TRP
Revitalisasi Terkendala Lahan
04 September 2015 \\ \\ 660

Pemprov Jateng Fokus Alihkan Distribusi Logistik

SEMARANG — Rencana revitalisasi rel angkutan barang dari dan ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah, masih terkendala lahan. Lahan milik PT Kereta Api Indonesia yang berada di Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, ditinggali 130 kepala keluarga, dan sebagian di antaranya memiliki sertifikat hak milik.

Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional IV Supriyanto, Selasa (1/9), di Kota Semarang, menjelaskan, persoalan itu telah dibahas bersama dengan pemerintah provinsi (pemprov). Status tanah akan diselidiki oleh pihak Badan Pertanahan Nasional.

Revitalisasi jalur rel ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman antara PT Pelindo III, PT KAI, Kementerian Perhubungan, dan Pemprov Jawa Tengah. Mereka memiliki tugas dan kewajiban masing-masing. PT KAI bertugas menertibkan lahan yang akan digunakan untuk jalur rel.

"Bagi warga yang sudah menempati lahan itu sejak dulu, kami akan memberikan uang pembongkaran, bukan ganti rugi sebagaimana proyek jalur ganda yang membeli lahan milik warga. Namun, bagi yang memiliki sertifikat masih kami selidiki sebab tanah itu merupakan milik PT KAI, kami memiliki ground card (bukti kepemilikan lahan pada zaman penjajahan Belanda)," ujar Supriyanto.

Namun, Supriyanto mengatakan, jika warga memiliki sertifikat hak milik, mau tidak mau PT KAI akan melakukan ganti rugi sesuai harga tanah di kawasan itu. Ia mengakui, PT KAI masih menghadapi banyak persoalan terkait kepemilikan aset.

"Di tingkat pusat sudah diinstruksikan agar kami mendata dan mengurus setiap aset yang ada, dan mengurus bukti kepemilikannya. Ini juga sejalan dengan apa yang diminta Komisi Pemberantasan Korupsi yang menuntut pertanggungjawaban atas aset-aset milik negara," ujarnya.

Jalur rel dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Emas sejauh 2,7 kilometer. Jalur itu mati sejak tahun 2008 karena Stasiun Semarang Gudang terus terendam rob dan banjir. Jalur itu terakhir difungsikan pada 2006. Mulai tahun 2014, rencana revitalisasi dimulai, dan ditargetkan mulai dapat beroperasi pada 2016.

Namun, karena prosesnya masih terkendala lahan, Supriyanto mengatakan, pemfungsian jalur itu terancam mundur dari rencana. Padahal, potensi jalur itu untuk angkutan barang cukup besar, dengan tiga hingga empat perjalanan KA per hari dari dan menuju pelabuhan.

Frekuensi bertambah

Sejak pengoperasian jalur ganda di pantai utara Jawa, Supriyanto menyebutkan, frekuensi perjalanan KA angkutan barang bertambah dari 30 perjalanan per hari menjadi 42 perjalanan per hari. Dari kapasitas jalur ganda sebesar 200 perjalanan KA per hari, saat ini baru terpakai untuk 112 perjalanan KA (penumpang dan barang) per hari.

Penggunaan KA angkutan barang akan menambah efisiensi pengiriman barang. Pengiriman dari Jakarta-Surabaya yang jika melalui jalan raya membutuhkan waktu hingga tiga hari, dengan KA angkutan barang dapat ditempuh hanya 15 jam.

Adapun fasilitas bongkar muat peti kemas, Supriyanto menyebutkan, disiapkan tiga stasiun di wilayah Daop IV, yaitu di Stasiun Tegal, Stasiun Ronggowarsito (jalan masuk menuju pelabuhan Tanjung Emas), dan Stasiun Alastua. Sementara itu, untuk bongkar muat KA barang disiapkan di Stasiun Semarang Poncol.

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jateng Heru Wisnu menyebutkan, tahun ini, Kementerian Perhubungan telah menganggarkan Rp 35 miliar untuk konstruksi rel tersebut. Namun, karena penertiban lahan terkendala, pembangunan fisik rel diperkirakan baru dimulai tahun 2016.

"Apalagi jenis tanah yang dilalui sangat jelek kondisinya, karena terendam rob dan banjir. Pembangunan rel membutuhkan konstruksi khusus agar rel bisa tetap kuat. Pembangunan konstruksi rel baru dapat kami lakukan setelah penertiban lahan selesai," ujar Heru.

Pemerintah fokus

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, pemprov memang fokus untuk memindahkan distribusi logistik dari jalan raya ke KA atau transportasi laut untuk mengurangi beban di jalan raya. Selama ini, pemprov selalu menghadapi persoalan kelebihan muatan di jembatan timbang.

"Sulitnya, ketika saya membatasi, para pengusaha truk ramai- ramai protes. Padahal, ini adalah persoalan serius," ujarnya di Universitas Negeri Semarang, Senin lalu.

Secara terpisah, General Manager Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Erry Akbar Panggabean mengatakan, beroperasinya kembali jalur KA di pelabuhan akan semakin meningkatkan layanan TPKS kepada para pengguna jasa pelabuhan. Tahun ini, pembuatan detail engineering design ditargetkan selesai sehingga pada tahun 2016 diharapkan pembangunan fisik rel di pelabuhan sudah dimulai.

Aktivitas di TPKS tercatat terus meningkat setiap tahun. Pada semester pertama tahun 2015, aktivitas bongkar muat meningkat 8,0 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Tahun 2014, arus bongkar muat peti kemas mencapai 600.000 twenty-foot equivalent unit (TEU). (UTI)

Sumber: Kompas | 2 September 2015

Berikan komentar.