TRP
Kompleks, Masalah Desa dan Kota
02 Oktober 2015 \\ \\ 728

BOGOR — Urbanisasi kian menyatukan pedesaan dan perkotaan. Namun, migrasi warga desa ke kota yang dekat membuat keduanya kian rentan terkena masalah kompleks, yakni ekonomi, sosial, politik, dan budaya.

Pedesaan dan perkotaan yang lokasinya berdekatan itu nyaris tiada berbeda. Indikasinya, penduduk pedesaan 119 juta jiwa (50,2 persen) dari penduduk negeri ini sekitar 237 juta jiwa. Sejumlah 118 juta jiwa (49,8 persen) ialah penduduk perkotaan.

"Tidak jauh beda," kata Marwan Jafar, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, dalam pidato pembukaan Konferensi Internasional dan Ekskursi Lapang tentang Penelitian dan Perencanaan Perdesaan di IPB International Convention Center, Senin (28/9).

Konferensi dan ekskursi ke-6 terbentuk dari kerja sama periset Indonesia dan Malaysia tentang penelitian dan perencanaan perdesaan Asia Tenggara. Tahun ini merupakan kegiatan ke-6 dengan IPB sebagai tuan rumah. Kampus yang terlibat ialah Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Islam Bandung, Universitas Diponegoro, Universitas Sains Malaysia, dan Universitas Teknologi Malaysia.

Urbanisasi, kata Marwan, memunculkan masalah kompleks. Perpindahan warga desa ke kota tanpa keterampilan sekadar memindahkan masalah kemiskinan serta pengangguran dari desa ke kota. Desa sekitar kota menjadi tempat tinggal pendatang yang mencari kerja di kota.

Gaya hidup, bahkan karakter kejahatan urban, telah merasuk bahkan sampai mengubah wajah atau fisik desa. Ini amat kentara di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi di mana batas kawasan menjadi tak tampak.

Kawasan yang masih memiliki pedesaan (Bodetabek) berlomba menjadi modern seperti Jakarta. Salah satunya, mengubah kawasan budidaya sebagai penyangga kehidupan menjadi kawasan industri hingga permukiman skala kota mandiri.

Padahal, menurut Rektor IPB Herry Suhardiyanto, pedesaan amat unik. Bentang alam dan sistem pertanian atau budidaya merupakan aset terpenting kehidupan warga setempat sekaligus penunjang kehidupan perkotaan. Jika desa berubah menjadi kota, aset dan kemampuan menyangga kehidupan jelas hilang.

Herry mengatakan, perubahan dan perusakan bentang alam desa sudah terjadi akibat praktik produksi pertanian, yakni intensifikasi, pemodernan, dan penelantaran lahan. Kerusakan semakin tinggi akibat perluasan perkotaan ke pedesaan, antara lain pembangunan kawasan industri dan permukiman baru.

Jurang

Peneliti senior Pusat Pengkajian, Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah IPB, Ernan Rustiadi, menambahkan, meski pedesaan dan perkotaan kian identik, secara umum, kehidupan warga desa dan kota ada perbedaan yang cukup jauh.

"Ada jurang lebar," kata Ernan yang Dekan Fakultas Pertanian IPB. Hal yang masih bisa dirasakan, warga perkotaan cenderung individual, tidak kenal tetangga, dan mengatasi masalah sendiri. Sebaliknya, warga pedesaan masih kenal tetangga, gotong royong, dan permasalahan coba diatasi bersama.

Secara fisik, di pedesaan cukup lazim ada permukiman modern dan mewah dikelilingi perkampungan. Padahal, kondisi itu rentan menimbulkan kecemburuan, bahkan kejahatan. Inilah salah satu gambaran bahwa ada nuansa kota di desa. Kabupaten Bogor adalah salah satu contoh kawasan yang punya karakter desa dan kota. Luasnya 270.000 hektar dan berpenduduk 5,3 juta jiwa.

Penanda kota dari keberadaan kelurahan dan permukiman modern atau kota mandiri. Penanda desa ialah keberadaan desa dan sistem hidup tradisional dengan mengandalkan pertanian. Selain itu, masih ada kampung tertinggal dengan warga tak sekolah, belum bisa baca, bahkan kekurangan gizi, serta layanan kesehatan minim dan buruk.

Terkait kejahatan, Kepala Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Besar Suyudi Ario Seto menyebutkan, karakternya mirip perkotaan. Kasus pembunuhan, perampokan, serta produksi dan peredaran narkoba beberapa kali terjadi tidak hanya di kompleks hunian modern seperti di kota, tetapi juga di kampung. (BRO)

Sumber: Kompas | 29 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.