TRP
Infrastruktur Transportasi Pemikat Properti
02 Oktober 2015 \\ \\ 1658

Ada gula ada semut. Peribahasa itu tepat untuk menggambarkan magnet infrastruktur terhadap deru pengembangan properti. Pembangunan jalur-jalur transportasi publik yang gencar digulirkan pemerintah bak ”gula” yang memikat laju properti.

Menyusul proyek pembangunan transportasi massal cepat (MRT) sejak tahun 2014, pada September 2015 pemerintah menggeber proyek pengadaan kereta ringan (light rail transit/LRT) terintegrasi di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Proyek ”keroyokan” pemerintah pusat, daerah, dan badan usaha milik negara itu diproyeksikan selesai dalam tiga tahun.

Dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/LRT Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi, pembangunan proyek itu menghubungkan pusat kota Jakarta dengan wilayah penyangga di sekitarnya. Ada enam koridor LRT terintegrasi yang dibangun pemerintah pusat, yakni Cawang-Cibubur, Cawang-Kuningan-Dukuh Atas, Cawang-Bekasi Timur, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, Cibubur-Bogor, dan Palmerah-Grogol.

Pada tahap awal rute yang dibangun antara lain Cibubur-Cawang-Dukuh Atas sepanjang 24,2 kilometer dan rute Bekasi Timur-Cawang-Dukuh Atas sepanjang 17,9 kilometer. Tahap berikutnya adalah jalur Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, dan Palmerah-Grogol dengan panjang jalur 41,5 kilometer. Tiang-tiang pancang peninggalan proyek monorel yang mangkrak akan dimanfaatkan lagi untuk jalur LRT.

Sementara itu, Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2015 mengatur percepatan penyelenggaraan KA ringan di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Koridor Kelapa Gading-Kebayoran Lama merupakan salah satu yang diprioritaskan.

Magnet infrastruktur

Peningkatan infrastruktur dan transportasi publik dengan sendirinya menjanjikan mobilitas penduduk semakin baik. Transportasi publik tidak hanya menjadi tulang punggung transportasi umum warga Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru di kawasan-kawasan pinggiran Jakarta.

Gayung bersambut, Pemerintah DKI Jakarta telah menaikkan koefisien luas bangunan (KLB) di Sudirman-Thamrin dari KLB 5 menjadi KLB 9 hingga 10. Dengan KLB sangat tinggi itu, bangunan baru dimungkinkan mencapai ketinggian lebih dari 50 lantai.

Magnet infrastruktur disambut para pengembang properti dengan sejumlah strategi. Rekonstruksi gedung lama mulai terlihat di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta di koridor Sudirman-Thamrin yang dilintasi jalur MRT. Bangunan-bangunan lama dipugar untuk pendirian gedung pencakar langit bergengsi.

Pengembang Keppel Land Limited (Keppel Land) asal Singapura menangkap geliat pengembangan infrastruktur wilayah sebagai peluang besar investasi dengan membangun gedung premium International Financial Centre (IFC) Jakarta Tower 2 di Jalan Sudirman, CBD Jakarta. Tower 2 berlantai 48 menawarkan perkantoran grade A seluas 50.200 meter persegi. Keppel Land bahkan berencana membangun kembali Jakarta Tower 1 setinggi 18 lantai yang telah berdiri sejak 1985 menjadi gedung perkantoran 55 lantai seluas 72.800 meter persegi.

Dalam prosesi pemasangan atap terakhir gedung perkantoran IFC Jakarta Tower 2, akhir Agustus lalu, CEO Keppel Corporation Limited Loh Chin Hua meyakini lokasi strategis dan kemudahan akses transportasi utama, seperti bus transjakarta dan MRT, turut memicu pertumbuhan kawasan CBD Jakarta.

Beberapa gedung tua di jalan Sudirman-Thamrin juga tengah dipugar untuk rekonstruksi, sebut saja Plaza EX yang dipugar menjadi Gedung Indonesia 1. CIMB Plaza dan Sequis Plaza juga dirobohkan untuk dibangun gedung perkantoran baru. Ada pula Wisma Nugra Santana yang akan dipugar untuk menjadi Sudirman 7.8 serta gedung eks Bank Resona Perdania di Bendungan Hilir yang dirobohkan untuk menjadi gedung baru.

”Tingkat hunian gedung perkantoran di CBD Jakarta sudah di atas 90-95 persen. MRT memberikan efek semakin banyak gedung tinggi dibangun sesuai dengan kebutuhan pasar penyewa di CBD yang menghendaki gedung premium,” kata Ferry Salanto, Associate Director Research Colliers International Indonesia, selaku konsultan properti.

Manisnya efek infrastruktur pun merambah ke kawasan LRT di suburban Jakarta. Sebagian pengembang berancang-ancang menyulap koridor LRT menjadi magnet pertumbuhan residensial, komersial, hingga perkantoran. Meski tak dimungkiri, harga tanah dipastikan ikut meroket, terutama yang berdekatan dengan stasiun LRT.

Kawasan Cibubur hingga Bekasi yang selama ini identik dengan daerah pinggiran Jakarta digadang-gadang menjadi kian ramah untuk investasi properti. Bukan hanya korporasi besar yang masuk, melainkan juga korporasi dan investor kecil menengah memiliki peluang untuk pengembangan proyek kos-kosan hingga apartemen menengah.

Presiden Direktur Summarecon Agung Tbk Adrianto P Adhi mengemukakan, pihaknya sedang menyusun studi antisipasi pengembangan LRT jalur Kelapa Gading-Kebayoran Lama. Terbukanya peluang jalur transportasi publik modern masuk akan menaikkan KLB kawasan yang memungkinkan pengembang lebih ekspansif dalam bisnis, antara lain peningkatan superblok.

Tantangan yang dihadapi adalah sinkronisasi rencana pengembang dengan pemerintah daerah. Konsistensi kebijakan pemerintah menjadi penjuru yang dinantikan pengembang.

”Mobilitas penduduk yang meningkat akan mendorong daya tarik kawasan. Kami menunggu dan melihat pengembangan progress LRT,” kata Adrianto.

Populasi Jakarta diprediksi meningkat dari 10,2 juta jiwa pada 2014 menjadi 12,5 juta jiwa pada 2030, sedangkan populasi di Jabodetabek bakal meningkat dari 30 juta jiwa pada 2014 menjadi 35 juta jiwa pada 2020.

Integrasi transportasi publik dengan properti menjadi pendulum pengembangan wilayah. Daya pikat infrastruktur untuk pengembangan properti diharapkan mengubah wajah Jabodetabek menjadi lebih manusiawi. (BM Lukita Grahadyarini)

Sumber: Kompas | 29 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.