TRP
Waspadai Keruwetan Area LRT
14 September 2015 \\ \\ 964

Belum Ada Dokumen Rekayasa Lalu Lintas Saat Proses Konstruksi

JAKARTA — Kereta ringan atau LRT diharapkan bisa efektif mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya. Namun, aktivitas pembangunan jalur transportasi massal tersebut diharapkan tidak malah menambah keruwetan lalu lintas.

Warga tidak ingin kesemrawutan di area proyek jalan layang dan kereta massal cepat (MRT) selama ini berulang di area proyek LRT (light rail transit). Proyek LRT diperkirakan bakal dikebut karena ditargetkan rampung sebelum Asian Games 2018.

Berdasarkan penelusuran Kompas di rute LRT tahap I (Cibubur-Cawang), Sabtu (12/9), di sepanjang Tol Jagorawi, mulai dari wilayah Cibubur, Jakarta Timur, hingga wilayah Cipayung memang tidak ada jalan umum yang bersinggungan dengan rencana trase LRT.

Namun, setelah melewati Cipayung, tepatnya mulai dari Jalan Bina Marga sampai ke Cawang, jalur LRT yang direncanakan itu banyak yang berimpit dengan jalan umum.

Di dekat Gerbang Tol Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, tampak lokasi proyek LRT yang Rabu pekan lalu diresmikan Presiden Joko Widodo. Alat berat berwarna merah bertuliskan "LRT" milik PT Adhi Karya itu terlihat mengangkut pancang-pancang beton, Sabtu sore.

"Semoga keberadaan proyek LRT tidak menambah kemacetan yang sudah ada. Saya mengerti bahwa pembangunan ini adalah upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengatasi kemacetan di Ibu Kota. Namun, kalau ini tidak bisa dikendalikan, situasi semakin berat karena akan bertambah banyak titik kemacetan," kata Edi Suherman (44), warga Jalan Bina Marga, Cipayung, Jakarta Timur, yang tak jauh dari sisi tol yang akan menjadi trase LRT.

Edi menjelaskan, biasanya ia mengantar anak sekolah sekitar pukul 05.00 menuju daerah Ragunan, Jakarta Selatan. Sebelum ada proyek pembangunan jalan layang di perempatan Kuningan, Jakarta Selatan, perjalanan tersebut hanya memakan waktu kurang dari setengah jam. Namun, saat ini, rute yang sama ditempuh dalam waktu lebih dari satu jam.

"Apalagi kalau proyek LRT ini tidak diatur dengan baik, bisa-bisa akan makan waktu dua jam. Itu baru perjalanan berangkat, belum lagi pulangnya," tutur Edi. Jalan yang mengecil dengan volume kendaraan yang tinggi mengakibatkan macet. Belum lagi terkadang ditambah lampu lalu lintas yang tidak berfungsi.

Proyek-proyek pembangunan jalan layang, terowongan, tol, dan MRT juga diyakini sebagian warga sebagai faktor penyebab kemacetan sulit diurai. Ketidakdisiplinan pengendara terhadap aturan lalu lintas memperburuk kondisi jalanan (Kompas, 8/4).

Perlu sosialisasi

Thomas Nainggolan (47), warga Jalan Jankes AD, Munjul, Jakarta Timur, berharap proyek LRT nantinya juga tak terlalu menimbulkan kebisingan dan debu. Thomas juga menginginkan pembangunan LRT cepat selesai dan jangan sampai kembali jadi proyek mangkrak.

"Memang tidak mungkin ada pembangunan yang tidak gaduh, tetapi setidaknya harus ada sosialisasi kepada kami dulu," katanya.

Proyek LRT tahap 1 masing- masing terdiri dari tiga lintas pelayanan, yaitu meliputi lintas layanan Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang, dan Cawang-Dukuh Atas dengan 21 stasiun sepanjang total 42,1 kilometer.

Hingga Minggu (13/9), belum tampak aktivitas proyek LRT di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Baru terlihat aktivitas pengerjaan konstruksi MRT Lebak Bulus-Bundaran HI.

Dania, seorang karyawan di kawasan Sudirman, berharap stasiun LRT dan stasiun MRT nantinya bisa terhubung dengan Stasiun KRL Sudirman serta halte transjakarta yang sudah ada di Dukuh Atas. "Kalau semua terhubung, kami yang pakai angkutan umum ini bisa lebih mudah pindah-pindah angkutan. Enggak harus menyeberang jalan. Apalagi, jalan di sini ramai kendaraan," ucapnya, kemarin.

Rekayasa lalu lintas

Kepala Bidang Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Masdes Arroufy, Minggu, mengatakan, dokumen analisis dampak lalu lintas proyek LRT masih dipersiapkan oleh PT Adhi Karya dan PT Jakarta Propertindo sebagai pihak-pihak yang ditunjuk untuk membangun jalur LRT.

"Setelah dokumen selesai, mereka akan mengajukan isinya kepada kami untuk dibahas bersama tim evaluasi guna mendapat persetujuan atau rekomendasi," kata Masdes.

Rekayasa lalu lintas diperlukan karena sebagian lajur jalan akan digunakan untuk pembangunan struktur LRT. Masdes mengatakan, dinas perhubungan dan transportasi akan menginformasikan secara rutin kepada warga jika ada rekayasa lalu lintas, misalnya penyempitan lajur jalan, penutupan jalan, atau pengalihan arus lalu lintas, seperti yang telah dilakukan untuk proyek MRT.

Dia berharap pengguna jalan bisa mematuhi rekayasa lalu lintas dan menggunakan jalan alternatif di sekitar area proyek agar tidak terjebak kemacetan.

Dalam diskusi Forum Ekonomi Nusantara yang diadakan Kompas-BNI di Jakarta, pekan lalu, Direktur PT Adhi Karya Pundjung Setya Brata mengatakan, pihaknya masih merampungkan detail engineering design (DED) LRT tahap 1.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan, para pihak yang membangun transportasi umum di Jakarta diharapkan segera membuat kajian dan rekomendasi tentang beberapa hal yang mendesak. "Misalnya, ketika transportasi publik sudah berjalan, baik MRT, LRT, KRL, maupun bus transjakarta, semua mengarah ke Dukuh Atas. Kita harus mengkaji daya dukung Dukuh Atas. Kemudian, di mana alternatif lain supaya tak semua (transportasi umum) mengarah ke Dukuh Atas," katanya.

Menurut Djarot, sudah ada kajian bahwa pada saat jam sibuk sebanyak 25.000 orang bakal memadati Dukuh Atas. "Bisa dibayangkan, 25.000 orang itu ada bersamaan dan memiliki tujuan masing-masing. Ada yang mau naik bus transjakarta, MRT, LRT, atau KRL. Harus dikaji betul jalur-jalurnya," ujarnya.

Menata stasiun

Untuk mendukung pembangunan LRT, Pemerintah Kota Jakarta Selatan bersiaga menata kawasan di sekitar stasiun transit kereta api. Stasiun yang kemungkinan dipakai untuk transit LRT adalah Stasiun Pancoran dan Stasiun Kuningan.

Di Jakarta Selatan, saat ini ada empat pembangunan infrastruktur transportasi. Keempatnya adalah pembangunan MRT, jalan layang khusus bus transjakarta Koridor XIII Ciledug-Tendean, jembatan layang Kuningan Selatan, dan jembatan layang Permata Hijau. Asisten Pembangunan Pemerintah Kota Jakarta Selatan Tri Wahyuningdyah mengatakan, pembangunan LRT dipastikan akan berdampak pada kepadatan lalu lintas.

Mengantisipasi kesemrawutan, penataan kawasan di sekitar stasiun transit LRT dan lokasi pembangunan diperlukan. "Kami akan menekan jumlah pedagang kaki lima. Penertiban dan penjagaan kawasan diperlukan," katanya. Selain itu, sosialisasi kepada warga dan pengalihan arus lalu lintas juga akan disiapkan.

Sejauh ini, menurut Tri, belum ada perintah pembebasan lahan terkait LRT. Pembangunan memakai lahan pemerintah dan PT KAI. (B03/FRO/ART/DNA)

Sumber: Kompas | 14 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.