TRP
Hutan di Tepi Jalan untuk Burung Kota
01 September 2015 \\ \\ 321

Sebelum disentuh penataan, kawasan ini menjadi penitipan gerobak pengasong makanan-minuman. Malam hari gelap karena tiada lampu dan diduga jadi tempat pelacuran.

Padahal, pada pagi dan sore, kawasan selebar 20 meter dengan panjang 500 meter ini begitu teduh dengan deretan pohon rimbun dan menjadi salah satu tempat terbaik untuk memantau burung.

Nama tempat ini Hutan Kota Ahmad Yani Ramah Burung yang membentang dari pertigaan Jalan Ahmad Yani dan Jalan Dadali sampai pertigaan Jalan Ahmad Yani dan Jalan Merak, Kota Bogor, Jawa Barat.

Beberapa tahun lalu, hutan ini dilengkapi berbagai permainan anak, seperti jungkat-jungkit, ayunan, dan perosotan. Namun, saat ini, berbagai sarana itu telah rusak dan belum diperbaiki. Padahal, kawasan ini telah mendapat bantuan dana penataan Rp 1,5 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Kawasan itu tidaklah seluas dan serimbun Hutan Penelitian Dramaga atau Kebun Raya Bogor. Menurut para pegiat Perhimpunan Burung Indonesia, di kawasan tersebut masih bisa dijumpai, antara lain, burung madu belukar, madu sriganti, caladi ulam, gereja erasia, prenjak jawa, cinenen pisang, dan tekukur.

Kamis (27/8) pagi, burung dengan bulu warna-warni beterbangan. Kicaunya yang cukup berisik masih jelas terdengar dan terasa merdu di antara deru kendaraan di Jalan Ahmad Yani, yang di masa kolonial adalah bagian dari Jalan Raya Pos era Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Ketua Dewan Perhimpunan Burung Indonesia Ani Mardiastuti mengungkapkan, Hutan Kota Ahmad Yani merupakan rumah bagi 30 spesies burung. Di masa lalu, spesies burung di hutan kota itu tentu lebih banyak.

Dari catatan Burung Indonesia dan LIPI, Kebun Raya Bogor yang berjarak 3 kilometer dari Hutan Kota Ahmad Yani pernah menjadi habitat bagi 150 jenis burung. Saat ini, tidak lebih dari 60 jenis yang dapat diidentifikasi kembali. "Itu menandakan lingkungan rusak dan terus terancam," kata Ani, guru besar di Institut Pertanian Bogor.

Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman mengatakan, lingkungan yang masih banyak didatangi burung berarti berkualitas cukup baik. Manusia akan hidup lebih nyaman dan sehat di lingkungan yang asri karena dapat berinteraksi dengan satwa liar, antara lain burung. "Melihat burung adalah hiburan gratis," ujarnya.

Saat ini, sebagian penataan hutan kota tersebut sudah selesai dengan pembuatan lintasan pedestrian dari konblok, tempat duduk dari beton, tong sampah, pagar tembok rendah, dan pemasangan lampu. Lahan kosong pun sudah ditanami pohon-pohon baru.

Namun, sampah masih berserakan, menandakan pengunjung enggan membuang sampah di tempat yang disediakan. Pengunjung yang datang juga seolah tak sadar, atau memang tak tahu, bahwa hutan kota itu menjadi tempat untuk menikmati burung-burung terbang bebas di habitat aslinya.... (Ambrosius Harto)

Sumber: Kompas | 28 Agustus 2015

Berikan komentar.