TRP
Tol Dukung Bandung Selatan
11 September 2015 \\ \\ 668

Mendongkrak Kunjungan ke Obyek Wisata

BANDUNG — Jalan Tol Soreang- Pasirkoja yang menghubungkan Kota Bandung dengan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, akan mendongkrak kunjungan ke obyek wisata di kawasan Bandung selatan. Tol itu menjadi urat nadi baru di samping jalan lama, yakni Jalan Kopo, yang sering dilanda kemacetan lalu lintas.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Kamis (10/9), meresmikan dimulainya pembangunan tol sepanjang 8,13 kilometer tersebut. Acara groundbreaking dilakukan di kawasan Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung.

Tol Soreang-Pasirkoja (Soroja) adalah salah satu dari tiga jalan tol yang perjanjian pengusahaannya telah ditandatangani pemerintah. Ketiga jalan tol sepanjang 171,01 kilometer itu senilai Rp 21,6 triliun. Dua tol lain adalah Bakauheni-Terbanggi Besar, Lampung, dan Palembang-Indralaya, Sumatera Selatan sebagai bagian dari Jalan Tol Trans-Sumatera.

Pembangunan jalan tol merupakan sasaran pokok dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 dengan target 1.000 kilometer sampai dengan 2019. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengatakan, pembangunan Tol Soroja bertujuan untuk pemerataan pembangunan daerah.

"Selama ini, perkembangan masih bertumpu pada kawasan Bandung utara. Padahal, Bandung selatan juga memiliki kawasan yang tidak kalah untuk dikembangkan," ujar Basuki.

Gubernur Jabar menyebutkan, obyek wisata di Bandung selatan yang bakal terdongkrak misalnya Kawah Putih, Situ Patenggang, dan kawasan wisata Pangalengan.

Jalan tol yang akan menyerap dana investasi Rp 1,5 triliun itu akan dibangun dengan struktur at grade dan terbagi dalam tiga seksi pembangunan. Jalan tol itu nantinya memiliki 3 interchange, yaitu Pasirkoja, Margaasih, dan Katapang, serta 6 gerbang tol. Heryawan menargetkan pembangunan tol selesai pada September 2016, bertepatan dengan pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016.

Menurut rencana, upacara pembukaan PON 2016 dilaksanakan di Stadion Si Jalak Harupat. Karena itu, Tol Soroja menjadi pendukung terlaksananya pembukaan dan penutupan PON 2016. Heryawan menambahkan, tidak ada kendala apa pun dalam tahapan pembangunannya dan diharapkan Agustus atau sebelum PON 2016 tol itu sudah rampung.

"Pembangunan ini pun harus didukung dengan akses penunjang lain sehingga harapan percepatan pembangunan di kawasan Bandung selatan bisa tercapai dengan maksimal," katanya.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Jabar Iwa Karniwa menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jabar menganggarkan dana Rp 60 miliar dari APBD Perubahan 2015 untuk membenahi Stadion Si Jalak Harupat. Biaya itu termasuk untuk melebarkan jalan dari ujung tol di Soreang menuju stadion menjadi 9 meter-12 meter. Sekarang lebar jalan 6 meter.

Pembangunan jalan itu, lanjut Iwa, akan sangat membantu kelancaran pelaksanaan PON 2016. Jalan tol itu sangat penting untuk memudahkan akses menuju Stadion Si Jalak Harupat. Kalau tidak ada jalan tol, akses ke stadion itu merepotkan karena harus melalui jalan umum yang sangat padat. "Dengan jalan tol itu, kami sangat terbantu," ujar Ketua Harian PB PON 2016 itu.

Jalur kereta

Dari Lamongan, Jawa Timur, dilaporkan, jalur kereta api Babat-Jombang yang sudah puluhan tahun tidak digunakan akan diaktifkan kembali. Selain itu, di Bojonegoro, ada pula jalur kereta yang akan diaktifkan, yakni jalur Bojonegoro-Rembang; Bojonegoro-Jatirogo, Tuban; dan Baureno-Tuban.

Penjabat Bupati Lamongan Wahid Wahyudi, Kamis, menyatakan, pengaktifan kembali jalur kereta masih akan dikoordinasikan antara Pemerintah Kabupaten Lamongan dan Pemkab Jombang, Dinas Perhubungan Jawa Timur, dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Hingga saat ini, PT KAI belum memberikan jadwal kapan jalur itu diaktifkan kembali.

PT KAI menunggu kesepakatan antara Pemkab Jombang dan Pemkab Lamongan terkait dengan alternatif jalur yang digunakan. Koordinasi selanjutnya akan dilaksanakan di Jombang untuk mematangkan rencana menghidupkan kembali jalur Babat-Jombang.

Kepala Bidang Perhubungan Darat Dinas Perhubungan Lamongan Toyik mengemukakan, dalam pembahasan sebelumnya ada tiga alternatif untuk pembuatan jalur lintasan kereta api itu. Alternatif pertama menggunakan jalur awal yang pernah ada. Saat ini, di sepanjang jalur kereta itu berdiri banyak bangunan sehingga kemungkinan ada kendala pembebasan lahan.

Alternatif lain, memindahkan jalur dekat lintasan rel yang lama dengan sedikit bergeser atau membelok untuk meminimalkan risiko pembebasan lahan. Alternatif lain adalah membuat jalur baru. (DMU/ACI)

Sumber: Kompas | 11 September 2015

Berikan komentar.