TRP
Penyegelan di Areal Perkebunan Dilanjutkan
01 September 2015 \\ \\ 842

PULANG PISAU — Tim Penyidik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melanjutkan penyegelan lokasi kebakaran di areal konsesi perkebunan besar sawit dan lahan eks program lahan gambut sejuta hektar di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Penyegelan diapresiasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalimantan Tengah.

"Siapa pun yang melakukan pembakaran, baik masyarakat maupun badan usaha, sama di hadapan hukum. Namun, mengingat kemampuan personel terbatas, diterapkan standar prioritas," kata Kepala Subdirektorat Penyidikan Perusakan Lingkungan Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian LHK Shaifuddin Akbar, Senin (31/8), di Pulang Pisau. Akbar mengatakan, prioritas ditujukan ke korporasi.

Kebakaran yang terjadi berulang-ulang di dalam korporasi, kata Akbar, disertai perluasan. Korporasi seharusnya lebih siap dengan kondisi-kondisi rawan kebakaran.

Senin kemarin, tim penyidik menyegel sejumlah lokasi kebakaran di Kecamatan Kahayan Kuala dan Kecamatan Maliku, Pulang Pisau. Tim memasang pelang larangan aktivitas apa pun dan garis Penyidik Pegawai Negeri Sipil Lingkungan Hidup di lahan terbakar yang diduga di areal konsesi PT MKM.

Tim juga menyegel lahan terbakar sekitar 2.000 hektar di areal eks proyek lahan gambut sejuta hektar yang bersebelahan dengan kebun PT SCP. Tidak ada pihak perusahaan yang mendampingi tim saat melakukan penyegelan.

Pada Sabtu dan Minggu lalu, penyidik juga menyegel lokasi kebakaran di empat perusahaan, yaitu PT CSS di Palangkaraya, PT GAP di Kotawaringin Timur, PT Arjuna Utama Sawit di Katingan. Tim juga menyegel lahan yang bersebelahan dengan kebun PT Nusantara Sawit Persada di Kotawaringin Timur dengan luas terbakar sekitar 1.000 hektar.

Direktur Utama PT Nusantara Sawit Persada Teguh Patriawan menyebutkan, lahan terbakar yang disegel tidak masuk dalam areal konsesinya. Adapun Kepala Humas dan Asisten Umum PT Arjuna Utama Sawit SM Gurning mengatakan, pihak perusahaan tidak pernah membuka lahan dengan cara membakar. Api bermula dan berasal dari lahan masyarakat.

Meningkat

Di Pulau Sumatera, kebakaran hutan dan lahan terus meningkat meskipun berbagai upaya pemadaman terus dilakukan. Senin kemarin, titik panas yang mengepung Sumatera berjumlah 1.002 titik. Di Sumatera Selatan mencapai 387 titik, atau yang terbanyak sepanjang tahun ini. Namun, kabut asap di Palembang justru mereda dibandingkan dengan pekan lalu.

Dari Jambi dilaporkan, kualitas udara di daerah itu semakin memburuk akibat pekatnya kabut asap, Senin kemarin. Kegiatan belajar-mengajar seluruh sekolah, mulai tingkat dasar hingga menengah atas, kembali diliburkan untuk sementara. Sementara aktivitas penerbangan tertunda hingga sembilan jam.

Setelah sempat membaik karena hujan pada hari Minggu, kualitas udara di Sumatera Barat, kemarin, kembali menurun. Sejumlah wilayah bahkan dilaporkan sudah tidak sehat. Namun, pemerintah provinsi belum memberlakukan status siaga darurat kabut asap.

Kota Medan, Sumatera Utara, sepanjang Senin, juga masih dipenuhi asap dari pembakaran lahan di Jambi dan Sumatera Selatan. Cuaca redup karena sinar matahari terhalang kabut, tetapi pihak otoritas Bandara Kualanamu di Deli Serdang dan Bandara FL Tobing di Sibolga menyatakan asap tidak mengganggu penerbangan.

Namun, kabut asap di Sumatera mengganggu penerbangan di Bandara Hang Nadim, Batam, Senin pagi. Sejumlah pesawat dari beberapa kota di Sumatera terlambat datang dan berangkat. "Pesawat dari Medan harus menunggu pesawat dari Jambi yang tidak datang sesuai jadwal," ujar Kepala Bagian Umum Bandara Hang Nadim, Suwarso.

Dari Bandar Lampung dilaporkan pula, asap yang cukup tebal terlihat di puncak Gunung Seminung di perbatasan Kabupaten Lampung Barat dan Ogan Kemering Ulu Selatan. Sementara kondisi alam kembali normal di Kota Lhokseumawe, Aceh, dan sekitarnya. (DKA/ITA/RAZ/WSI/DRI/ZAK/IRE/GER)

Sumber: Kompas | 01 September 2015

Berikan komentar.