TRP
Fasilitas bagi Pejalan Kaki Terabaikan
25 September 2015 \\ \\ 313

JAKARTA — Fasilitas umum bagi pejalan kaki di Ibu Kota kerap terabaikan. Trotoar di bawah jembatan penyeberangan orang Halte Polda, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, misalnya, berlubang.

Kondisi ini mengganggu kenyamanan sekaligus mengancam keamanan pejalan kaki.

Senin (21/9), terlihat lubang di trotoar itu berukuran 4 meter x 5 meter. Sebagian lubang di dekat badan jalan hanya ditutupi papan bekas. Kondisi jembatan penyeberangan orang (JPO) Halte Polda juga memprihatinkan. Dua lembar lantai JPO yang terbuat dari aluminium itu copot dari kerangkanya. Letaknya persis di mulut jembatan. Lantai jembatan yang lepas tersebut hanya ditopang kayu sehingga tak sedikit pula orang yang meniti di atas mulut jembatan itu karena takut terjeblos ke lubang.

"Januari lalu lubang itu hanya selebar sekitar 1 meter, tetapi karena musim hujan dan terus dibanjiri, lubang terus melebar hingga seluas saat ini," kata Mislam (46), tukang ojek pangkalan Halte Polda Metro Jaya.

Dua bulan lalu, kata Mislam, ada pengerjaan bawah tanah yang harus membongkar lantai JPO Halte Polda. Namun, setelah proyek itu selesai, tidak ada perbaikan di jembatan. Kayu di jembatan itu pun dipasang tukang ojek dan pedagang sekitar halte supaya pengguna jembatan bisa melintasinya. Bahkan, lebih parahnya lagi, antrean di jembatan mengular saat jam sibuk.

Ibu hamil terpeleset

Mislam mengatakan, selama ini sudah empat orang terpeleset karena tidak tahu bahwa lantai di mulut halte itu rusak. "Bulan lalu, seorang ibu hamil terpeleset dan telepon genggamnya jatuh ke lubang. Untung dia tidak jeblos ke lubang," katanya.

Selain konstruksinya yang rusak, di bawah trotoar juga ada kabel-kabel yang berseliweran, tanahnya pun tidak padat atau kopong. "Saya berpesan, jika mau melewati jalan ini pada malam hari, hati-hati. Penerangan di sekitar jalan juga gelap, berbahaya, bisa terperosok," kata Mislam.

Linda Haryani (31), karyawati di Kawasan Bisnis Terpadu Sudirman (SCBD) berharap segera ada perbaikan penutup yang rusak atau penggantian lantai JPO yang rusak. "Kami ingin lantai diperbaiki dan dipasang lebih kokoh agar tidak takut jalan di situ," ucap Linda yang sehari-hari turun di halte tersebut.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Yusmada Faizal menyatakan, masalah trotoar tersebut harus dikoordinasikan dengan dinas perhubungan terlebih dahulu. "Kalau trotoarnya merupakan tanggung jawab kami. Tetapi, karena ada JPO, ini harus bekerja sama dengan dinas perhubungan dulu," kata Yusmada.

Sebagian warga juga mempertanyakan ketegasan pemerintah dalam pemeliharaan trotoar. Tak sedikit dari ruas trotoar yang telah diperbaiki dijadikan tempat parkir mobil.

Di Jalan Lingkar Duren Sawit, Jakarta Timur, misalnya, trotoar yang baru saja diperbaiki dijadikan tempat parkir mobil oleh sebagian warga.

"Saya senang trotoar diperbaiki sehingga ada ruang untuk pejalan kaki seperti saya. Tapi, masalahnya, trotoar ini dijadikan tempat parkir mobil sehingga tidak bisa dilalui pejalan kaki," tutur Sriyati (59), warga Buaran, Kelurahan Duren Sawit, Kecamatan Duren Sawit.

Menurut Sriyati, semestinya pemerintah juga menertibkan warga yang menggunakan trotoar sebagai lahan parkir mobil. Dengan demikian, hak pejalan kaki tetap terpenuhi.

Trotoar di sepanjang Taman Tubagus Angke, Jakarta Barat, juga rusak. Lapisan paving block di sepanjang Jalan Pangeran Tubagus Angke itu banyak yang terlepas. Akibatnya, trotoar ompong di lebih dari lima titik.

Trotoar di salah satu sisi Jalan Pangeran Tubagus Angke itu juga menjadi jalur hijau dan jalan inspeksi Kali Angke. Ada beberapa pohon dan tanaman perdu yang ditanam sepanjang jalur tersebut. Pada sore dan malam hari, banyak warga memanfaatkan taman itu untuk berjalan kaki dan menunggu angkot. (B03/MDN/ILO/DEA/DNA)

Sumber: Kompas | 22 September 2015 | RUANG PUBLIK

Artikel Terkait.
Berikan komentar.