TRP
Normalisasi dari Hilir ke Hulu
25 September 2015 \\ \\ 532

Rencana Ideal Pulihkan Kondisi Lingkungan Kali

JAKARTA — Rekayasa teknologi mengatasi banjir luapan Kali Ciliwung tak pernah berhenti. Masa Pemerintah Belanda, kali yang meliuk-liuk dari arah Bogor ke pantai utara Jakarta ini disodet ke Kanal Barat. Setelah melalui tiga kali revisi masterplan sejak 1973, kini Ciliwung tak hanya dinormalisasi, tetapi juga disodet lagi ke Kanal Timur.

Sebagai proyek pengendali banjir Jakarta, Ciliwung merupakan satu dari sejumlah kali di Jakarta yang sedang dalam proses normalisasi. Sejak 2012, contohnya, telah berlangsung normalisasi Kali Pesanggrahan, Angke, dan Sunter (PAS). Namun, hingga saat ini normalisasi PAS yang ditargetkan selesai 2015 belum juga selesai karena masih terkendala pembebasan lahan.

Normalisasi Kali Ciliwung juga dimulai pada 2014, tetapi baru tahap menambah kapasitas debit air di pintu air bagian hilir. Dimulai dengan melebarkan Pintu Air Karet dan Pintu Air Manggarai yang berada di ruas Kali Ciliwung-Kanal Barat. Kali Ciliwung lama yang tak lagi diairi sejak kali itu disodet ke Kanal Barat juga ikut dinormalisasi, yakni mulai dari Pintu Air Manggarai sampai Masjid Istiqlal.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Mudjiadi pekan lalu mengatakan, pekerjaan normalisasi Kali Ciliwung dimulai dari hilir, yakni dari Jakarta. Sebab, kondisinya sudah sangat kritis. Bantaran kali itu sudah dikepung hunian sehingga badan sungai tak dapat lagi menampung air. Total ada 35.000 keluarga yang tinggal di sepanjang bantaran kali itu.

Sementara itu, di kawasan hulu, alamnya juga rusak. Saat musim hujan, volume air yang mengalir dari kawasan hulu selalu berpotensi membanjiri kawasan hilir di Jakarta. Debit banjir Kali Ciliwung dari masa ke masa pun terus meningkat. Pada 1918, debit banjir di Kali Ciliwung 280 meter kubik per detik, pada 1973 menjadi 370 meter kubik per detik, dan pada 1997 menjadi 570 meter kubik per detik.

Komprehensif

Namun, dalam penanganan banjir, menurut Mudjiadi, normalisasi Kali Ciliwung tetap dilaksanakan secara komprehensif. Di hulu air ditahan dengan pembuatan waduk. Di tengah dibuat normalisasi agar air dapat cepat mengalir. Di hilir dibangun tanggul laut.

Menurut Mudjiadi, tanggul laut itu untuk menampung limpahan air dari hulu. Tanggul laut itu dibutuhkan karena hingga 2050 aliran sungai di Jakarta sudah tak mampu meluncur secara gravitasi akibat parahnya penurunan muka tanah di Jakarta.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI, Jakarta dengan luas 661,52 kilometer persegi, sekitar 40 persen atau 24.000 hektar merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata di bawah permukaan air laut. Jakarta juga menjadi pertemuan 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta.

Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) selaku pelaksana normalisasi Kali Ciliwung telah memetakan area pekerjaan normalisasi menjadi empat ruas sepanjang 21,5 kilometer, dari Pintu Air Manggarai sampai jalan layang TB Simatupang. Kepala BBWSCC Teuku Iskandar menyampaikan, pembagian empat ruas itu hanya area kerja. Namun, dalam pelaksanaan normalisasi tergantung pembebasan lahan.

Cakupan normalisasi

Normalisasi itu meliputi pekerjaan memperlebar kali, memperdalam kali, dan memperkuat dindingnya dengan beton, serta menambah jalan inspeksi. Hanya di kawasan bantaran yang masih hijau, seperti di kawasan Condet, Jakarta Timur, dinding Kali Ciliwung diperkuat secara alami, atau tidak menggunakan beton.

Namun, rencana ini pun menuai kritik dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Ciliwung Merdeka, misalnya, menilai normalisasi Kali Ciliwung mengganggu keberlangsungan hidup masyarakat bantaran. Menurut Ketua Ciliwung Merdeka Sandyawan Sumardi, hunian di bantaran kali itu masih memungkinkan, yakni berupa rumah susun dengan sistem pasang surut.

"Ketika volume air meningkat, lantai dasar rusun dapat menjadi tempat air. Saat volume air turun, warga dapat memanfaatkan lantai dasar itu sebagai taman dan juga berkebun," jelasnya.

Iskandar mengaku, pihaknya juga telah memperoleh usulan itu dari Ciliwung Merdeka. Namun, pihaknya tak dapat mengikuti usulan itu karena tak disertai rencana detail. Ide pasang surut itu juga berarti harus ada saluran sirkulasi air untuk menjamin air tetap mengalir.

"Kami tetap lebih mengutamakan keselamatan warga. Tak mungkin kami membiarkan warga tinggal di daerah berisiko banjir," ujar Iskandar.

Untuk normalisasi Kali Ciliwung pun, Iskandar mengungkapkan, ada bagian Kali Ciliwung yang akan dipotong, yakni di kawasan Kebon Baru, Jakarta Selatan. Alur kali itu meliuk lebar menyerupai bokong Semar. Menurut rencana, alur tersebut akan dipotong, dari sebelumnya memiliki alur sepanjang 1.300 meter dipotong menjadi 150 meter.

Namun, pekerjaan pemotongan alur kali itu, menurut Iskandar, tidak dilaksanakan sekarang. Pemotongan tersebut berisiko tinggi karena air akan meluncur lebih cepat dan berpotensi menyebabkan banjir di hilir.

Karena itu, kapasitas air di kawasan hilir diperbesar terlebih dulu. Di ruas Kampung Pulo, Kecamatan Jatinegara, misalnya, ditingkatkan dari 200 meter kubik per detik menjadi 500 meter kubik per detik.

Aliran air Kali Ciliwung juga disodet ke Kanal Timur melalui Kali Cipinang. Penyodetan aliran air menggunakan pipa dengan kapasitas 60 meter kubik per detik yang pekerjaannya sampai saat ini masih berlangsung.

Jika kawasan hilir di Kampung Pulo sudah siap pun, menurut Iskandar, itu juga tak berarti alur Kali Ciliwung di Kebon Baru dapat langsung dipotong. Hambatan besar masih dihadapi karena ada lebih dari 4.000 keluarga bermukim dalam kelokan Kali Ciliwung itu yang perlu direlokasi.

"Rencana kami, warga di dalam kelokan sungai itu dikeluarkan sementara selama dua tahun. Kemudian di tempat tinggalnya didirikan rusun sebagai tempat relokasi. Namun, itu bukan pekerjaan mudah," jelasnya.

Karena itu, menurut Iskandar, rencana pekerjaan memotong alur Kali Ciliwung diletakkan di urutan terakhir. Sementara itu, BBWSCC juga membangun pengendali banjir di kawasan hulu Ciliwung dengan membangun Waduk Ciawi dan Sukamahi.

Pulihkan lingkungan kali

Iskandar mengatakan, rencana teknis normalisasi Ciliwung ini merupakan rencana ideal untuk memulihkan kondisi lingkungan kali. Hal itu pula yang dilaksanakan di sejumlah negara maju yang telah memiliki tata kelola air yang baik saat pertama kali memulai normalisasi.

Tentang kekhawatiran penggunaan beton di dinding kali merusak lingkungan, menurut Iskandar, itu sangat bergantung pada kondisi area bantaran. Bantaran yang berada di tengah kepungan hunian, seperti Kampung Pulo, hanya dapat menggunakan beton karena di sana tak ada pepohonan yang dapat menahan dinding sungai. Lain halnya di kawasan Condet, dinding Kali Ciliwung di sana akan diperkuat secara alami oleh pepohonan.

Iskandar mengaku, dengan teknis normalisasi yang dilaksanakan sekarang, itu memang tak menjamin Jakarta benar-benar bebas dari banjir. Dalam sejarahnya pun banjir di Jakarta sudah terjadi sejak zaman penjajahan Belanda. Buktinya pada 1922 Pemerintah Belanda dengan bantuan Profesor Herman van Breen membangun Kanal Barat untuk menyodet aliran Kali Ciliwung. Pada masa itu pun telah direncanakan pembangunan Kanal Timur yang baru terealisasi sebelum 2010.

"Setidaknya normalisasi ini mengurangi potensi banjir Jakarta," jelasnya. (FRO/DNA/MDN)

Sumber: Kompas | 21 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.