TRP
”Simsalabim” Ciliwung
25 September 2015 \\ \\ 521

Salah satu hal yang sedang ramai diperbincangkan media sosial saat ini adalah Sungai Ciliwung yang tampak kinclong. Foto-foto sungai yang membelah Jakarta itu digambarkan sudah berubah 180 derajat. Tidak ada lagi sampah menggunung, kotor menghitam dengan pemandangan WC helikopter (bilik tempat buang air di tepi kali atau saluran air).

Gambar yang beredar menggambarkan sungai tersebut seperti sungai-sungai di negeri beradab: bersih, bening, dan tidak ada selembar sampah pun. Tidak lupa di berbagai medsos tersebut disebutkan kata-kata provokatif. ”Ke mana aja gubernur DKI sebelumnya?”, misalnya.

Sejumlah media cetak pun melaporkan perubahan Sungai Ciliwung tersebut.

Namun, gambar-gambar tandingan dari keadaan Ciliwung di lokasi lain, yang masih menggambarkan Ciliwung seperti biasanya, juga beredar di media sosial. Seorang rekan mengunggah foto kondisi Sungai Ciliwung di Kampung Pulo, Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Berbeda dengan foto Ciliwung yang sudah beralih rupa, fotonya menggambarkan air sungai masih coklat kehitaman, sampah menumpuk, dan masyarakat setempat masih menggunakannya sebagai tempat mandi, cuci, kakus alias MCK.

Beredarnya foto-foto Ciliwung (bagian) yang bersih itu pun dituding sebagai bagian dari kampanye Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk Pilkada DKI.

Bisa jadi kondisi Sungai Ciliwung yang beredar di berbagai media sosial itu demikian adanya. Ada bagian yang memang sudah coba dirapikan dan dibersihkan. Sebuah tayangan Youtube menggambarkan, pasukan TNI dari Kodam Jaya bahu-membahu membersihkan sungai tersebut dan sampah yang menggunung tanpa menghiraukan kondisi sungai yang menjijikkan. Salut untuk keseriusan para prajurit bekerja.

Namun, bahwa ada bagian lain dari sungai sepanjang 117 kilometer tersebut masih kotor dan bersampah, juga demikian adanya. Warga Ibu Kota yang masih penasaran bisa mengecek ulang sendiri untuk tidak percaya begitu saja terhadap dua kondisi Sungai Ciliwung tersebut. Kita juga tidak menutup mata adanya kerja keras dan upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menormalisasi Sungai Ciliwung.

Sungai Ciliwung bukan hanya sebagian yang disebar melalui foto-foto tersebut.

Demikian juga Jakarta: Ibu Kota, bukan hanya sebagian Jalan Sudirman-Thamrin atau Kuningan. Kawasan jalan utama yang kini sedang centang-perenang karena pembangunan transportasi massal cepat (MRT) tersebut terkesan selalu menjadi ”perhatian utama” Jakarta saat menghias diri.

Pemprov DKI Jakarta menjadikan kawasan tersebut sebagai etalase Ibu Kota yang rapi dan asri. Fasilitas pejalan kaki atau trotoar yang nyaman selalu dijaga. Hampir tidak ada pedagang kaki lima yang menawarkan dagangannya di sepanjang jalan tersebut. Bahkan, di sejumlah tempat disediakan bangku-bangku taman yang nyaman.

Namun, beranjak sedikit saja dari kawasan ”emas” tersebut, dalam radius kecil saja, yang ada adalah sarana jalur pedestrian yang diokupasi oleh berbagai hal mulai dari kaki lima, tambal ban, etalase toko, hingga trotoar yang rusak. Pejalan kaki sering kali terpaksa harus mengalah turun ke pinggir jalan dengan ekstra waspada jangan sampai mikrolet, kopaja, metromini, atau kendaraan bermotor menabraknya.

Jakarta tidak hanya kawasan Thamrin-Sudirman atau Kelapa Gading, tetapi ada juga bagian yang tak gemerlap di baliknya. Kampung Pulo, Jakarta Timur, sedang ditata, dirapikan, dan warganya direlokasi. Tetapi, di Kampung Bandan, permukiman warga masih kumuh, padat, dan di atas rawa, menunggu untuk ditata. Butuh kerja keras, konsisten, dan kerja sama semua pemangku kepentingan. Tidak bisa simsalabim! Oleh AGUS HERMAWAN.

Sumber: Kompas | 25 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.