TRP
Gunung Sewu, Daya Tarik Baru
02 Oktober 2015 \\ \\ 401

Pegunungan Karst di Pacitan, Wonogiri, dan Gunung Kidul

YOGYAKARTA — Kawasan Geopark Gunung Sewu berpotensi menjadi daya tarik pariwisata baru setelah ditetapkan menjadi geopark atau taman bumi dunia. Untuk memaksimalkan potensi itu, pemerintah daerah akan bersama-sama melakukan promosi sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar menjadi kelompok sadar wisata.

Gunung Sewu membentang di tiga provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Geopark Gunung Sewu akan difungsikan sebagai sarana edukasi, konservasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan pariwisata. Kawasan ini bisa dikembangkan jadi obyek wisata geologi," kata Sekretaris Komite Geopark Gunung Sewu Hary Sukmono, saat dihubungi dari Yogyakarta, Rabu (30/9).

Taman bumi adalah konsep pembangunan kawasan yang memadukan konservasi, edukasi, dan pengembangan sosial ekonomi masyarakat. Konsep yang diperkenalkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNESCO) itu memadukan unsur geologi, biologi, dan budaya. Ada 120 taman bumi di 33 negara yang ditetapkan UNESCO menjadi anggota Jaringan Taman Bumi Global (Global Geopark Network/GGN).

Geopark Gunung Sewu ditetapkan sebagai anggota GGN pada 19 September 2015 dalam acara Asia-Pacific Geoparks Network Symposium di Jepang. Satu taman bumi lain di Indonesia yang menjadi anggota GGN adalah Gunung Batur di Bali.

Kawasan Gunung Sewu merupakan pegunungan karst yang membentang dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur; Wonogiri, Jawa Tengah; hingga Gunung Kidul, DIY. Kawasan seluas 1.802 kilometer persegi itu memiliki 33 situs, yakni 13 situs di Gunung Kidul, 13 situs di Pacitan, dan 7 situs di Wonogiri.

Saat ini, Geopark Gunung Sewu dikelola oleh komite yang terdiri dari perwakilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan, Wonogiri, dan Gunung Kidul, serta para ahli geologi.

Hary mengatakan, Pemkab Pacitan, Wonogiri, dan Gunung Kidul sepakat mempromosikan Geopark Gunung Sewu secara bersama-sama. Dana promosi diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tiga kabupaten itu. Pengembangan pariwisata juga dilakukan dengan memberdayakan masyarakat sekitar untuk membentuk kelompok sadar wisata.

Ketua Bidang Pendidikan dan Sumber Daya Manusia Dewan Pimpinan Daerah Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) DIY Willy Adlilhaq menyatakan, Gunung Sewu sangat berpotensi menjadi daya tarik wisata baru di DIY, termasuk bagi wisatawan asing.

Belum siap

Dari Cirebon, Jawa Barat, dilaporkan, pembangunan Bandar Udara Internasional Jawa Barat di Kertajati, Kabupaten Majalengka, diperkirakan mampu memicu pertumbuhan perekonomian serta pariwisata di kawasan timur Jawa Barat dengan Cirebon sebagai sentra dan pintu gerbangnya. Namun, infrastruktur kepariwisataan di wilayah Cirebon, termasuk kawasan pendukung seperti Indramayu, Majalengka, dan Kuningan, belum siap menyambut keuntungan yang akan datang itu.

Virda Dimas Ekaputra, Presiden Direktur Perusahaan Pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), Rabu, mengemukakan itu seusai menghadiri acara forum bisnis Cirebon di Kota Cirebon. Virda menyoroti infrastruktur kepariwisataan (tourism infrastructure) yang belum siap itu, antara lain, ditunjukkan dengan belum adanya kesadaran warga Cirebon bahwa kota atau wilayah mereka adalah daerah pariwisata.

"Budaya melayani, misalnya, belum kelihatan. Hal itu berbeda dengan yang ditemui di Bali ketika segala infrastrukturnya siap, termasuk dalam hal budaya pariwisata," katanya.

Transportasi Maluku

Provinsi Maluku dengan kondisi geografis yang terdiri atas pulau-pulau memiliki banyak potensi wisata alam, sejarah, dan budaya. Ini menjadi tantangan untuk mengembangkan potensi itu karena akses transportasi menuju destinasi wisata masih sangat minim.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maluku Anna Likka, di Ambon, Rabu, menyatakan, kepercayaan wisatawan terhadap Maluku sudah membaik setelah konflik sosial bernuansa agama beberapa tahun lalu. Hal itu menjadi modal untuk mengembangkan sektor pariwisata di daerah itu.

Di Jawa Tengah, skema pemasaran dalam jaringan (online) kini mulai menjadi pilihan utama media promosi desa-desa wisata. Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa, Kabupaten Banjarnegara Alif Fauzi, jangkauan yang luas, interaktif, dan lebih tepat sasaran mendorong pelaku desa wisata semakin serius menggarap promosi melalui media sosial.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Sidoarjo, Jatim, Supomo mengatakan, jumlah kunjungan wisatawan yang stagnan di daerahnya merupakan ironi. Padahal, Sidoarjo menjadi pintu gerbang masuk wisatawan lokal dan mancanegara melalui darat dan udara. (NIK/HRS/REK/GRE/FRN)

Sumber: Kompas | 1 Oktober 2015

Berikan komentar.