TRP
Sekat Kanal Mulai Dibangun di Kalteng
28 September 2015 \\ \\ 408

Kalimantan Barat Masih Menunggu Anggaran dari Pusat

PULANG PISAU — Pembangunan sekat kanal untuk pengendalian kebakaran mulai dikerjakan di Kalimantan Tengah setelah ada instruksi Presiden Joko Widodo, Kamis lalu. Proses itu dimulai dengan pengerukan parit serta pembuatan sekat dan embung guna menjaga gambut tetap basah.

Dari pantauan Kompas, Sabtu (26/9), pengerukan kanal dikerjakan di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau. Kanal yang dibuat sedalam 4 meter dan lebar 6-8 meter di kedua sisi Jembatan Tumbang Nusa itu sudah mencapai sekitar 300 meter dari rencana panjang 7 kilometer.

Semula lokasi itu adalah parit berkedalaman sekitar 1 meter dan lebar 2-3 meter yang tertutup semak. Sebagian berair, tetapi sebagian lainnya mengering. Kanal baru itu dihubungkan dengan sungai terdekat, anak Sungai Kahayan.

Ada lima ekskavator disiapkan. Tiga di antaranya beroperasi sejak Jumat. ”Kanal yang sudah ada dibersihkan dan dirapikan. Nanti juga akan dibuat 28 embung dengan lebar 20 meter x 20 meter yang berada di setiap jarak 250 meter,” kata Mayor Slamet Riyadi sebagai Pemimpin Pelaksana Sekat Kanal di Desa Tumbang Nusa.

Kanal itu nantinya akan disekat untuk mengontrol air sehingga saat musim kemarau pun air tersedia dan membasahi gambut. ”Air di embung pada musim kemarau nanti bisa dipakai sebagai sumber pemadaman api jika ada kebakaran,” tuturnya.

Slamet menambahkan, pembuatan sekat kanal dan embung itu dilaksanakan oleh 230 personel TNI. ”Ditargetkan selesai dua minggu,” kata Slamet.

Di Palangkaraya, Deputi Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana Tri Budiarto mengatakan, mobilisasi alat-alat pembuatan sekat kanal telah dilakukan dan diharapkan air dapat dikendalikan. ”Kami bikin block agar air tidak hilang sehingga tanah basah. Jika tanah basah, mudah-mudahan tidak kena api,” kata Tri.

Kemarin, di Palangkaraya dan sepanjang jalan menuju Kabupaten Pulang Pisau, jarak pandang sepanjang hari sangat pendek, hanya 30-100 meter. Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng dr Endang Sri Lestari menyarankan warga memakai masker saat keluar rumah. Individu yang memiliki masalah pernapasan disarankan mengungsi.

Tunggu dana pusat

Di Kalimantan Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat mengaku sulit merealisasikan pembuatan kanal karena terkendala dana dan belum ada kejelasan dari pusat. Menurut Kepala BPBD Kalbar TTA Nyarong, rencana itu perlu komitmen anggaran. Anggaran untuk penanggulangan bencana saja tidak mencukupi.

”Selain kendala anggaran, sejauh ini kami belum mendapat informasi dari pusat terkait hal itu,” kata Nyarong.

Anton Wijaya, Direktur Eksekutif Walhi Kalbar, menilai, sekat kanal tidak menjawab persoalan kebakaran lahan secara utuh. ”Itu hanya solusi jangka pendek dan tidak bisa menjawab masalah tata kelola gambut yang ada di Kalbar,” ujar Anton.

Pemerintah hendaknya mendorong adanya aturan tata kelola gambut dalam bentuk undang- undang sehingga lahan gambut tidak digunakan bebas untuk perkebunan. ”Faktanya penggunaan lahan gambut untuk lahan konsesi perkebunan tanpa kontrol,” ucapnya. (DKA/ESA/WER/EGI)

Sumber: Kompas | 27 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.