TRP
Sekat Kanal Dilanjutkan
07 September 2015 \\ \\ 357

Riau Targetkan 150 Titik, Anggaran Menunggu Persetujuan DPRD

JAKARTA — Pembangunan sekat kanal untuk menjaga lahan gambut tetap basah siap dilanjutkan. Pemerintah pusat dan daerah sepakat langkah tersebut diperkuat untuk mengurangi potensi munculnya asap pekat akibat lahan terbakar pada tahun-tahun mendatang.

Pembangunan sekat kanal di sejumlah titik strategis diperlukan agar saat musim hujan kanal- kanal yang telanjur dibuka terisi air dan tetap basah sepanjang musim. Kendala administrasi yang saat ini menghambat pembangunan sekat di Riau-sehingga asap pekat terus terulang selama 18 tahun terakhir-jadi pelajaran agar pemerintah serius menggarap upaya preventif.

"Jangan tunggu datangnya api, tetapi sejak awal diantisipasi. Saat hujan sebaiknya sudah disiapkan sehingga saat kering semua sudah siap," kata Bambang Hendroyono, Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sabtu (5/9) di Jakarta.

Ia bersama Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, Gubernur Sumsel Alex Noerdin, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jambi Irman, Deputi Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Tri Budiarto, dan Ketua Dewan Pengarah Pengendalian Perubahan Iklim Sarwono Kusumaatmadja menggelar konferensi pers seusai rapat koordinasi teknis yang dihadiri Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Kepala Polri Badrodin Haiti. Rapat dipimpin Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ad interim Sudirman Said, yang sementara menggantikan Menteri Siti Nurbaya Bakar yang berada di Oslo, Norwegia.

Pertemuan itu menerjemahkan hasil rapat terbatas penanggulangan bencana asap yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Dalam arahannya, Presiden menekankan agar kebakaran dan asap dipadamkan secepatnya, lalu melakukan langkah-langkah konkret agar kebakaran tak berulang.

Salah satu langkah agar kebakaran ditekan, bahkan tak terjadi, dengan membangun sekat kanal yang menghalangi gambut mengalami "pendarahan". "Sekat kanal tetap dilakukan dan sepakat tidak ada hambatan. Khusus gambut memang pencegahan sekat kanal," kata Bambang.

Seperti diberitakan, pembangunan sekat kanal dicontohkan langsung Presiden Joko Widodo saat blusukan asap ke Sungai Tohor, Kepulauan Meranti, 26-27 November 2015. Saat itu, Presiden menginstruksikan agar sekat kanal diperbanyak dengan melibatkan masyarakat.

Berdasar bukti

Bambang Hendroyono mengatakan, pembangunan sekat kanal diperluas karena terbukti di daerah-daerah yang dibangun sekat kanal tidak terjadi kebakaran atau jumlah titik panasnya berkurang. Karena itu, BNPB merespons dengan mengalokasikan dana Rp 15 miliar untuk membuat 1.000 sekat kanal di Riau. Namun, Pemprov Riau sebagai pengguna anggaran sejauh ini masih enggan menggunakannya dengan alasan khawatir terbelit kasus hukum.

Deputi Kepala BNPB Bidang Penanganan Darurat Tri Budiarto mengatakan, dana tersedia dan pihaknya tak memaksa jika Riau tak mau memakai. "Sudah ada KLHK, JICA (Badan Kerja Sama Internasional Jepang), dan pihak lain yang mau membantu di Riau. Dana ini bisa untuk daerah lain," katanya.

Hingga kini, kata Tri, belum ada pemda yang meminta bantuan BNPB terkait pendanaan pembangunan sekat kanal.

Arsyadjuliandi Rachman menjelaskan, proses administratif penggunaan dana sedang diselesaikannya. "Habis ini, kami jumpai Pak Tri (Budiarto, Deputi BNPB)," katanya.

Ia juga menegaskan, APBD 2016 sudah memberi dana dampingan pembuatan sekat kanal. Namun, pihaknya belum memberi besaran nilai dengan alasan RAPBD 2016 masih perlu persetujuan DPRD Riau. "Kami ingin bisa membangun paling tidak 150 sekat kanal," katanya.

Saat ini, Riau telah membangun sekat kanal. Arsyadjuliandi mengatakan, 21 unit di Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, 13 unit di Sungai Tohor (termasuk yang dibuat Presiden), 10 unit di Kesatuan Pengelolaan Hutan Tebing Tinggi di Kepulauan Meranti, serta 25 unit di Bukit Batu dan normalisasi 1.200 meter kanal dan 4 embung.

"Sekarang Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau sedang menyiapkan demplot blocking canal 6 unit," katanya. (ICH)

Sumber: Kompas | 7 September 2015

Berikan komentar.