalah menggerakkan siswa sekolah melalui program "Aku dan Sekolahku Tidak Rantasa" dan "Program 9 dan 9". Dalam program ini, pemerintah kota melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan terus menggerakkan siswa dan siswi setiap sekolah peduli dengan sampah dan penghijauan.

Dalam program ini mereka membangun sekolah adiwiyata di mana sekolah membuat green house, menanam pohon di halaman sekolah, mengadakan sampah daur ulang, dan memilah sampah.

Sampah yang dipilah dan dikumpulkan selanjutnya dijual kepada pengepul melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan. "Harapannya, lewat anak sekolah ini, kami menanamkan peduli sampah sejak dini," jelas Danny.

Selain melibatkan anak sekolah, pemerintah juga merangkul komunitas yang terbentuk dari lorong (Longgar). Komunitas ini menata kampungnya dengan menjaga kebersihan setiap lorong, dan warga dilibatkan menanam pohon dan tanaman hortikultura.

Kepada Kompas saat menyertai Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tuti Mintarsih di Kelurahan Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini, Nurhayati (45), warga sekitar, mengatakan, pada saat awal program penanaman pohon dan bunga, hanya sebagian kecil warga yang peduli. Namun, setelah jenis tanaman diubah menjadi sayuran dan buah-buahan, semakin banyak warga yang tertarik menanam di halaman, tembok halaman dan luar rumah, serta pinggir jalan.

Mereka menanam di bekas kemasan botol air mineral dan minuman lain, galon, ember bekas, wastafel, dan polybag.

"Kalau tanamannya sayuran, setiap kita membutuhkan sayuran, langsung saja petik di pot," kata Nurhayati yang sudah hampir dua tahun memanfaatkan bekas sampah menjadi tempat tanaman, Rabu (17/9).

"Jika panen melimpah, kami menjual kepada warga tetangga. Hasilnya untuk kas RT dan RW," tambah Nurhayati, warga asal Toraja.

Lurah Kassi-Kassi, Bintang Haris, mengatakan, di kelurahan ini terdapat 81 RT di 14 RW. Sebagian besar warga sudah dan baru memulai program Longgar tersebut. "Tidak hanya di tempat ini, sudah banyak kelurahan lain yang membangun kawasan hijau dan tertata seperti ini. Akan tetapi, di tempat ini lengkap karena sudah terbangun PAUD dan posyandu," jelas Bintang.

Tak hanya di kelurahan itu, di Kota Makassar terdapat 1.700 lorong yang tersebar di 14 kecamatan dan 143 kelurahan. Sekitar 94.600 dari 1,7 juta penduduknya masuk kategori miskin. Mereka tersebar di lorong atau gang.

Dalam "gencatan senjata" atas sampah, hingga kini Dinas Kebersihan dan Pertamanan sudah membina serta mendampingi 112 bank sampah dan satu bank sampah induk. Total anggota yang ada 4.000 anggota. Danny menargetkan, sampai akhir tahun ini terbangun 333 bank sampah.

"Dari hasil pengolahan bank sampah, dapat dihasilkan omzet Rp 500 juta per tahun," jelas Danny.

Kepala UPTD Pengelolaan Daur Ulang Sampah sekaligus Kepala Bank Sampah Induk, Jaya Perkasa Alay, mengatakan, ke depan diharapkan setiap kelurahan minimal memiliki dua bank sampah. "Sampai saat ini realisasi dari 333 bank sampah ini sudah mencapai 146 bank sampah, termasuk yang sedang dibangun dan siap dioperasikan," jelas Jaya.

Lisa dan Pattasaki

Salah satu program yang sangat populer di Kota Makassar adalah Lihat Sampah Ambil (Lisa). Ajakan ini untuk semua orang, tanpa ada pengecualian.

Terkait program tersebut, Pemerintah Kota Makassar sudah memesan 2 juta kantong sampah yang dalam waktu dekat akan datang. Kantong sampah ini akan disebar ke seluruh titik se-Kota Makassar.

Tak hanya di kawasan perkotaan, penanganan sampah di kawasan pesisir pun dilirik, yaitu dengan program kapal (tradisional) untuk angkat dan angkut sampah di pesisir (Pattasaki). Sesuai artinya, kotor atau kondisi yang tidak bersih dan berantakan, kapal ini akan membersihkan sampah di pesisir dan pulau-pulau yang ada di Kota Makassar.

"Khusus untuk Pulau Lae-Lae, Kecamatan Ujung Pandang, ada satu kapal yang membersihkan sampah di pesisir sekitar pulau ini. Kapal ini sekaligus mengangkut sampah dari bank sampah di sini," kata Camat Ujung Pandang Azhar Anwar kepada Kompas di Pulau Lae-Lae.

Terlepas dari semua itu, ketegasan Wali Kota dengan segala perubahan yang ditawarkan telah menyentuh kesadaran masyarakat untuk peduli kebersihan di lingkungannya.

"Dulu, kami tidak peduli dan membuang sampah sembarangan. Namun, sekarang kami malu kalau membuang sampah tidak di kantong sampah. Lebih baik sampah itu disimpan dalam tas dan dibuang setelah ketemu kantong sampah," kata Yulianti (25), pegawai di toko cendera mata di Jalan Somba Opu, Makassar.

Dalam pantauan Kompas, wajah Kota Makassar memang lebih bersih dan sedikit tertata dibandingkan pada kunjungan awal Januari lalu. Mata terpukau melihat Lorong Garden di Kelurahan Kassi-Kassi yang asri, hijau, kinclong, dan tertata rapi.

Pemerintah konsisten menjadikan kotanya bersih dan indah dipandang. Karena itu, mereka melengkapi sarana dan prasarana untuk mendukung semua program tersebut.

Sebagai contoh, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makassar membangun Bank Sampah Pusat di dekat Pasar Toddopulli dan diresmikan pada 6 Juli 2015. Di tempat ini, anggota bisa menukar sampah yang sudah dipilah atau dicincang dengan beras bantuan dari Pemerintah Kota Makassar. Di tempat ini anggota juga dapat menabung.

Selain itu, Dinas Kebersihan dan Pertamanan menyediakan mobil sampah yang diberi nama mobil Tangkasa Rong (Tabungan Bank Sampah Anak Lorong). Mobil yang memiliki bak tertutup ini selalu berpatroli mengangkut sampah dari satu bank sampah ke bank sampah lain. Mobil ini juga mengangkut sampah dari jalanan, kawasan permukiman dan perumahan, perkantoran, pasar, dan lainnya.

Disediakan juga mobil beras yang menyalurkan beras bantuan ke setiap bank sampah. Beras itu sebagai modal untuk bank sampah yang diberikan kepada nasabah.

Ada pula bantuan kapal angkut dan angkat sampah di pesisir laut/pantai. Kapal yang sudah beroperasi adalah di Pulau Lae-Lae.

Tak hanya memberikan solusi pengurangan jumlah sampah dan penataan kawasan hijau dan bersih, pemerintah kota menerapkan sanksi yang membuat masyarakat, termasuk pegawainya, tidak berani membuang sampah sembarangan. "Buang sampah sembarangan didenda Rp 1 juta," kata Chaerul (38), pengemudi angkutan kota di Kota Makassar.

Gendang perang sudah ditabuh, warga sangat mendukung. Pemerintah jangan setengah hati menegakkan aturan agar Kota Makassar bersih dari sampah, sampah masyarakat, dan korupsi. Mantan Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim mengatakan, langkah yang diambil Pemerintah Kota Makassar sebaiknya ditiru oleh wali kota, bupati, dan gubernur di seluruh Indonesia untuk mencapai negara bebas sampah. Regulasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan melengkapi semangat menabuh perang atas sampah.

Sumber: Kompas | 7 Oktober 2015

Berikan komentar.