TRP
Jalan Lingkar Mulai Dibangun
25 September 2015 \\ \\ 962

Pemkot Surabaya Bekerja Sama dengan 8 Pengembang Perumahan

SURABAYA — Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, bersama pengembang mulai membangun Jalan Lingkar Luar Barat Surabaya sepanjang 19,8 kilometer, Selasa (22/9). Jalan yang menghubungkan wilayah utara dan selatan itu berfungsi memecah kemacetan di tengah kota dan memicu pertumbuhan kawasan pinggiran Surabaya.

"Ke depan, tidak akan ada lagi istilah pinggiran Surabaya karena pertumbuhan kota akan semakin merata," kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di sela ground breaking (pemancangan tiang perdana) proyek Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) di kawasan permukiman Citraland, Kelurahan Made, Kecamatan Sambikerep, Selasa.

Kawasan barat Surabaya selama ini dianggap pinggiran karena belum ada akses jalan yang langsung mengarah ke pusat kota. Fasilitas publik yang ada juga belum sebanyak di tengah Kota.

JLLB yang dirancang sejak 2011 ini melintasi 10 kelurahan dan empat kecamatan, mulai dari Kecamatan Lakarsantri di selatan hingga Kecamatan Benowo di sisi utara. Jalan selebar 55 meter dengan total 14 lajur (masing-masing arah 7 lajur) itu akan menghubungkan sisi selatan kota dengan Pelabuhan Teluk Lamong di utara. JLLB juga akan terhubung dengan Jalan Tol Surabaya-Mojokerto dan Jalan Tol Surabaya-Gresik.

JLLB juga menjadi bagian dari konsep rencana jalan lingkar yang menyatukan akses di seluruh wilayah Surabaya. Berdasarkan peta rencana jaringan jalan di Surabaya, akan ada enam jalur baik tol dan non-tol yang menghubungkan sisi selatan dan utara. Dari barat ke timur, enam jalur itu adalah JLLB, Jalan Lingkar Dalam Barat (JLDB), jalan tol, Jalan Ahmad Yani-Darmo-Basuki Rahmat, Middle East Ring Road (MERR), dan jalan bebas hambatan (Jalan Lingkar Luar Timur).

Akses dari barat ke timur juga ada enam jalur. Konsep jalan lingkar ini dipakai Pemkot Surabaya meski pemerintah pusat sebelumnya menginginkan pembangunan jalan tol tengah. Jalan lingkar yang tidak berbayar dinilai lebih efektif dan tidak memberatkan warga.

Dikerjakan pengembang

Pembangunan JLLB itu dilakukan bertahap, meliputi empat ruas jalan, dan ditargetkan selesai dalam dua tahun. "Pembagiannya, 80 persen pembebasan lahan dan pengerjaan fisik dilakukan pengembang dan sisanya dilakukan Pemkot Surabaya," kata Risma.

JLLB itu melintasi kawasan yang digarap oleh delapan pengembang, yaitu PT Mitrakarya Mulitguna, PT Bumi Serpong Damai, PT Galaxy Citraperdana, PT Citra Bahagia Elok, PT Tamancitra Suryahijau, PT Suburhijau Jayamakmur, PT Ciputra Surya, dan PT Ciputra Surya Padang Golf. Para pengembang itulah yang mengerjakan sekitar 80 persen proyek JLLB. Setiap pengembang bertanggung jawab terhadap ruas jalan yang berada di wilayah mereka.

"Kami mau bangun jalan ini karena kami butuh akses yang bagus," kata Associate Director PT Ciputra Surya Andi Sugiharjo sebagai perwakilan pengembang. Jika kawasan perumahan mendapat akses yang bagus, kawasan itu akan semakin dilirik banyak orang. Harga properti di kawasan tersebut juga berpotensi meningkat drastis.

Apalagi, di kawasan Surabaya barat di sisi utara sudah terdapat beberapa fasilitas penting. Selain Pelabuhan Teluk Lamong, ada pula Terminal Tipe A Tambak Oso Wilangun, Pasar Induk Oso Wilangun, dan Stadion Gelora Bung Tomo. Bahkan, di sekitar Stadion Gelora Bung Tomo juga akan dibangun sirkuit. Dengan demikian, kawasan di barat itu berpeluang tumbuh cepat.

Selama ini, daerah di wilayah barat kurang dilirik karena sulit diakses. Warga dari arah selatan, seperti dari Sidoarjo, ketika hendak menuju Gresik di kawasan utara selalu menggunakan jalan di tengah kota. Akibatnya, volume kendaraan meningkat dan timbul kemacetan.

Ketua DPD Real Estat Indonesia Jatim Paulus Totok Lusida mengatakan, pengembang mendapat keuntungan yang luar biasa. Selain mendapat manfaat dari terbukanya akses jalan, para pengembang juga akan mendapat kemudahan dalam hal perizinan sebagai kompensasi. (DEN)

Sumber: Kompas | 23 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.