TRP
Sumber Air Galunggung Jadi Sentra Cabai
28 September 2015 \\ \\ 520

TASIKMALAYA — Lereng barat Gunung Galunggung yang merupakan sumber air bagi Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, perlahan-lahan beralih fungsi menjadi kawasan tanaman semusim, seperti kol, bawang, dan cabai. Salah satunya adalah Desa Parentas, kawasan di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, yang sudah beralih fungsi menjadi sentra tanaman cabai.

"Setiap hari, 5-6 ton cabai keluar dari desa ini," ujar mantan Kepala Desa Parentas, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Lukas Sukma (42) yang kini menjadi petani cabai, Sabtu (26/9). Petani lainnya, Ode Badrudin (42) dan Eman Suherman (50), menjelaskan, jenis cabai yang banyak ditanam terutama cabai keriting karena harganya sekarang cukup baik.

Pada akhir September, harga cabai ini di tingkat petani Rp 30.000 per kilogram. Tiga bandar besar setiap hari mengambil hasil panen petani.

Camat Cigalontang Sobari dan Kepala Desa Parentas Andi Ramdani menyebutkan, berkembangnya tanaman semusim di kawasan ini menjadi dilematis. Sebab, Gunung Galunggung merupakan sumber air bagi sekitar tiga juta warga Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya. Warga Desa Parentas yang kini berjumlah sekitar 700 keluarga, hampir semuanya bertanam hortikultura. Rata-rata, luas lahan mereka sekitar 0,3 hektar per petani.

Budi daya cabai berkembang pesat sejak 3-4 tahun lalu, seiring dengan meningkatnya harga cabai di pasaran. Semula, daerah ini merupakan sentra peternakan kerbau dengan tanaman palawija secara tumpang sari di bawah pohon-pohon keras, terutama pinus. Setelah dijadikan areal cabai, kawasan hutan di Parentas menjadi terbuka.

Parentas merupakan desa yang berada di paling ujung barat Kabupaten Tasikmalaya. Desa ini lebih mudah dijangkau dari jalan raya Garut-Wanaraja. Jarak Parentas ke jalan raya Garut-Wanaraja sekitar 10 kilometer, sedangkan jarak Parentas ke Kantor Kecamatan Cigalontang sekitar 20 kilometer.

Negara alpa

Masalah air mengemuka pula dalam diskusi bertajuk "Quo Vadis Pengelolaan Air Tanah di Indonesia", Sabtu (26/9), di Bandung. Pengajar program studi Teknik Air Tanah Institut Teknologi Bandung, Irwan Iskandar, mengatakan, negara kerap alpa memenuhi kebutuhan vital warganya akan air. Hal itu membuat ketergantungan masyarakat terhadap air sebagai salah satu hak dasar manusia pada pihak swasta masih tinggi.

"Saat ini, negara belum serius mengelola air. Perhatian pada sumber daya manusia, infrastruktur, dan pengembangan usaha hanya dilakukan seadanya," katanya.

Irwan mengatakan, perhatian pemerintah pada air jauh lebih sedikit ketimbang sumber daya alam lain, seperti bahan tambang atau minyak bumi. Hal ini memicu banyak akibat buruk yang merugikan negara sendiri dan masyarakatnya. Padahal, apabila dikelola dengan baik, selain bisa mengurangi ketergantungan penyediaan air masyarakat yang selama ini dipenuhi swasta, negara diyakini bisa mendapatkan keuntungan lewat pengelolaan air.

"Sebagai perbandingan, pengeboran sumur minyak dibutuhkan sekitar 100 juta dollar AS atau jauh lebih besar ketimbang penggalian sumur air sekitar Rp 100 juta. Ketika dijual, hasil olahan minyak bumi dijual Rp 8.500 per liter, sedangkan air Rp 2.000 per liter. Dengan mempertimbangkan biaya produksi minyak yang tinggi, pengolahan air tentu lebih menguntungkan," katanya.

Oleh karena itu, Irwan mengatakan, pemerintah perlu melakukan terobosan. Salah satunya, memperbaiki atau membentuk perusahaan pengelolaan air milik pemerintah yang lebih kuat daripada saat ini. "Setelah punya kemampuan sama kuat, pemerintah pasti punya daya tawar yang sama kuat dengan swasta," katanya. (dmu/che)

Sumber: Kompas | 28 September 2015 | ALIH FUNGSI LAHAN

Berikan komentar.