TRP
Zona Inti Gumuk Pasir Mulai Ditata
14 September 2015 \\ \\ 477

BANTUL — Pemerintah mulai menata kawasan gumuk atau bukit pasir di pesisir selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penataan dimulai di zona inti gumuk pasir yang memiliki luas 141 hektar. Beberapa rumah dan tambak udang di zona inti akan ditertibkan, sejumlah pohon di kawasan itu juga bakal ditebang.

Peresmian penataan gumuk pasir ditandai dengan pemasangan patok batas zona inti oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, dan Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Priyadi Kardono, Jumat (11/9) sore. Dalam acara itu juga dilakukan peresmian perubahan nama Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis, lembaga yang selama ini meneliti gumuk pasir, menjadi Parangtritis Geomaritime Science Park.

"Gumuk pasir ini sangat penting untuk diteliti, sebenarnya apa saja kandungan di dalamnya. Bisa juga dikembangkan sebagai obyek wisata. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga kelestarian dan kebersihan gumuk pasir," kata Muhammad Nasir.

Gumuk pasir yang berada di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, tersebut merupakan fenomena alam yang terbentuk sejak ribuan tahun lalu. Pasir pembentuk gumuk itu berasal dari material vulkanik Gunung Merapi yang mengalir ke beberapa sungai dan terbawa ke laut selatan. Akibat ombak dan angin, pasir di laut itu terbawa ke pantai dan wilayah sekitarnya hingga membentuk bukit-bukit.

Namun, beberapa waktu terakhir, gumuk pasir tersebut rusak, termasuk akibat maraknya pembangunan tambak udang di wilayah itu. Padahal, gumuk pasir memiliki fungsi ekologis yang penting, misalnya untuk melindungi wilayah pesisir dari terjangan tsunami. Kerusakan gumuk pasir juga membuat wilayah pesisir mudah terkena abrasi atau pengikisan daratan pantai karena gelombang air laut.

Harus dijaga

Sultan mengatakan, zona inti gumuk pasir harus bebas dari permukiman karena pembangunan rumah bisa merusak gumuk yang sudah terbentuk. Sejumlah pohon di kawasan tersebut juga akan ditebang karena mengubah arah angin di kawasan tersebut sehingga mengganggu terbentuknya gumuk pasir.

"Sesudah pemasangan patok batas, saya titip gumuk pasir ini kepada Pak Camat, Pak Lurah, Pak Dukuh, dan masyarakat setempat untuk dijaga. Sebab, gumuk pasir ini mempunyai fungsi penting, tidak hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk masyarakat," kata Sultan.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan BIG dan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, kawasan gumuk pasir terbagi ke dalam beberapa zona, yakni zona inti, zona terbatas, dan zona penunjang. Luas zona inti gumuk pasir diusulkan 141,1 hektar, luas zona terbatas 95,3 hektar, dan zona penunjang 176,4 hektar.

"Namun, zona-zona tersebut perlu ditetapkan dengan landasan hukum, misalnya peraturan gubernur. Kami berharap tahun depan aturan hukumnya bisa terbit," kata Priyadi Kardono.

Saat ini, katanya, di zona inti gumuk pasir terdapat sejumlah rumah, tambak udang, dan pohon cemara udang yang mengganggu kelestarian gumuk. Oleh karena itu, obyek-obyek tersebut akan ditertibkan secara bertahap.

"Tahun ini, kami akan memasang patok batas mengelilingi zona inti dulu. Sesudah itu, langkah selanjutnya adalah menebang pohon yang mengganggu gumuk pasir, sementara penertiban rumah dan tambak udang merupakan wewenang pemerintah daerah," ujarnya.

Rektor UGM Dwikorita Karnawati mengatakan, gumuk pasir merupakan fenomena alam yang langka di dunia sehingga kawasan tersebut sangat penting untuk dilestarikan. Gumuk pasir juga penting untuk diteliti sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan.

"Kita, misalnya, bisa mengembangkan kajian ketersediaan air bawah tanah di gumuk pasir. Sekitar 10 tahun lalu, sebenarnya data air bawah tanah kawasan ini sudah terkumpul. Akan tetapi, tentu penelitiannya harus dilanjutkan kembali," kata Dwikorita. (HRS)

Sumber: Kompas | 12 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.