TRP
Longsor Ancam Jalur ke Dieng
07 September 2015 \\ \\ 409

Berbahaya, Rekahan Tanah Membentuk Tapal Kuda

BANJARNEGARA — Bahaya longsor mengancam, menyusul munculnya rekahan tanah baru di Bukit Telagalele, di sekitar longsoran di Dusun Jemblung, Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, bulan Desember lalu. Jika runtuh, longsoran diperkirakan mencapai jalan raya Banjarnegara-Dieng yang berada di bawahnya.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara Catur Subandrio, Minggu (6/9), mengatakan, personelnya mendapati rekahan tanah baru sepanjang sekitar 100 meter dengan lebar 15 sentimeter, di sebelah timur mahkota atau puncak longsoran, Desember silam.

"Rekahan tanah itu sangat membahayakan karena telah membentuk tapal kuda, persis seperti kejadian sebelum longsor besar yang melanda Desember lalu. Kami khawatir, jika turun hujan, dinding bukit di bawah tapal kuda akan runtuh," kata Catur.

Bencana longsor di Dusun Jemblung, Jumat, 12 Desember 2014, menimbun sekitar 35 rumah warga. Lebih dari 110 warga dusun tertimbun longsor. Jumlah itu belum termasuk warga luar Dusun itu yang melintas saat bencana terjadi. Hingga pencarian korban dihentikan, ditemukan 101 jenazah.

Sejak awal musim kemarau, kata Catur, gerakan tanah di puncak Bukit Telagalele masih terus terjadi. Hanya saja, frekuensi dan intensitasnya kecil. Namun, jika longsor terjadi, potensi guguran bukit dikhawatirkan menimbulkan korban.

Dia menjelaskan, walaupun permukiman di bawah Bukit Telagalele telah dikosongkan sejak akhir Desember, ancaman luncuran material dari rekahan tanah berpotensi mencapai jalan raya Banjarnegara-Dieng di bawahnya. Jalur itu merupakan jalan cukup padat karena merupakan jalan raya penghubung Banjarnegara menuju Dataran Tinggi Dieng dan Pemalang.

"Longsor sudah tidak mengancam permukiman di sisi utara jalan. Namun, yang harus diwaspadai, ancaman bagi pengguna jalan raya. Seperti saat bencana di Jemblung, banyak pengguna jalan ikut jadi korban karena tertimbun material longsor saat melintasi jalur itu," kata Catur.

Berdasarkan pengamatan, jarak lereng Bukit Telagalele dengan jalan raya sekitar 50 meter. Saat longsor Desember lalu, material longsoran tidak hanya menutup jalan raya, tetapi juga mencapai lahan pertanian di sisi selatan jalan.

BPBD bekerja sama dengan Badan Geologi akan menghitung perkiraan jumlah material yang berpotensi ambrol jika longsor terjadi. Jika hasil penghitungan material longsoran akan mencapai jalan, BPBD merekomendasikan rekayasa lalu lintas. Salah satunya memberlakukan buka-tutup jalur.

"Kalaupun tanah benar-benar longsor, setidaknya kami bisa mengantisipasi agar tidak ada korban jiwa seperti pada akhir tahun lalu," ujarnya.

Koordinator Posko Aju BPBD Banjarnegara Andri Sulistyo mengatakan, longsor susulan di Bukit Telagalele sempat terjadi Juni lalu. Saat itu, terjadi lima kali longsor dan bergerak sejauh 40 meter ke sisi barat sehingga belum mencapai jalan raya.

Sementara itu, 38 keluarga atau sekitar 150 korban longsor di Desa Karangtengah, Kecamatan Wanayasa, awal Desember, masih mengeluhkan kondisi hunian relokasi yang belum layak. Rumah-rumah yang sudah mereka tempati tersebut masih dalam kondisi memprihatinkan.

Menurut Kepala Desa Karangtengah Suripto, kondisi rumah relokasi, di antaranya, sebagian dinding rumah belum diplester dan lantai masih tanah. (gre)

Sumber: Kompas | 7 September 2015

Berikan komentar.