TRP
Banyak Jalan Disalahgunakan
30 September 2015 \\ \\ 366

JAKARTA — Infrastruktur jalan yang terbatas dan tak sebanding dengan jumlah kendaraan menjadi salah satu penyebab kemacetan parah di Jakarta. Terlebih lagi, jalan yang terbatas itu dipergunakan tidak sesuai peruntukan sebenarnya.

Kepala Subdit Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Budiyanto mengatakan, sangat banyak jalan di Jakarta disalahgunakan sehingga menyebabkan kemacetan yang kian parah. "Infrastruktur yang sudah terbatas itu juga dipergunakan tidak pada peruntukannya. Misalnya, banyak jalan dipakai untuk kaki lima dan parkir," kata Budiyanto, Selasa (29/9).

Menurut dia, kemacetan di Jakarta terjadi lebih karena tak berimbangnya volume kendaraan dibandingkan dengan infrastruktur jalan. "Kita sama-sama tahu, perkembangan jumlah kendaraan di Jakarta tak sebanding dengan pertumbuhan jalan. Kendaraan bisa tumbuh hingga 11 persen per tahun, sementara jalan hanya 0,01 persen," ujarnya.

Belum lagi kesadaran masyarakat untuk mematuhi aturan lalu lintas sangat rendah. Banyak warga yang seenaknya memanfaatkan jalan untuk kepentingan bukan sebagai infrastruktur lalu lintas kendaraan, misalnya berjualan dan areal parkir.

Penyalahgunaan jalan itu terjadi hampir di semua wilayah di Jakarta. Di sejumlah pasar, pedagang menggelar lapak tidak hanya di trotoar, tetapi juga hingga jalan. Demikian pula banyak jalan menjadi terminal bayangan.

Berdasarkan pantauan Kompas, Selasa, di Jalan Joglo Raya, Jakarta Barat, misalnya, kemacetan terjadi akibat jalan yang sempit, sementara kendaraan yang melintas terlalu banyak. Padahal, jalan itu merupakan akses alternatif yang menghubungkan Tangerang-Jakarta.

Penumpukan kendaraan di Jalan Joglo Raya terjadi secara estafet. Dari arah Jakarta yang menuju pintu masuk Tol Joglo terjadi kemacetan sepanjang 3 kilometer. Setelah itu, kemacetan 2-4 kilometer kembali terjadi saat memasuki Jalan Joglo Raya selepas perempatan menuju simpang Jalan HOS Cokroaminoto, Ciledug, Tangerang. Menurut Susanto (21), warga Joglo, kemacetan biasa terjadi setiap hari dari pukul 05.00 hingga pukul 22.00.

Perilaku pengendara yang saling serobot dan tidak mematuhi aturan lalu lintas turut menambah kesemrawutan kondisi di jalanan. Bahkan, kendaraan yang melawan arus menjadi pemandangan "lumrah" di banyak jalan. "Dengan adanya pelanggaran kami lakukan penegakan hukum. Pada tindakan ini, kami harapkan ada proses edukasi sehingga masyarakat patuh pada hukum lalu lintas," kata Budiyanto.

Tindakan terkait pelanggaran lalu lintas yang dilakukan Kepolisian Daerah Metro Jaya sejak Januari hingga Agustus mencapai 628.482 tindakan. "Memang sangat besar, dalam sehari kami bisa menindak 2.000 hingga lebih dari 3.000 pelanggaran," katanya.

Namun, penindakan tersebut belum memberikan efek jera. Sanksi ataupun denda yang dikenakan kepada pelanggar pun sangat ringan. Sebagai contoh, pelanggaran rambu dendanya Rp 500.000 atau kurungan dua bulan. Namun, nyatanya pelanggar hanya dikenai denda Rp 150.000- Rp 200.000. (RAY/B03)

Sumber: Kompas | 30 September 2015

Berikan komentar.