TRP
Menata Kota dengan Hati
04 September 2015 \\ \\ 387

Jalan layang itu sempat disebut-sebut mau dibangun menjadi Jembatan Semanggi Mini atau Semanggi Kedua. Namun, flyover yang sekarang dikenal dengan nama Jembatan Permata Hijau itu, yang menghubungkan jalan lingkar dalam arah Kebon Jeruk-Pondok Indah dan Pejompongan, 21 tahun kemudian, lebih mirip proyek yang tak tuntas.

Berbeda dengan Jembatan Semanggi asli yang punya empat "kelopak" bunga semanggi, "Semanggi Mini" ini hanya memiliki satu "kelopak". Tepatnya pada jalur melingkar dari arah Kebayoran Lama menuju Jalan Tentara Pelajar arah Palmerah/Slipi dan Pejompongan. Sebuah perkampungan padat bertahan di tengah lingkaran jalan tersebut.

Perkampungan dengan segala aktivitas warganya itu berjalan seperti biasa, dikelilingi jalanan dengan lalu lintas padat. Mungkin, idealnya, di lokasi itu dibangun ruang terbuka hijau. Entah sampai kapan kampung tersebut akan bertahan seperti itu.

Pindah ke tempat lain, salah satu pasar loak terkenal di Jakarta adalah Pasar Taman Puring di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pasar yang ada sejak era 1980-an tersebut berdiri di sebagian lahan Taman Puring, sebuah taman yang diapit Jalan Gandaria III-Gandaria I dan Jalan Kyai Maja.

Pasar tersebut dua kali terbakar, yakni pada dekade 1990-an dan pada 2002. Ratusan kios ludes terbakar di tengah isu akan digusurnya para pedagang di pasar itu karena tempat berjualan mereka dianggap sebagai taman yang harus dikembalikan fungsinya.

Namun, selepas kebakaran, Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Sutiyoso, membolehkan para pedagang membangun kembali kiosnya di Pasar Taman Puring. Izin tersebut sebenarnya bertentangan dengan pernyataan Sutiyoso yang akan membongkar bangunan di jalur hijau dan taman kota.

Selama masa pembangunan kembali Pasar Taman Puring itu, para pedagang diberi tempat berdagang sementara di dekat Pasar Kebayoran Lama, tepatnya di samping Stasiun Kebayoran. Pasar "baru" pun tumbuh di lokasi tersebut. Pedagang bahkan memenuhi trotoar, kolong jalan layang, hingga seputar stasiun.

Tiga belas tahun berlalu, Pasar Taman Puring sudah selesai dibangun. Sebagian pedagang pun telah kembali ke pasar tersebut. Namun, ternyata pasar loak di sekitar Stasiun Kebayoran itu tak langsung bersih. Banyak pedagang yang masih bertahan di sana.

Warga Ibu Kota adalah warga yang liat dan ulet bertahan. Mereka akan bertahan dengan segala cara untuk mempertahankan hidup di tengah Jakarta yang keras. Dalam pandangan para pengelola kota, mereka sering kali dituding melanggar hukum karena mendirikan rumah atau lokasi usaha di tempat yang tidak semestinya.

Padahal, di sisi lain, tumbuhnya tempat-tempat usaha dan permukiman liar itu sedikit banyak juga didorong pembiaran dari aparat pemerintah setempat.

Jika ada proyek atau program penertiban, mereka dengan gampang diusir, "ditertibkan" oleh petugas ketertiban dengan segala cara. Satu hal yang sering dilupakan para pengelola kota adalah mereka bukanlah sekadar angka atau buah catur yang mudah dipindah atau diusir dengan gampang.

Saatnya pengelola kota membangun dan mengelola kotanya dengan hati, mau mendengar warganya. Tidak main "hantam kromo" dan menang-menangan. Oleh Agus hermawan

Sumber: Kompas | 4 September 2015

Berikan komentar.