TRP
Hilangnya Ikan di Laut Kami...
25 September 2015 \\ \\ 305

Apa jadinya jika laut mulai kehilangan ikannya? Saat jala ditebar, yang tersangkut hanya lumpur dari pengurukan pulau. Bagi Tatang, yang telah 40 tahun menjadi nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara, hal itu tentu kabar buruk.

”Laut ini tempat hidup saya. Kalau laut diubek-ubek, sama saja menghilangkan mata pencarian saya.”

Semilir angin membawa bau amis ikan bercampur bau sampah begitu kaki menginjak perkampungan nelayan di sisi barat Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis (17/9) siang itu. Sinar matahari yang terik membuat bau ”khas” sekitar pelabuhan ini makin menyeruak.

Namun, panas dan bau itu tak membuat Tatang bergeser dari sampannya yang sudah kusam warnanya. Duduk membelakangi laut, ayah sembilan anak itu mengambil gayung lalu menguras air dari dasar sampan yang bocor. Raut wajahnya murung.

”Hari ini cuma dapat lima ekor ikan ketang-ketang. Gimana mau dijual kalau begitu? Lebih baik dikasih tetangga,” ucapnya sambil tersenyum kecut.

Wajar saja Tatang kecewa. Sekali melaut, dia menghabiskan waktu sekitar 16 jam. Pukul 17.00, dia sudah berangkat dari Pelabuhan Kali Adem. Dia baru pulang keesokan harinya, sekitar pukul 09.00.

Bukan hanya kali ini Tatang pulang dengan tangkapan minim. Sehari sebelumnya, dia hanya mampu membawa pulang 3 kilogram ikan. Ikan itu lalu dijual seharga Rp 15.000. Padahal, sekali melaut, dia membutuhkan modal Rp 30.000.

Modal itu digunakan membeli bensin premium untuk bahan bakar mesin sampannya dan es batu untuk mendinginkan ikan tangkapan.

Ia menuturkan, pekerjaannya ini sudah tak seperti dulu. ”Kami ini, kalau tidak melaut, tidak mendapatkan uang, tetapi melaut juga malah rugi,” keluhnya.

”Yang terjaring cuma lumpur. Lihat saja jaringnya sudah berwarna coklat.”

Jaring rampus yang dipakai Tatang telah berubah warna meski baru dibeli beberapa bulan lalu. Warnanya putih kekuning-kuningan. Satu jaring lagi telah berwarna kuning pekat.

Menurut dia, hal ini terjadi sejak laut di sekitar Muara Angke terus diuruk. Lumpur yang masuk ke jaringnya itu ia yakini berasal dari proses reklamasi di sekitar Muara Angke.

Pembangunan pulau

Pengurukan untuk pembangunan dua pulau reklamasi di sekitar Muara Angke telah terjadi sejak tahun lalu. Pengurukan membuat laut keruh karena pasir dan lumpur. Satu pulau lagi segera dibangun sekitar 300 meter di utara Pelabuhan Muara Angke. Balon-balon penanda area pengurukan telah terpasang.

”Kalau sekarang melaut, kami harus memutar. Padahal, dulu tinggal bablas saja. Bahan bakar tentu tambah karena perjalanan tambah hingga 1,8 kilometer,” kata Masduki (57), nelayan rajungan yang ditemui di sekitar dermaga Muara Angke, Rabu.

Nelayan asal Indramayu ini menceritakan, makin lama tempat pencarian ikan makin jauh dari pesisir. Saat ini, dia harus menempuh perjalanan sekitar 5,5 kilometer.

Hasil yang diperolehnya pun tak seberapa. Jika sedang beruntung, paling-paling ia bisa mendapatkan 10 kilogram rajungan.

Padahal, beberapa tahun lalu, dia mendapatkan hingga 25 kilogram rajungan sekali melaut. Mencari tangkapan pun tak perlu berlayar jauh, hanya sekitar 1,8 kilometer.

”Kalau bicara penghasilan, tentu makin berkurang. Kalau mencari rajungan di dekat pantai, sudah hampir dipastikan hasilnya sangat kurang. Dulu, di sekitar Ancol masih banyak (rajungan), tetapi sekarang di sana sudah dikeruk juga,” ungkapnya.

Pengurukan dan pembangunan pulau ini juga mulai meresahkan nelayan teri dengan kapal yang lebih besar. Firman (54), Rabu itu, bersama sebelas rekannya hanya mendapatkan 4 kuintal ikan.

”Rata-rata setiap melaut dapatnya cuma segitu, lalu dibagi ke awak dan yang punya (kapal). Cuma dapat Rp 30.000 sehari. Kalau dulu bisa sampai 1 ton, itu juga paling 12 kilometer keluarnya,” kata ayah tiga anak ini.

Firman juga mengeluhkan tak adanya sosialisasi kepada nelayan terkait perubahan alur pelayaran. Tiba-tiba saja pembangunan berlangsung sehingga membuat alur kapal berubah.

”Kalau ada pekerjaan lain, saya mau. Jadi anggota satpam atau kerjaan lain saya mau coba. Jadi nelayan sekarang sudah tambah susah,” katanya.

Daerah Teluk Jakarta, seperti dituturkan Koordinator Riset Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Institut Pertanian Bogor Syamsul Bahri Agus, adalah habitat rajungan, udang, bandeng, teri, dan sejumlah ikan lain. Meski terdampak limbah dan pembangunan, sebagian wilayah itu masih menjadi habitat hewan-hewan laut tersebut.

Selama itu pula, laut di wilayah itu menjadi mata pencarian utama ribuan nelayan pinggiran. ”Saat reklamasi mulai dilakukan, ekosistem di wilayah itu pasti berubah. Habitat ikan rusak dan ikan akan berpindah. Selain itu, aliran arus jadi tidak sama dan fungsi mangrove yang tersisa sudah tak relevan. Dari semua itu, nelayan yang paling terdampak,” papar Syamsul.

Pakar oseanografi IPB, Alan Koropitan, menambahkan, dengan adanya pembangunan di Teluk Jakarta, bisa dipastikan ikan-ikan hilang. Sebab, sedimentasi akan terjadi dan membuat fotosintesis di dasar laut terganggu. Dengan begitu, pasokan makanan ikan juga pasti akan berkurang.

”Belum reklamasi saja habitat ikan telah berkurang karena limbah padat dan cair, apalagi kalau ditambah pembangunan,” ujar Alan.

”Kalau sudah terbangun seperti ini, sulit berkomentar lagi. Kami inginnya solusi dari pemerintah bukan seperti ini.” katanya. Oleh Saiful Rijal Yunus

Sumber: Kompas | 19 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.