TRP
Dari ”Cluster” hingga ”Klaster”
25 September 2015 \\ \\ 619

Seorang pejabat Kabupaten Tangerang sempat menyampaikan ”protes”. Ihwalnya, sebuah mal besar yang baru dibuka dan sedang ngetop-ngetopnya, Aeon—dibaca ion—disebutkan berlokasi di BSD City, Tangerang Selatan. ”Giliran yang harum-harum disebutkan Tangerang Selatan. Kalau ada soal sampah disebut Kabupaten Tangerang,” katanya.

Usut punya usut, rupanya ada kesalahan penyebutan lokasi mal bergaya saudara tua, Jepang, seluas 20.000 meter persegi itu. Secara administratif, mal yang kalau akhir pekan cari parkir saja susah itu rupanya bukan terletak di Tangerang Selatan, melainkan di Kabupaten Tangerang. Tepatnya di Desa Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Namun, salah kaprah terjadi. Ketika orang menyebut BSD City, mereka merasa kawasan perumahan itu berada di Tangerang Selatan.

Nama yang dipopulerkan pun kini BSD City, bukan Kota Baru Bumi Serpong Damai, seperti saat perumahan tersebut dibangun pada 1989-an oleh Grup Ciputra.

Kesalahan penyebutan lokasi atau daerah di mana-mana kini menjadi hal yang lumrah. Untuk alamat surat atau paket, misalnya, orang lebih suka menyebutkan alamat rumah dengan nama perumahannya dibandingkan nama desa atau kecamatan di mana dia tinggal. Alamat ”Jl La Vintage Blok sekian, Cluster Virgin Island nomor sekian, De Latinos BSD City, Tangerang Selatan” lebih dipilih. Desa Rawabuntu jarang disebut karena mungkin dianggap tidak berbau modern atau terkesan udik.

Masih banyak contoh perumahan lain di Jakarta dan pinggirannya. Nama-mana perumahan berbau luar negeri, dari nama tempat-tempat terkenal di Benua Eropa hingga Amerika akan mudah ditemui di Jabodetabek dan seluruh negeri ini. Nama-nama perumahan asing tersebut bisa seluruhnya asing atau campuran dengan nama lokal.

Di Kampung Pakis, Desa Rawakalong, Kecamatan Gunung Sindur, misalnya, ada perumahan dengan nama ”Grand Pakis”. Namun, di Lengkong, Tangerang, juga ada nama perumahan ”Greenwich Park”.

”Klaster”

Jejen Jaelani dan kawan-kawan dari Institut Teknologi Bandung dalam Jurnal Sosioteknologi ITB menyebutkan, penamaan kompleks perumahan dengan nama asing itu mengesankan eksklusivitas, prestise, dan kebahagiaan para penghuninya. Mereka yang tinggal di dalamnya memiliki cara hidup yang baru dan berbeda dengan masyarakat sekitarnya.

Di perkampungan sekitar Jabodatabek kini dibangun perumahan-perumahan dengan benteng-benteng tinggi. Benteng-benteng beton dibangun tegas membatasi diri dengan lingkungan sekitar.

Plang-plang nama perumahan pun ditulis besar-besar, bukan lagi menggunakan kata ”perumahan atau taman”, melainkan bisa ”Village, Residence, Estate, atau Park”. Para penghuninya pun secara langsung memisahkan diri dengan lingkungan sekitar. Mereka membentuk masyarakat elitis yang memisahkan diri dengan kampung sekitarnya.

Rumah-rumah dalam benteng itu menyebut dirinya sebagai cluster (unit lokasi). Biasanya di dalam cluster tersebut yang dibangun adalah perumahan menengah-atas. Jika rumah-rumah sederhana yang dibangun, bisa juga maksa menyebut diri ”klaster” alias ”kelas teri”.

Bagaimanapun, masih ada ”Harapan Indah” di Bekasi.... Oleh Agus Hermawan

Sumber: Kompas | 18 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.