TRP
40.000 Hektar Lahan Hangus
09 September 2015 \\ \\ 1

Pemilik Perkebunan yang Lahannya Terbakar Wajib Minta Maaf

JAMBI — Kebakaran menghanguskan lebih dari 40.000 hektar lahan di Jambi. Sebanyak 33.000 hektar yang terbakar adalah lahan gambut, yang diprediksi terus meluas karena penanganannya lambat. Areal gambut yang terbakar meluas hampir empat kali lipat dalam dua pekan ini.

Hasil citra Satelit Lansat TM 8 yang diolah Bagian Pemetaan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi sebelumnya mendeteksi kebakaran gambut seluas 9.149 hektar pada 20 Agustus lalu. Pada pemantauan berikutnya, 5 September, areal gambut yang terbakar bertambah menjadi 23.851 hektar. ”Bisa dibayangkan dahsyatnya kebakaran gambut pada kondisi kekeringan seperti sekarang,” ujar Rudi Syaf, Manajer Komunikasi KKI Warsi, Selasa (8/9), di Kota Jambi.

Hasil citra satelit menunjukkan sebaran api paling luas di ekosistem Berbak. Luas area yang terbakar di satu hamparan ini sekitar 12.000 hektar.

Api juga berkobar di bagian utara Taman Nasional Berbak seluas 5.000 hektar dan di bagian selatan seluas 2.200 hektar. Kebakaran lain terpantau di sejumlah perkebunan sawit dan tanaman industri.

Menurut Rudi, cepatnya peningkatan luas gambut yang terbakar mengindikasikan pemerintah lamban dalam pemadaman. Aparat juga kurang cepat menelusuri dan tegas menindak aktor di balik kejadian kebakaran lahan. Akibat meluasnya kebakaran gambut, pihaknya memperkirakan kerugian negara mencapai Rp 2,6 triliun, mencakup kerugian akibat pencemaran udara, dampak ekologi, ekonomi, kerusakan tidak ternilai, dan biaya pemulihan lingkungan.

Selasa pagi, kabut asap masih tebal di wilayah Jambi, dengan jarak pandang 300 meter. Namun, setelah pukul 12.00, jarak pandang membaik menjadi 1.000 meter.

Hingga Selasa, aktivitas pendidikan pun belum berjalan normal. Dinas Pendidikan Kota Jambi kembali meliburkan semua siswa, mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas (SMA).

Pemerintah Kota Pekanbaru, Riau, juga meliburkan semua murid sekolah, dari tingkat taman kanak-kanak sampai SMA. Para guru diminta memberikan tugas belajar kepada murid di rumah, sementara orangtua diminta mengawasi anak-anak.

Wali Kota Pekanbaru Firdaus bahkan mengeluarkan maklumat yang salah satu isinya meminta Gubernur Riau segera menetapkan status tanggap darurat bencana asap. Permintaan kenaikan status tanggap darurat sebelumnya disampaikan semua fraksi di DPRD Riau. Namun, hingga kemarin, Pelaksana Tugas Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman belum menaikkan status menjadi bencana nasional.

Pada Selasa pagi, kabut asap tebal masih menyelimuti Pekanbaru. Jarak padang pada pukul 07.00 mencapai 400 meter. Akibatnya, aktivitas di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, lumpuh. Pukul 09.00, jarak pandang sedikit membaik sehingga pesawat Lion Air tujuan Jakarta yang semalam menginap di Pekanbaru dapat terbang.

Edwar Sanger, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Riau, menyebutkan, pada pukul 14.00 cuaca Pekanbaru sedikit membaik dengan jarak pandang 1.000 meter. Begitu mendapat izin terbang, tiga helikopter yang bersiaga di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin langsung berangkat ke tiga lokasi berbeda.

Menurut Edwar, pada Selasa pagi, sekitar 60 anggota TNI dikerahkan untuk memadamkan kebakaran di Rimbo Panjang, Kampar. Secara terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Riau Ajun Komisaris Besar Guntur Aryo Tedjo mengungkapkan, ratusan polisi dari sejumlah polres ikut memadamkan api.

Kebakaran lahan gambut juga masih terjadi di sejumlah lokasi di Kabupaten Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Selasa.

Di Kalimantan Barat, kepolisian setempat menangkap 15 tersangka pembakar lahan dari 16 kasus sejak bulan Januari hingga September. Semua pelaku adalah warga yang tertangkap tangan membakar di kebun pribadi.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah meningkatkan status siaga darurat kebakaran lahan menjadi tanggap darurat. Kabut asap empat hari ini menyisakan jarak pandang di bawah 1.000 meter. ”Dalam tanggap darurat, harus betul-betul optimal dalam penanganan,” kata Penjabat Gubernur Kalteng Hadi Prabowo, Selasa.

Hal yang mendorong peningkatan status, antara lain, adalah kualitas udara masuk dalam kategori tidak sehat sehingga meningkatkan jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut. Lainnya, pengurangan jam belajar di sekolah dan gangguan penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalteng Damber Liwan menambahkan, sekolah di Kota Palangkaraya serta Kabupaten Pulang Pisau, Sukamara, dan Kotawaringin Timur mengurangi jam belajar dengan mengundurkan jam masuk siswanya pada pukul 08.00.

Minta maaf

Terkait kebakaran lahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membentuk tim kerja klarifikasi pelanggaran izin perusahaan akibat kebakaran hutan dan lahan. Salah satu tugasnya menentukan kategori sanksi pelanggaran perusahaan, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Pemilik perusahaan yang lahannya terbakar, sengaja atau tidak, wajib meminta maaf kepada publik melalui media massa. ”Klasifikasi pelanggaran perlu melalui analisis dulu, antara lain apakah perusahaan sengaja membakar atau tidak,” ucap Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Selasa, di Jakarta.

Pemerintah pusat, lanjut Siti, pada dasarnya berwenang menjalankan kekuasaan negara, yang tidak lain adalah kekuatan untuk memaksa secara sah guna merespons suatu keadaan. Namun, terkait kebakaran hutan dan lahan, pemerintah pusat bersifat mendampingi gubernur sebagai komandan utama di daerah terdampak. Jika diperlukan, pemerintah pusat mengarahkan gubernur untuk mengambil keputusan.(ITA/SAH/IRE/ESA/DKA/ CHE/RWN/PIN/JOG)

Sumber: Kompas | 9 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.