TRP
Asa Ciliwung di Kampung Condet
25 September 2015 \\ \\ 351

Rimbun pepohonan menaungi bantaran Kali Ciliwung di kawasan Condet, Jakarta Timur. Warga setempat melindungi bantaran itu dari hunian karena menyadari Kali Ciliwung juga hidup, bergerak, dan merespons lingkungan di sekitarnya.

”Di sini warga paham, di bantaran tak boleh didirikan bangunan,” kata Ibrohim (41), warga Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramatjati, di dekat bantaran sungai itu. Area bantaran itu membentang selebar 15-25 meter dari batas akhir hunian ke bibir kali. Panjang bantaran yang terbebas dari hunian itu 500 meter lebih.

Menurut Ibrohim, warga menyadari kawasan bantaran itu adalah daerah milik kali. Oleh sebab itu, warga harus menjaga kawasan itu dari hunian.

Bantaran di Condet itu masih rimbun. Air yang mengalir di Ciliwung di kawasan itu juga tak keruh. Dasar kali masih tampak. Air yang bening memperlihatkan endapan sampah plastik di dasar kali. Sampah itulah yang kini menjadi perhatian khusus warga peduli Ciliwung di Condet. Setahun ini, Ibrohim bersama Didi dan enam warga lain yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Ciliwung (Mapeling) secara bergantian membersihkan kali dari sampah.

Menurut Ibrohim, awalnya ia dan teman-teman membersihkan Ciliwung dengan sukarela sejak tahun 2013. Mulai tahun 2014, ada upah dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta sebesar Rp 2,7 juta per bulan, sesuai besaran upah minimum provinsi (UMP) DKI. Namun, dari delapan anggota Mapeling, hanya Ibrohim dan seorang temannya yang diberi upah oleh Dinas Kebersihan DKI. Agar adil, upah itu akhirnya dibagi rata ke semua anggota menjadi Rp 675.000 per orang.

”Dengan upah dibagi rata, semua jadi semangat kerja. Kami juga yang membantu warga mengangkut sampah agar warga tak membuang sampah ke kali,” tutur Ibrohim yang sehari-hari bekerja sebagai buruh lepas.

Untuk memperoleh tambahan pendapatan, Ibrohim dan teman-teman memilah sampah rumah tangga. Sampah plastik dikumpulkan dan dijual ke lapak barang bekas. Dampaknya, pemandangan bantaran Ciliwung di Condet ini berbeda dengan bantaran kali di daerah lain, mulai dari Jembatan Kalibata hingga Manggarai yang dikepung hunian.

Timbunan sampah

Selain kepungan hunian di bantaran, sampah juga menjadi masalah utama Ciliwung. Seusai banjir, Desember 2014, sekitar 800 ton sampah menyumbat aliran kali itu di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Timbunan sampah menggunung hampir rata dengan ketinggian dua sisi bantaran di area Kampung Melayu, Jakarta Timur; dan Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Yati (60), warga bantaran Ciliwung di Bukit Duri, mengatakan, sejak lahir bermukim di daerah itu. Saat kecil, orangtuanya yang bekerja sebagai pedagang bambu keliling mendirikan rumah panggung di atas bantaran kali. Saat banjir besar, sebagian rumah hanyut. Namun, ia tak kapok dengan banjir yang selalu berulang tiap tahun itu. Bahkan, saat rumahnya terbakar pada 2010, Yati kembali mendirikan rumah di bantaran dengan posisi membelakangi Ciliwung.

Lingkungan tempat tinggal Yati pun, seperti umumnya di bantaran Ciliwung, dipadati hunian. Badan sungai menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga. Selokan di permukiman sarat dengan sampah.

Ketua Masyarakat Peduli Ciliwung (Matpeci) di Cikoko, Jakarta Selatan, Usman, mengakui ada perbedaan mencolok terkait kondisi bantaran Ciliwung dari ruas Kalibata-Kampung Melayu dengan bantaran di Condet hingga Depok. Warga bantaran di ruas Kalibata-Kampung Melayu paling sulit diajak menjaga kebersihan lingkungan. ”Siang hari kami membersihkan kali, malam harinya warga buang sampah ke kali,” katanya.

Menurut Usman, sejak tahun 2014 relawan peduli Ciliwung bekerja lebih semangat sebab memperoleh insentif dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Mulai dari perbatasan Depok hingga Manggarai kini ada 150 relawan yang dihimpun sebagai tenaga kerja pembersih Kali Ciliwung dengan upah sesuai UMP DKI.

Usman mengatakan, relawan itu diambil dari warga setempat yang tersebar di sejumlah ruas bantaran. Dengan demikian, diharapkan para relawan itudapat menarik warga berpartisipasi menjaga kebersihan Ciliwung.

Namun, ia mengakui, permasalahan riil di bantaran adalah pengangkutan sampah. Bantaran yang berada di lereng Ciliwung ini rata-rata daerahnya miring dan aksesnya hanya gang sempit. Jalan keluarnya, harus ada kerja keroyokan berbagai pihak untuk mengatasi kerusakan lingkungan di Ciliwung. (B03)

Sumber: Kompas | 23 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.