TRP
Presiden Keluarkan Dua Perpres
04 September 2015 \\ \\ 383

JAKARTA — Terkait upaya menambah angkutan massal di Jabodetabek, Presiden Joko Widodo mengeluarkan dua peraturan presiden tentang percepatan penyelenggaraan kereta api ringan (light rail transit), tertanggal 2 September 2015.

Dalam salinan peraturan presiden (perpres) yang diterima Kompas, Kamis (3/9), pada peraturan baru itu pemerintah menugaskan PT Adhi Karya (Persero) untuk membangun prasarana KA ringan ini, meliputi pembangunan jalur termasuk konstruksi jalur layang, stasiun, dan fasilitas operasi.

PT Adhi Karya bisa bekerja sama dengan badan usaha lain. Dalam waktu tiga bulan, PT Adhi Karya diminta menyerahkan dokumen teknis dan dokumen anggaran biaya rencana pembangunan prasarana KA ringan ini kepada Menteri Perhubungan. Pendanaan pembangunan berasal dari penyertaan modal negara dan/atau pendanaan lain sesuai ketentuan perundang-undangan.

Perpres Nomor 98 Tahun 2015 berisi percepatan penyelenggaraan KA ringan terintegrasi di Jabodetabek. Sedikitnya ada tujuh lintas yang dicantumkan dalam Pasal 1 perpres ini, antara lain Cawang-Cibubur, Cawang- Kuningan-Dukuh Atas, Cawang- Bekasi Timur, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, Cibubur-Bogor, dan Palmerah-Grogol.

Adapun Perpres Nomor 99 Tahun 2015 berisi percepatan penyelenggaraan KA ringan di DKI Jakarta. Rute KA ringan di Jakarta ditentukan Gubernur DKI Jakarta dan harus terintegrasi dengan KA ringan yang ditugaskan kepada PT Adhi Karya.

Pembangunan prasarana KA ringan dilakukan BUMD. Pendanaan pembangunan KA ringan di Jakarta berasal dari modal perusahaan, patungan modal perusahaan dan badan usaha lain, penyertaan modal pemda, pinjaman dari lembaga keuangan, penerbitan obligasi, pinjaman dari pemda, hibah, pinjaman dan/atau bentuk pendanaan lain dari badan investasi pemerintah, serta pendaan lain.

Terkait pengadaan kereta untuk KA ringan, Menteri Perhubungan mengadakan Badan Usaha Penyelenggara Sarana Kereta Api Ringan. Badan ini bertugas membuat kereta, sekaligus mengoperasikan dan merawat prasarana dan kereta ringan. Gubernur DKI Jakarta dapat meminta Menteri Perhubungan untuk mengadakan sarana KA ringan agar dioperasikan di jalur yang dibuatnya.

Rel patah

Rel patah kembali terjadi di antara Stasiun Citayam dan Stasiun Depok, Kamis sekitar pukul 04.30. Perbaikan yang berlangsung hingga pukul 06.10 mengakibatkan keterlambatan perjalanan KRL lintas Bogor.

Kepala Humas PT KAI Daerah Operasi I Bambang SP mengatakan, rel patah umumnya terjadi karena rel sudah aus. Namun, pihaknya masih menelusuri penyebab patahnya rel kali ini.

Bambang menuturkan, pihaknya berupaya mengintensifkan perawatan prasarana untuk mencegah rel patah. "Pengecekan dilakukan berkala oleh petugas pemeriksa jalur KA maupun lewat alat deteksi yang terhubung dengan pengendali operasi KA. Kalau terdeteksi ada gangguan, segera kami tangani," ucapnya.

Perbaikan rel mengakibatkan penumpang KRL terlambat 15-30 menit. "Kenapa sih kejadiannya pas orang berangkat kerja?" tanya Yusuf Maulana (36), penumpang dari Stasiun Bogor.

Mengurangi kerugian penggunanya, setiap penumpang berhak meminta formulir keterlambatan dari operator di stasiun KA. Surat itu sebagai alasan resmi keterlambatan masuk kantor seorang pegawai bukan karena kesengajaan, melainkan akibat gangguan prasarana dan sarana angkutan umum. (BRO/ART)

Sumber: Kompas | 4 September 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.