TRP
Jalan Berwawasan Lingkungan
13 Oktober 2015 \\ \\ 337

Saatnya Unsur Manusia dan Keberlanjutan Ikut Diperhitungkan

BANDUNG — Pembangunan infrastruktur jalan di perkotaan diharapkan mampu mengembangkan kualitas manusia dan lingkungan di sekitar. Hanya menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi, keberadaan jalan rentan memicu beragam masalah di kemudian hari.

Hal itu terungkap dalam seminar nasional bertajuk "Optimalisasi Fungsi Jalan Perkotaan untuk Mewujudkan Jalan yang Berkelanjutan" di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (6/10). Acara ini diinisiasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Seminar menghadirkan tiga narasumber utama. Mereka adalah Direktur Jalan Bebas Hambatan, Perkotaan, dan Fasilitasi Jalan Daerah di Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Subagyo, Chief Executive Officer of Road Engineering Asia and Australasia Association Gandhi Harahap, dan Guru Besar Teknik Transportasi dari Institut Teknologi Bandung Ade Sjafrudin.

Dalam makalahnya, Subagyo mengingatkan beragam masalah rentan muncul apabila pembangunan jalan hanya menitikberatkan pada peningkatan pertumbuhan ekonomi. Potensi kecelakaan lalu lintas dan pejalan kaki, meningkatnya kadar emisi gas buang, buruknya drainase, serta melupakan trotoar yang responsif terhadap masalah jender berpotensi terjadi seiring dengan munculnya pembangunan jalan.

Oleh karena itu, menurut Subagyo, sudah saatnya kota-kota di Indonesia memasukkan unsur humanis dan berkelanjutan dalam pembangunan jalan. Kedua unsur tersebut diyakini bisa meningkatkan dan menjamin kualitas lingkungan dan manusia di sekitarnya.

Unsur humanis, menurut Subagyo, bisa diraih melalui beberapa cara, di antaranya menegaskan area pemisahan pengguna kendaraan dan pejalan kaki, serta pemasangan marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas yang baik dan benar. Adapun unsur berkelanjutan bisa diterapkan saat mempertimbangkan potensi bencana, serta menanam pohon di sekitar jalan guna mengurangi emisi gas buang.

"Kami berharap pembangunan jalan dengan konsep berkelanjutan dan humanis ini bisa ikut membangun kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik," kata Subagyo.

Keselamatan utama

Gandhi Harahap mengatakan, pembangunan jalan tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan manusia di sekitarnya. Keselamatan manusia harus menjadi hal utama dalam setiap pembangunan jalan.

Menurut Gandhi, hal tersebut dapat dimulai dengan menjamin pembangunan jalan berkualitas. Apabila ruas jalan selalu rusak dan diperbaiki, ia khawatir hanya mengganggu kenyamanan hingga mengancam nyawa pengguna jalan. Pembangunan trotoar yang ideal juga tidak boleh dilupakan. Saat membangun jalan, fasilitas jalur pedestrian tidak dapat dikorbankan begitu saja.

"Di tengah tingginya mobilitas manusia di lahan yang semakin sempit, keselamatan manusia harus mendapatkan perhatian besar," kata Gandhi.

Sementara itu, Ade Sjafrudin menyoroti sejumlah masalah yang terjadi dalam dunia transportasi Indonesia. Selain fokus meminimalkan dampak pertumbuhan kendaraan pribadi yang tidak seimbang dengan ketersediaan jaringan transportasi, Ade mengatakan bahwa perawatan terhadap jaringan jalan juga rentan terlupakan.

Menurut Ade, perhatian pada infrastruktur jalan tidak cukup dilakukan saat selesai mendesain dan membangun. Perawatan dan pemeliharaan harus mendapat perhatian penting.

"Pemerintah harus menganggap keberadaan jalan sebagai aset penting. Keberadaan jalan yang baik berpotensi memberikan perbaikan kesejahteraan dan kehidupan masyarakat yang lebih baik di segala bidang," katanya. (CHE)

Sumber: Kompas | 7 Oktober 2015

Berikan komentar.