TRP
Lahan Bidaracina Dikebut
08 September 2015 \\ \\ 534

Pembangunan "Inlet" Sodetan Ciliwung Dimulai November

JAKARTA — Pembebasan lahan untuk pintu air masuk atau inlet sodetan Sungai Ciliwung di Bidaracina, Jatinegara, Jakarta Timur, akan dikebut agar tuntas bulan depan. Pekerjaan sodetan yang jadi bagian dari proyek pengendalian banjir itu kini memasuki tahap pengeboran pipa kedua di ruas pembuangan air sodetan atau outlet ke Kanal Timur.

Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Jakarta Timur Sofyan Taher, Senin (7/9), menyampaikan, pembebasan lahan Bidaracina seluas 1,1 hektar ditargetkan selesai Oktober. Di atas lahan seluas itu berdiri 295 rumah warga setempat.

Berangkat dari data inventarisasi kepemilikan lahan oleh Badan Pertanahan Negara wilayah Jakarta Timur, Sofyan menegaskan, kepemilikan lahan seluas 1,1 hektar itu terbagi atas Jiwasraya, Pemerintah Provinsi DKI, dan seorang pengusaha bernama Hengki. Belum ditemukan dokumen kepemilikan lahan atas nama warga setempat.

Karena itu, pembebasan lahan di Bidaracina dapat segera dilaksanakan. Mekanisme pembebasan lahan yang akan ditempuh adalah Pemerintah Provinsi DKI akan meminta pemilik lahan menyisihkan sebagian hasil pembebasan lahan untuk diberikan kepada warga pengguna lahan sebagai kompensasi.

Sebaliknya, warga yang menempati areal lahan Pemprov DKI tidak akan diberikan kompensasi apa pun. Sebab, pemerintah dilarang mengeluarkan uang ganti rugi bagi warga yang menempati lahan Pemprov DKI.

"Karena itu, bagi warga yang menempati lahan Pemprov DKI hanya dapat kami berikan tempat relokasi di rumah susun sederhana sewa," papar Sofyan.

Hingga saat ini, menurut Sofyan, pembebasan lahan itu masih melalui proses negosiasi dengan pemilik lahan.

"Kami, Pemerintah Kota Jakarta Timur menargetkan pembebasan lahan Bidaracina ini selesai Oktober sehingga pembangunan inlet sodetan di Bidaracina dapat dilaksanakan pada November atau Desember," katanya.

Warga menggugat

Sebagian warga Bidaracina yang rumahnya terkena proyek sodetan Sungai Ciliwung secara bersama-sama mengajukan gugatan atau class action atas tanah tempat tinggal mereka yang diklaim milik Pemprov DKI. Mereka tergabung dalam Tim 14.

Salah seorang anggota Tim 14, Robintang Panggabean (50), menyampaikan, gugatan itu telah dilayangkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sidang perdana akan digelar pada 10 September.

Robintang mengungkapkan, obyek gugatannya adalah sertifikat hak pakai atas lahan di Bidaracina yang dimiliki Pemprov DKI dan dokumen itu dikeluarkan pada 1996. Menurut Robintang, dokumen kepemilikan lahan itu tidak sah karena sebagian warga pun masih memegang dokumen atas lahan mereka masing-masing berupa agendum yang dikeluarkan Pemerintah Belanda.

Hanya saja, diakui Robintang, dari tiga RW yang terkena proyek sodetan Sungai Ciliwung, hanya RW 004 dan RW 014 yang mengajukan gugatan class action. Warga RW 005 menolak bergabung. Mereka bermukim di atas lahan milik Jiwasraya.

Pengeboran pipa kedua

Pekerjaan sodetan Sungai Ciliwung, yang telah dilaksanakan PT Wijaya Karya sejak pertengahan 2014 lalu, kini memasuki tahap pengeboran pipa kedua sepanjang 564 meter di ruas pintu pembuangan air atau outlet.

Manajer Proyek Sodetan Kali Ciliwung PT Wijaya Karya Ismu Sutopo menyampaikan, pengeboran pipa kedua sudah berjalan sepanjang 400 meter.

Menurut Ismu, dalam waktu dekat pengeboran pipa kedua akan selesai. Ditargetkan pengeboran itu selesai pada 10 September dan mata bor siap diangkat dari sumur pengangkatan mata bor (arriving shaft)yang berada di Jalan Otista 3.

"Selama pekerjaan pengangkatan mata bor berlangsung, Jalan Otista 3 ditutup kembali," jelas Ismu.

Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur Bernard OP menyampaikan, penutupan Jalan Otista 3 sejauh ini belum ada perubahan dan akan tetap berjalan pada 10 September.

"Seperti sebelumnya, selama Jalan Otista 3 ditutup, arus kendaraan akan dialihkan ke ruas-ruas jalan di sekitar jalan tersebut," jelasnya.

Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Teuku Iskandar, sodetan Sungai Ciliwung itu berfungsi mengalihkan aliran air Ciliwung ke Kanal Timur melalui Kali Cipinang sebanyak 60 meter kubik per detik. Pada kedua ruas inlet dan outlet itu dipasang dua pipa. Pekerjaan yang dilaksanakan saat ini, misalnya, adalah pengeboran pipa kedua di ruas outlet.

"Sementara pekerjaan inlet kan masih menunggu pembebasan lahan di Bidaracina," jelasnya.

Jika lahan inlet di Bidaracina sudah selesai dibebaskan, di sana juga akan dilaksanakan pengeboran untuk memasang pipa sepanjang 653 meter. Ruas pengeboran itu dimulai dari sisi inlet di Bidaracina hingga menembus sumur pengangkatan mata bor atau arriving shaft di Jalan Otista 3. Ruas inlet juga akan dipasang dua pipa dengan kapasitas 60 meter kubik per detik. (MDN)

Sumber: Kompas | 8 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.