TRP
Pengacara Lima PKL Minta Keraton Bersaksi
25 September 2015 \\ \\ 381

YOGYAKARTA — Perwakilan Keraton Yogyakarta diminta memberikan kesaksian dalam kasus gugatan seorang pengusaha kepada lima pedagang kaki lima terkait penggunaan lahan milik keraton yang dipinjampakaikan kepada pengusaha itu. Kesaksian dari keraton itu penting untuk membuktikan apakah lima PKL itu benar-benar menduduki lahan yang dipinjampakaikan ke pengusaha tersebut atau tidak.

"Kami akan meminta majelis hakim menghadirkan perwakilan dari keraton sebagai saksi dalam kasus ini," kata pengacara lima pedagang kaki lima (PKL) yang digugat, Agung Pribadi, seusai mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Yogyakarta, Senin (21/9).

Seperti diberitakan, lima PKL yang biasa berjualan di Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta, itu digugat pengusaha bernama Eka Aryawan. Mereka, yakni Agung Budi Santoso, Budiono, Sugiyadi, Sutinah, dan Suwarni, dituduh menduduki lahan milik Keraton Yogyakarta atau Sultan Ground yang telah dipinjampakaikan kepada Eka. Selain meminta lima PKL mengosongkan lahan, Eka juga menuntut mereka membayar ganti rugi Rp 1,12 miliar.

Tanah keraton seluas 73 meter persegi itu dipinjampakaikan kepada Eka sejak 2011 untuk membangun jalan menuju tempat usahanya. Namun, Eka menuduh lima PKL itu menduduki 28 meter persegi dari total luas lahan 73 meter persegi. Majelis hakim PN Yogyakarta meminta kedua belah pihak menjalani mediasi, tetapi tak ada kesepakatan sehingga proses hukum dilanjutkan.

Kemarin, sidang kedua digelar dengan agenda pembacaan gugatan oleh kuasa hukum penggugat. Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Prio Utomo dengan anggota Suwarno dan Roedy Suharso. Seusai pembacaan gugatan, majelis hakim menunda sidang pada Rabu (30/9).

Agung Pribadi menyatakan, pihaknya meyakini lahan yang dipakai lima PKL untuk berjualan tidak termasuk sebagai bagian dari lahan yang dipinjampakaikan kepada Eka. Keyakinan itulah yang membuat para PKL tidak mau meninggalkan lahan sesuai tuntutan Eka. Untuk membuktikan hal itu, pengacara kelima PKL siap memberikan bukti dan menghadirkan saksi dalam persidangan.

Salah satu pihak yang kesaksiannya dianggap penting adalah perwakilan Keraton Yogyakarta, khususnya dari bagian Panitikismo yang mengurusi masalah pertanahan. Bagian Panitikismo keraton dipimpin KGPH Hadiwinoto, adik kandung Raja Keraton Yogyakarta Sultan HB X.

Menurut Agung, selain menerangkan tentang batas lahan yang dipinjampakaikan kepada Eka, perwakilan Panitikismo Keraton Yogyakarta juga bisa menjelaskan ihwal mekanisme pemberian hak pinjam pakai tanah keraton. "Panitikismo perlu menerangkan proses pemberian hak pengelolaan tanah keraton kepada pihak lain. Sebab, kalau pemberian hak berlangsung dengan benar, masalah semacam ini tidak akan muncul," ujarnya.

Dia menambahkan, kuasa hukum lima PKL juga akan menyajikan bukti hasil pengukuran lahan yang dilakukan bersama kedua belah pihak pada 2013. Agung mengklaim, berdasarkan pengukuran itu, kelima PKL tidak menduduki lahan yang dipinjampakaikan kepada Eka.

Kuasa hukum Eka, Oncan Poerba, mengatakan, kehadiran perwakilan Keraton Yogyakarta di persidangan bergantung pada perkembangan persidangan. "Yang jelas, kami tak perlu mengajukan saksi yang banyak. Sebab, fakta hukum yang kami hadirkan dalam gugatan ini dirasa sudah cukup kuat," ujarnya.

Hingga kini, Eka belum pernah dipanggil Keraton Yogyakarta untuk dimintai keterangan tentang sengketa tanah itu. "Apakah kami dipanggil keraton atau tidak, kami tidak tahu. Yang jelas, masalah ini sudah masuk ke ranah hukum. Proses hukum ini harus dihormati," katanya.

Anggota Tim Hukum Keraton Yogyakarta, Achiel Suyanto, menyatakan, keraton akan meminta keterangan Eka. Sebab, saat menerima hak pinjam pakai tanah keraton, Eka berjanji menyelesaikan masalah dengan para PKL secara baik. (HRS)

Sumber: Kompas | 22 September 2015 | SENGKETA TANAH

Artikel Terkait.
Berikan komentar.