TRP
Bantaran Sungai Tak Boleh Lagi Jadi Hunian
07 September 2015 \\ \\ 418

JAKARTA — Pemerintah pusat berkomitmen merumahkan semua warga Ibu Kota ke tempat yang layak huni. Bantaran Sungai Ciliwung, misalnya, tak boleh lagi menjadi hunian sehingga warga harus direlokasi. Untuk mendukung komitmen itu, dua rumah susun berkapasitas 6.300 unit akan dibangun mulai 2016.

Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Rakyat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanuddin mengatakan, dua rumah susun (rusun) akan dibangun di Pasar Rumput dan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. "Masing-masing berkapasitas 4.000 dan 2.300 unit," katanya, Kamis (3/9).

Syarif menjelaskan, rusun-rusun itu akan dibangun setinggi 27 lantai. Lantai 1 hingga 3 akan dibangun kios-kios untuk tempat berjualan para pedagang. Rusun juga akan dilengkapi dengan fasilitas umum dan fasilitas sosial, seperti aula dan tempat bermain anak.

Selain itu, Kementerian PUPR juga akan merevitalisasi Rusun Kebon Kacang di Jakarta Pusat. Rusun buatan 1980 itu akan dibangun ulang sehingga tingginya mencapai lebih dari 20 lantai, dari awalnya empat lantai.

Pembangunan rusun dimaksudkan untuk merumahkan warga Ibu Kota ke tempat yang layak huni dengan lingkungan berkualitas. "Pemerintah harus berusaha merumahkan masyarakat. Mereka yang tinggal di bantaran sungai harus dirumahkan ke tempat yang layak," tutur Syarif.

Dia menegaskan, kini pemerintah tak akan membiarkan bantaran sungai beralih fungsi menjadi hunian warga. Selain merusak ekosistem, tinggal di bantaran sungai juga tidak aman dan merusak pemandangan.

Syarif mengakui, idealnya setiap keluarga menempati rumah tapak (landed house). Namun, seiring semakin terbatasnya lahan di Ibu Kota, menempati hunian vertikal, seperti rusun, menjadi pilihan.

Untuk mendukung relokasi, sejumlah metode penyuluhan dan sosialisasi disiapkan. "Pemindahan warga dari rumah tapak ke rumah susun memerlukan proses adaptasi. Tidak mungkin memindahkan warga dengan tidak manusiawi," katanya.

Sedikitnya 60 persen

Menurut Syarif, salah satu proses yang ditempuh saat ini dalam persiapan pembangunan rusun di Pasar Rumput dan Pasar Minggu adalah pembangunan itu harus disetujui setidaknya 60 persen pedagang di kedua pasar tersebut. Selama pembangunan yang akan berjalan dua tahun, PD Pasar Jaya bertugas mencari lahan untuk tempat penampungan sementara bagi pedagang.

Kini, kondisi Pasar Rumput memprihatinkan. Atap pasar bolong-bolong, keramik lantai pecah-pecah, tangga berkarat, dan dinding kios retak. Di lantai atas berserak sampah.

Pasar Rumput didirikan pada 1970 di lahan 22.740 meter persegi. Selain untuk berjualan, pasar ini juga dijadikan tempat tinggal para pedagang. Nur (40), pedagang yang tinggal di sana, setuju dengan rencana pembangunan rusun ini. Namun, dia mempertanyakan apakah dirinya akan mendapat jatah rusun itu.

Kepala Seksi Perencanaan dan Evaluasi Suku Dinas Penataan Kota Jakarta Selatan Yanuar Yadi mengatakan, Rusun Pasar Rumput nantinya ditargetkan untuk dihuni warga yang selama ini tinggal di bantaran Sungai Ciliwung. (DNA/MDN)

Sumber: Kompas | 5 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.