TRP
Bentrokan TNI dengan Petani Disesalkan
24 Agustus 2015 \\ \\ 370

KEBUMEN — Bentrokan antara personel TNI Angkatan Darat dan petani Urut Sewu di Desa Wiromartan, Kecamatan Mirit, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (22/8) siang, amat disesalkan. Pemerintah pusat diminta turun tangan karena pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak mengingat ranah konflik itu menyangkut TNI.

"Kami berharap kedua belah pihak menahan diri agar konflik tidak memburuk. Pemerintah daerah telah membentuk tim khusus untuk memediasi persoalan ini ke pemerintah provinsi dan pemerintah pusat," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Kebumen Adi Pandoyo.

Dia menyesalkan bentrokan yang terjadi saat sekitar 150 petani berunjuk rasa menolak pemagaran kawasan Urut Sewu untuk uji coba senjata TNI.

Saat itu, mulai sekitar pukul 07.30, petani dengan tangan kosong menghadang pemagaran lahan di Wiromartan. Saat petani berorasi, tentara bersenjata lengkap datang ke lokasi dan mengepung mereka. Bentrokan pun tak terhindarkan. Tentara menendang dan memukuli petani dengan pentungan.

Dalam insiden itu, sembilan petani luka berat, seperti robek di kepala dan retak pada tangan atau kaki, sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Kebumen. Adapun 15 orang luka ringan. Kepala Desa Wiromartan Widodo Sunu Nugroho dan Kepala Desa Petangkuran, Mirit, Muchlisin juga terluka.

Setelah bentrokan itu, sejumlah personel TNI berjaga di sekitar lokasi pemagaran di Urut Sewu di pesisir selatan Kebumen. Sejumlah warga takut keluar rumah.

Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 0709/Kebumen Letnan Kolonel (Inf) Putra Widyawinaya membantah anggotanya sengaja melukai petani. "Memang ada dorong-dorongan. Ada yang terluka karena dorong-dorongan," ujarnya.

Putra menyatakan, TNI AD hanya melaksanakan program pemerintah untuk membuat pagar di Urut Sewu. Petani memaksa menghentikan pemagaran sehingga aparat TNI terpaksa menghentikan aksi mereka.

TNI, kata Putra, telah melakukan sosialisasi dan memberi ganti rugi tanaman milik petani yang terkena pemagaran. Pada pertemuan 18 Agustus lalu, TNI dan warga juga sepakat tidak melakukan aksi.

Sengketa tanah itu terjadi sejak 2009. Tanah sengketa mencakup wilayah sepanjang 22,5 kilometer pada 15 desa di Kecamatan Mirit, Ambal, dan Buluspesantren. TNI mengklaim kawasan itu wilayah pertahanan dan keamanan sehingga dijadikan area latihan perang. Adapun petani mengklaim tanah itu dengan bukti letter C dari desa.

Di Jakarta, Kamarrussafar Malik (43), warga Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, melaporkan penganiayaan atas dirinya oleh orang yang diduga anggota TNI kepada polisi. (GRE/JAL)

Sumber: Kompas | 23 Agustus 2015

Berikan komentar.