TRP
Bangun Embung Terkendala Tanah
25 September 2015 \\ \\ 367

TEMANGGUNG — Rencana pembangunan 10 embung di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, untuk mengatasi krisis air selama musim kemarau tidak mulus. Hingga kini, banyak warga tidak bersedia melepaskan tanah. Upaya yang dilakukan pemerintah setempat selalu gagal.

"Kami sebetulnya ingin terus memperbanyak embung sehingga saat musim kemarau pun krisis air bagi pertanian tidak parah. Namun, banyak warga tidak mau melepaskan tanahnya. Ini kendala kami di lapangan," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Temanggung Harnani Imtihandari, Rabu (23/9).

Ke 10 embung yang hendak dibangun meliputi tujuh embung kecil seluas masing-masing 150- 200 meter persegi dan tiga embung seluas 7.000-8.000 meter persegi dengan kedalaman 3-4 meter. "Oleh karena itu, pembangunan embung, termasuk 10 embung ini, akhirnya lebih banyak menggunakan tanah kas desa," ujarnya. Pemprov Jateng merencanakan pembangunan 1.000 embung pada tahun 2016.

Hingga kemarin, masih ada 18 kabupaten/kota di Jateng terkena kekeringan. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Sarwa Pramana di Solo, ke 18 kabupaten/kota itu adalah Pati, Demak, Tegal, Temanggung, Boyolali, Blora, Wonogiri, Kendal, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Grobogan, Jepara, Brebes, Banyumas, dan Kebumen.

"Sampai hari ini, 18 kabupaten/kota masih dikirim air bersih. Pemerintah Provinsi Jateng melalui Badan Koordinasi Wilayah Jateng juga bergerak membantu pendistribusian air bersih," ujar Sarwa.

Berdasarkan data BPBD Jateng, Pemprov Jateng telah menyalurkan air bersih sejumlah 1.443 tangki ke 280 desa di 62 kecamatan yang terdampak kekeringan. Sementara itu, pemerintah kabupaten/kota telah menyalurkan air bersih sebanyak total 6.406 tangki ke 777 desa di 182 kecamatan.

Sarwa menuturkan telah menerima bantuan dana tanggap darurat dari BNPB sebesar Rp 9,5 miliar untuk mengatasi kekeringan. Dana itu digunakan untuk pembangunan tiga embung di Boyolali, Purbalingga, dan Tegal. Dana itu juga dimanfaatkan untuk membuat sumur bor dan pembuatan bak-bak penampungan, serta pembuatan jaringan pipa untuk menyalurkan air dari sumber air ke bak penampungan umum. "Beberapa kabupaten juga telah dibuatkan hujan buatan. Tanggal 16 September lalu, hujan buatan dilakukan di Semarang dan Wonosobo karena potensi awan ada," ujarnya.

Secara terpisah, Camat Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Warsito menuturkan, kemarau panjang telah mengakibatkan 15 telaga di Pracimantoro yang selama ini dimanfaatkan warga untuk berbagai keperluan mengering. Saat ini, hanya tinggal tiga telaga lain yang masih menyisakan air, yakni telaga di Desa Gambirmanis, Gedong, dan Sumber Agung. "Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga harus membeli air bersih seharga Rp 90.000 hingga Rp 160.000 per tangki," katanya.

Alihkan tanaman

Di Banyuwangi, Jawa Timur, petani setempat mulai beralih menanam hortikultura di musim kemarau. Mereka tidak memaksakan diri menanam padi karena hampir selalu kekurangan air. Selain itu, hortikultura juga mampu mendongkrak pendapatan petani selama ini.

Tanaman hortikultura yang ditanam petani antara lain semangka, melon, timun suri, dan cabai. Tanaman-tanaman itu banyak ditanam di daerah yang irigasinya terbatas di musim kemarau atau tadah hujan, seperti di Kecamatan Banyuwangi, Muncar, Genteng, Purwoharjo, dan Pesanggaran. Di Kecamatan Banyuwangi, misalnya, sebagian lahan padi dialihkan menjadi kebun semangka dan melon.

Masrullah (56), petani di Patok Abang, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi, mengatakan, lahannya masih mendapatkan jatah air irigasi, tetapi tidak melimpah. "Kalau saya paksakan menanam padi, bisa malah kekeringan. Sekarang, saya lebih memilih menanam melon karena lebih aman," katanya.

Menurut Agus Sugiarto, Ketua Kelompok Tani Ridho Lestari di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, petani mulai melirik tanaman seperti melon dan semangka karena bernilai ekonomi lebih tinggi dan tidak berisiko kekeringan. Tanaman melon, misalnya, dalam sekali panen bisa diperoleh untung Rp 100 juta per 1 hektar.

"Saat ini, harga melon Rp 6.000-Rp 8.000 per kilogram dan 1 hektar rata-rata bisa menghasilkan 30-40 ton. Artinya, kami dapat penghasilan kotor Rp 180 juta," kata Agus. Jika dikurangi biaya produksi termasuk perawatan dan tenaga buruh, kata Agus, petani bisa memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp 100 juta. Petani juga menanam cabai di masa-masa tertentu. Seperti sebulan ini, harga cabai rawit di tingkat petani mencapai Rp 25.000 per kg. (NIT/EGI/RWN)

Sumber: Kompas | 25 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.