TRP
Pemprov Jateng Fungsikan Kembali Embung Lapangan
01 September 2015 \\ \\ 468

SEMARANG — Guna memaksimalkan persediaan air bagi pertanian, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan memanfaatkan kembali 300 embung lapangan. Embung lapangan pernah populer 20 tahun lalu, tetapi ada kemungkinan fungsinya telah surut, kurang terawat lagi, dan tertutup tanah. Pemanfaatan kembali embung lapangan dinilai lebih murah dan paling cepat berfungsi.

"Embung lapangan sebagian besar sudah tertutup tanah. Embung berada di tanah negara sehingga gampang dilacak keberadaannya. Lahan negara tidak perlu pembebasan lagi," kata Kepala Bidang Pengembangan dan Pembinaan Teknis Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jawa Tengah Lukito, Senin (31/8), saat diskusi mengenai pemanfaatan air di Semarang.

Menurut Lukito, embung lapangan memang tidak besar. Setidaknya akan dapat melengkapi embung baru yang akan dibangun dan waduk yang sudah ada. Pemanfaatan kembali embung lapangan ini merupakan terobosan dalam pengelolaan sumber air.

Pengamat hidrologi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang, Nelwan, berpendapat, embung atau waduk sebaiknya tidak berukuran terlalu besar. Proyek embung harus diarahkan pada embung kecil dan lokasinya harus terlindungi. Embung yang terlalu besar justru akan cepat kering karena daerah tropis menyebabkan air cepat menguap.

Embung lapangan skala kecil itu akan efektif apabila daerah tangkapan air di daerah hulu lokasi embung juga terlindungi. Perlindungan pada daerah resapan air hanya dapat terwujud apabila disertai penegakan hukum yang keras.

Pengamat lingkungan hidup Universitas Diponegoro Semarang, Sudharto P Hadi, mengajak semua pihak melakukan restorasi sungai. Pengelolaan sungai tidak semata untuk penyediaan air baku, air bersih untuk kebutuhan air minum, tetapi juga sungai sebagai kehidupan yang menunjukkan peradaban manusia.

Oleh karena itu, penyediaan sumber air bagi manusia dan pertanian tidak semata-mata dari embung dan waduk yang muncul ketika sungai tidak lagi dikelola dengan baik. Pengelolaan sungai harus memperhatikan kualitas air, kuantitas, dan kontinuitas air.

Lebih kering

Musim kemarau saat ini, bagi sebagian warga Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, dirasakan lebih kering daripada tahun lalu. Beberapa desa yang sebelumnya tidak mengajukan permintaan bantuan air bersih ke pemerintah kabupaten, saat ini mengajukan permintaan.

"Sudah beberapa bulan ini hujan sama sekali tidak turun di Trenggalek. Selain musim kemarau yang maju sekitar dua bulan, angin pun berembus kencang. Kalau pagi embun terasa dingin sekali. Itu tanda-tanda kemarau lebih kering," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek Djoko Rusianto, Senin.

Menurut Djoko, sejak awal Juli lalu, pihaknya telah memberikan bantuan air kepada warga. Ada sekitar 40 desa di 14 kecamatan yang mendapatkan bantuan air bersih. Tahun 2014, di Trenggalek, terdapat lebih dari 47 desa di 12 kecamatan yang rawan kekeringan saat kemarau tiba.

Krisis air di sebagian desa telah teratasi oleh pemasangan pipa yang dilakukan dalam setahun ini, sehingga jumlah desa yang mendapat bantuan air bersih pada tahun ini berkurang. Namun, ada desa baru yang mengajukan bantuan air akibat pasokan air bersih di daerahnya menurun.

"Kami akan terus memberikan bantuan air. Sejauh ini tidak ada kendala. Kami juga mendapat dukungan dana dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) sebesar Rp 600 juta. Kalau kurang nanti dan kami mengajukan lagi, BNPB siap mendukung," ucap Djoko.

Di Kabupaten Malang, jumlah desa yang mendapatkan bantuan air bersih bertambah menjadi empat desa. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang EK Hafi Lutfi mengatakan, bantuan air 5.000 liter sampai 15.000 liter diberikan dua hari sekali. (who/wer)

Sumber: Kompas | 01 September 2015

Berikan komentar.