TRP
Memagari Pulau Terluar dengan Hutan Bakau
30 September 2015 \\ \\ 467

Memasuki Dusun Tula Ika, Kelurahan Mebah, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, tampak hamparan hutan bakau yang berusia 20-100 tahun. Sebagian pohon mati karena penebangan dan sedang dalam proses regenerasi. Kawasan hutan bakau seluas 15 hektar menyusuri garis pantai itu telah dipagari sebagai upaya menghindari penebangan dan perusakan.

Hutan bakau atau mangrove itu seperti memagari dusun atau Kelurahan Mebah dari ancaman abrasi laut. Ratusan rumah warga yang tersebar di pesisir Kelurahan Mebah, sepanjang 50 meter dari garis pantai, pun berdiri kokoh, termasuk ribuan tanaman di pesisir, seperti pohon kelapa, pisang, dan mangga.

Niko Tome (79), yang menanam dan memelihara hutan bakau itu bersama anak-anak, ketika ditemui di Dusun Tula Ika, Kelurahan Mebah, Sabtu (19/9), mengatakan, mulai menanam bakau sejak 1945 saat Niko berusia 29 tahun, dan kegiatan itu dilakukan sampai tahun 1955. Ketika itu ia memperhatikan, rumah tinggalnya yang berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai semakin didekati air laut akibat pengikisan pantai.

"Tahun 1945 saya mulai menanam sendiri dengan memanfaatkan anakan bakau yang ada di pantai. Anakan bakau yang tumbuh bergerombol, atau tumbuh di dekat induknya, saya ambil kemudian disemaikan, setelah dua pekan, saya tanam. Selain itu, buah bakau yang jatuh ke lumpur pantai, saya pindahkan setelah berkecambah," kata Niko.

Tahun 1950-1952, Niko mengajak istri dan dua anaknya menanam bakau di sepanjang pantai, dekat rumah mereka. Mereka sadar, bakau mampu mengatasi abrasi. Kesadaran ini terbentuk atas pengetahuan langsung di lapangan, yakni setiap pantai yang ditumbuhi hutan bakau selalu aman dari abrasi.

Saat itu rumah penduduk di Dusun Tula Ika sangat jarang. Hutan bakau itu pun tumbuh subur, tanpa gangguan dari ternak atau manusia. Bakau yang tumbuh dengan ketinggian 4-10 meter itu kemudian menjadi tempat tinggal burung-burung pantai dan ikan-ikan kecil, termasuk kepiting.

Niko pun melarang nelayan sekitar memanfaatkan bakau itu untuk menambatkan perahu atau melakukan aktivitas lain di sekitar bakau. Ia khawatir mereka merusak bakau yang sudah mulai berkembang. Banyak nelayan kurang sadar akan manfaat bakau sehingga sering mengambil batang atau daunnya saja.

Keberadaan bakau itu membuat Niko merasa nyaman. Dia bersama anggota keluarga boleh tidur pada malam hari dengan nyenyak saat musim hujan tiba. Biasanya pada musim tersebut, air laut menjulur masuk sampai 200 meter dari bibir pantai menuju daratan, dan merusak rumah penduduk, ternak peliharaan, atau tanaman yang dilalui air laut.

"Babi, kambing, ayam, dan ternak lain saya kandangkan. Ternak tertentu, seperti babi, kadang saya lepas ke pantai untuk mencari makanan sendiri, seperti siput laut atau ikan kecil yang berada di sekitar pohon bakau," kata Niko.

Terbentuk kelompok

Warga lain yang berdiam di dekat pantai mendatangi Niko. Mereka pun ingin mengembangkan bakau serupa di pantai, tempat mereka berdiam. Tahun 1960 mereka membentuk kelompok petani bakau. Setiap kelompok beranggotakan 4-5 orang. Maka, terbentuklah lima kelompok petani bakau. Kelompok bakau ini tersebar hampir di seluruh daratan Pulau Sabu atau sering orang menyebutnya Pulau Savu.

Pulau Sabu dengan luas 460,54 km2 itu tidak memiliki gunung atau bukit dengan ketinggian di atas 700 meter dari permukaan laut. Jumlah penduduk pulau itu 81.190 jiwa (2012). Orang Sabu sendiri menyebut pulau itu dengan sebutan "Rai Hawu", dan orang Sabu disebut "Do Hawu".

Menurut Niko, nama pulau itu berasal dari kata Hawu Ga, nama leluhur mereka yang pertama singgah di pulau itu. Menurut sejarah, nenek moyang orang Sabu berasal dari suatu negeri yang sangat jauh, berada di sebelah barat Pulau Sabu. Pada abad ketiga dan keempat, terjadi arus perpindahan penduduk dalam jumlah besar dari India selatan ke kepulauan Nusantara, termasuk Pulau Sabu.

Dalam syair-syair adat kuno orang Sabu terungkap bahwa asal-usul mereka terletak jauh di seberang, di sebelah barat yang disebut "Hura". Di India terdapat kota Surat di wilayah Gujarat selatan, dekat kota Bombay. Orang Sabu tidak bisa melafalkan kata Surat dan Gujarat sehingga mereka menyebutnya "Hura".

Tata ruang harus jelas

Pulau yang memiliki enam kecamatan itu tidak memiliki gunung dan bukit dengan ketinggian di atas 700 meter. Sebagian pesisir berada di posisi dataran melandai dengan garis pantai sehingga wilayah ini suatu ketika dikhawatirkan berubah menjadi sebuah teluk jika tidak dipagari dengan hutan bakau.

Saka Robe (51), pemerhati lingkungan Sabu, telah menggerakkan satu kelompok warga Seba beranggotakan 30 orang, dengan tugas khusus menanam hutan bakau di setiap titik di Kota Seba, yang dinilai rawan abrasi. Kegiatan kelompok ini dilakukan setiap akhir bulan. Penanaman dilakukan tidak hanya selama musim hujan, tetapi juga pada musim kemarau.

"Budidaya hutan bakau sangat penting. Hanya saja, beberapa warga Sabu tidak peduli dengan kawasan pesisir atau pantai. Misalnya, di Seba, di beberapa titik pantai, terjadi abrasi air laut sampai memasuki permukiman penduduk. Air laut itu menyusuri muara sampai 200 meter dari garis pantai," kata Rebo.

Direktur Yayasan Lingkar Insani NTT Maria Toge, yang melakukan penelitian sosial kemasyarakatan di Sabu Raijua, mengatakan, kontur geografis daratan Sabu Raijua rentan terhadap bencana tsunami. Sebagian besar kawasan pesisir berupa dataran rendah, yang langsung berhubungan dengan pantai. Kontur pulau seperti itu berbeda dengan Pulau Rote Ndao, yang berada di sebelah timur Pulau Sabu.

Karena itu, harus ada program dari pemda setempat untuk menjaga kawasan pesisir dan pantai. Saat ini pemda sedang gencar membangun ladang garam dan rumput laut hampir di sepanjang kawasan pesisir.

Ia mengusulkan agar pemerintah memiliki tata ruang yang jelas mengenai peruntukan kawasan pesisir. Mana kawasan untuk wisata, dermaga, atau pelabuhan, ruang publik, budidaya garam dan rumput laut, serta kawasan hijau, khusus untuk hutan bakau. Pengolahan kawasan sesuai tata ruang ini sangat penting dalam rangka menjaga keberlangsungan pulau itu pada masa yang akan datang.

"Pembangunan fisik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat penting, tetapi jangan mengabaikan kawasan pesisir. Pulau Sabu memiliki luas yang sangat terbatas, dan sebagian kawasan hanya berupa dataran rendah, yang langsung berhubungan dengan garis pantai. Saat ini masih aman, tetapi 20-50 tahun yang akan datang pulau itu akan berubah sesuai perubahan pemanasan global," kata Toge. (KORNELIS KEWA AMA)

Sumber: Kompas | 30 September 2015

Berikan komentar.