TRP
Normalisasi Rampung 2016
01 September 2015 \\ \\ 389

Tahun Ini Banjir Masih Mengancam

Jakarta - Normalisasi Sungai Ciliwung sepanjang 19 kilometer dari Pintu Air Manggarai hingga Jembatan Layang TB Simatupang ditargetkan selesai tahun 2016. Khusus normalisasi bantaran di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, ditargetkan selesai Desember 2015. Ancaman banjir tahun ini belum sepenuhnya teratasi.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Kamis (27/8), mengatakan, normalisasi Sungai Ciliwung ditargetkan selesai tahun 2016. Karena itu, relokasi warga yang masih tinggal di bantaran sungai akan dilakukan dalam kurun waktu tersebut.

"Saat ini kami akan selesaikan dulu (normalisasi) di Kampung Pulo. Kalau sudah selesai, (Kampung Pulo) tidak akan banjir lagi. Kalau banjir datang lagi, kemungkinan Bukit Duri masih terendam," ujarnya.

Menurut Basuki, normalisasi dilakukan untuk mengembalikan lebar Sungai Ciliwung seperti semula. Banyak rumah warga yang berdiri di tanah urukan di atas aliran sungai. Dulu, kata Basuki, hal itu dilegalkan. Sekarang setelah banjir sering melanda Jakarta karena luapan Ciliwung, pemerintah mengambil tepi sungai sesuai lebar aslinya.

Untuk warga Bukit Duri yang akan direlokasi, Pemprov DKI menyediakan dua lokasi rusun, yaitu di Cipinang Besar Selatan dan Pulogebang. Namun, kata Basuki, warga Bukit Duri bisa direlokasi di rusun baru yang mungkin dibangun tidak jauh dari Kampung Pulo.

Khusus untuk Bidara Cina, Basuki mengatakan, tanah warga yang bersertifikat akan diganti dengan mekanisme 1,5 kali luas tanah mereka. Jika tidak, mereka tetap akan didorong untuk pindah ke rusun. Relokasi warga di Bidara Cina juga masih menunggu selesainya normalisasi Sungai Ciliwung di Kampung Pulo.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Teuku Iskandar mengatakan, kelancaran normalisasi sungai sangat bergantung pada komitmen pemerintah daerah. Normalisasi Ciliwung itu, misalnya, diprogramkan pemerintah sejak 40 tahun lalu. Namun setelah banjir 2013, pemerintah pusat bersama Pemprov DKI berkomitmen melaksanakan normalisasi tersebut. Dalam perjalanannya, normalisasi itu tidak lepas dari kendala sosial, terutama pembebasan lahan.

Sejak normalisasi Sungai Ciliwung pada akhir 2013, hingga saat ini baru dapat melaksanakan normalisasi di areal milik pemerintah dan pengembang dengan panjang total 4 kilometer. Baru sebagian kecil areal yang bersentuhan dengan masyarakat yang sudah selesai digarap, salah satunya di ruas Jembatan Tongtek, Kampung Melayu, yang terhubung dengan Kampung Pulo.

Normalisasi di Kampung Pulo mulai memasuki permukiman yang luas. Normalisasi di permukiman itu akan dilakukan sepanjang 1,9 kilometer dari Jembatan Tongtek hingga Jalan Layang Kampung Melayu dan ditargetkan tuntas Desember 2015.

"Dalam rapat terakhir, kami menargetkan pekerjaan normalisasi sisi Kampung Pulo selesai Desember ini, termasuk jalan inspeksi di sepanjang bantarannya," paparnya.

Banjir masih mengancam

Iskandar mengatakan, penyelesaian normalisasi di sisi Kampung Pulo memang belum menjamin bebas banjir. Sebab, normalisasi di area Bukit Duri, Jakarta Selatan, yang berseberangan dengan Kampung Pulo belum dilaksanakan karena masih menunggu pembebasan lahan.

Jika pada musim hujan volume air Sungai Ciliwung meningkat, kemungkinan besar airnya masih akan meluap ke Bukit Duri. "Air akan melimpah ke Bukit Duri karena di sana belum dinormalisasi," jelasnya.

Banjir di Kampung Pulo pun, menurut Iskandar, bisa saja terjadi jika drainase di permukiman tidak ditata dan dipelihara Pemprov DKI. Iskandar menegaskan, pihaknya telah mengingatkan Pemprov DKI untuk menata dan memelihara drainase di lingkungan Kampung Pulo dan Jalan Jatinegara Barat.

"Banjir atau genangan tetap bisa terjadi di Kampung Pulo jika drainasenya tidak ditata dan dipelihara oleh Pemprov DKI," paparnya. (FRO/MDN)

Sumber: Kompas | 28 Agustus 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.