TRP
Menjaga Sisa Hutan Warisan Chastelein
25 September 2015 \\ \\ 396

"Tugas saya adalah menyuburkan dan memakmurkan Bumi, bukan merusak atau membuat onar," kata Ruslan (30), warga Pancoran Mas, Depok. Bersama warga setempat, Ruslan berjuang agar taman hutan raya di Pancoran Mas yang dibangun pada abad ke-17 tetap lestari.

Kawasan konservasi atau Taman Hutan Raya Pancoran Mas (dikenal juga dengan sebutan Tahura Depok) terletak di Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat. Tahura itu terletak di antara permukiman padat penduduk.

Kamis (17/9) sore, hutan terlihat rimbun dengan berbagai jenis tanaman, seperti rotan, mahoni, kecapi, matoa, dan walisongo. Selain menjadi tempat tumbuhnya berbagai jenis tanaman, hutan itu juga pernah dihuni berbagai satwa, seperti harimau jawa, monyet, kancil, kijang, rusa, dan kelinci hutan. Sebagian besar hewan itu kini sudah lenyap, tinggal beberapa hewan melata yang bertahan.

Ruslan, seperti halnya warga lain, dulu takut melintas di sekitar Tahura Depok. Pohon-pohon tumbuh tinggi menjulang. Saat malam, suasananya gelap gulita karena tak ada penerangan sedikit pun.

Sejak empat tahun lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok memasang lampu dan pagar mengelilingi hutan. Tiga pekerja, termasuk Ruslan, direkrut untuk membersihkan dan menjaga hutan. Meski dibayar Rp 1,5 juta per bulan, Ruslan bertugas segenap hati. "Saya cinta dengan alam. Saya ingin kelestarian hutan terjaga," katanya.

Setiap hari Ruslan bertugas mengangkut sampah, mencabut tanaman pemangsa, dan menjaga hutan dari tangan-tangan jahil yang merusak. Menjaga kawasan konservasi di tengah permukiman padat penduduk itu tidak mudah.

Masyarakat kerap membuang sampah di dalam hutan. Selain itu, pagar hutan sering dijadikan tempat menjemur pakaian. Saat musim kemarau, suasana hutan gersang. Debu tebal menempel di tiap helai daun, bagian bawah pohon dipenuhi daun-daun kering. Hutan jadi terkesan kurang terawat.

Zani (60), petugas kebersihan di hutan itu, mengatakan sudah sering mengingatkan warga untuk tak membuang sampah di hutan. "Namun, masih ada saja warga yang kurang peduli," ujarnya.

Warisan Chastelein

Taman Hutan Raya Pancoran Mas merupakan warisan tuan tanah kaya asal Belanda, Cornelis Chastelein (1657-1714). Saat membeli tanah di Depok, dia memimpikan sebuah komunitas masyarakat ideal yang hidup makmur dan menyatu dengan alam.

Jean Rocher, mantan Atase Pertahanan Perancis di Jakarta (1994-1997), dalam buku Sejarah Kecil Indonesia-Prancis 1800-2000 menuliskan, Chastelein membeli tanah di Gambir, Srengseng (sekitar Lenteng Agung), Mampang, Depok, Karang Anyer, dan Ciliwung untuk mengembangkan budidaya kopi, tebu, lada, dan persawahan.

Chastelein lalu membentuk komunitas pertanian Depok dan membangun cagar alam yang indah dan alami. Cagar alam itu lah cikal bakal Tahura Depok.

Ketika Chastelein meninggal tahun 1714, dia mewariskan seluruh tanahnya di wilayah Depok kepada 150 budaknya yang telah dibebaskan. Namun, dalam surat wasiatnya dituliskan, lahan hutan tak boleh dipindahtangankan dan harus dikelola sebagai cagar alam.

Berselang dua abad, cagar alam itu diserahkan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk kemudian dikelola Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda (Nederlandsch-Indische Vereeniging tot Natuurbescherming).

Cagar alam ini lalu dikukuhkan sebagai Natuurreservaat berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Nomor 7 tanggal 13 Mei 1926 dan bersama dengan Cagar Alam Cibodas-Gede (sekarang bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) menjadi cagar alam pertama di Indonesia.

Pada 1999, melalui Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan, cagar alam ini diubah statusnya menjadi Taman Hutan Raya Pancoran Mas.

Zainudin MZ (75), sesepuh warga Pancoran Mas, mengatakan, seiring berjalannya waktu, warga mulai tinggal di sekitar tahura itu. Warga yang kebanyakan petani itu mendirikan gubuk-gubuk kayu untuk tempat berteduh. Saat jumlah penduduk kian banyak, gubuk bertambah dan berubah menjadi rumah permanen dari tembok.

Selain membangun rumah, warga juga membuat jalan, kantor, dan pusat perbelanjaan. Lambat laun, perkembangan kota yang pesat membuat tahura berangsur-angsur menyempit, dari awalnya 150 hektar kini tinggal 6 hektar.

Warga pun sepakat hutan itu tak boleh beralih fungsi. "Luas yang ada sekarang tak boleh lagi berkurang," kata Zainudin.

Bersama warga Pancoran Mas, Zainudin lalu membentuk organisasi masyarakat Taman Hutan Raya Pancoran Mas (Ormas Tahura) pada 1999. Komunitas itu sering terlibat dalam kegiatan penanaman pohon.

Ormas Tahura, lanjutnya, pernah mengusulkan kepada Pemerintah Kota Depok untuk membangun penangkaran kupu-kupu dan kumbang di dalam kawasan hutan. Warga bahkan sepakat mengumpulkan uang secara swadaya untuk membangun penangkaran satwa. Sayangnya, usul itu kurang mendapat respons dari pemkot.

Tedi Rustandi, anggota staf Bidang Pemberdayaan dan Konservasi Badan Lingkungan Hidup Depok, mengatakan, pembangunan Tahura Depok terkendala masalah biaya. "Selama ini, anggaran kami hanya cukup membayar petugas kebersihan dan petugas jaga," ujarnya.

Selain itu, menurut Tedi, pembangunan juga terkendala masalah perizinan. Namun, mulai tahun depan, Pemkot Depok berencana membangun tahura menjadi laboratorium pendidikan dan rekreasi. Semoga rencana ini terwujud.... (ONG)

Sumber: Kompas | 18 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.