TRP
Pengadaan Lahan Membengkak, Daerah Keberatan
21 Agustus 2015 \\ \\ 550

CILACAP — Biaya pengadaan lahan untuk proyek pembangunan Waduk Matenggeng di Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, membengkak dari Rp 1,4 triliun menjadi Rp 2,13 triliun. Pemerintah daerah keberatan menanggung biaya tersebut. Akibatnya, tahapan pembangunan proyek waduk terhenti.

"Dana itu nanti untuk membayar ganti rugi tanah milik warga, rumah, tanaman, dan bangunan lain di atasnya," ujar Kepala Subbidang Prasarana Wilayah Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Cilacap M Fauzi, Kamis (20/8).

Dia mengatakan, secara keseluruhan, biaya pembangunan Waduk Matenggeng mencapai Rp 3,488 triliun. Biaya itu meliputi biaya konstruksi Rp 1,357 triliun dan biaya pengadaan lahan Rp 2,131 triliun.

Waduk Matenggeng yang menurut rencana dibangun dengan membendung aliran Sungai Cijolang membutuhkan lahan seluas 2.222,70 hektar (ha). Lahan tersebut berada di wilayah Cilacap seluas 1.290,02 ha dan di Kabupaten Kuningan dan Ciamis, Jawa Barat, seluas 932,68 ha.

Ada delapan desa di Kecamatan Dayeuhluhur yang sebagian wilayahnya bakal digenangi air. Lahan itu meliputi sawah irigasi tradisional seluas 293,24 ha, sawah tadah hujan 71,21 ha, kebun campuran 523,78 ha, pekarangan 55,36 ha, dan perkebunan atau kehutanan 313,131 ha. Selain itu terdapat 561 rumah dan 217 bangunan bukan rumah. Masyarakat yang tinggal di lokasi genangan sudah siap direlokasi.

Fauzi mengemukakan, awalnya, pemerintah kabupaten/kota yang akan menikmati manfaat pembangunan waduk dimintai menanggung biaya pembebasan lahan. Pembangunan fisik ditanggung pemerintah pusat. Proyek ini tercantum dalam rencana induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Infrastruktur Indonesia 2011-2025.

Namun, biaya pengadaan lahan itu memberatkan pemda. Fauzi mencontohkan, jika diminta membantu 10 persen saja, jumlahnya mencapai Rp 348 miliar. Padahal, PAD Cilacap hanya sekitar Rp 255 miliar.

Waduk ini nanti akan memberi suplai irigasi untuk 16.000 hektar sawah di Cilacap. Air waduk juga akan difungsikan sebagai pembangkit listrik tenaga air.

Sementara itu, seiring rencana penggenangan Waduk Jatigede di Kabupaten Subang, Jabar, perbaikan saluran irigasi yang mengairi sawah-sawah produktif di Jabar mendesak dilakukan. Ketersediaan air untuk pertanian yang disuplai dari Waduk Jatigede akan sia-sia jika saluran air di bawahnya rusak.

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Kasno, di Cirebon, mengatakan, saat ini, tingkat pelayanan saluran irigasi dari Bendung Rentang, Majalengka, yang mengairi 90.000 ha sawah di pantura Jabar baru sekitar 60 persen. Saluran irigasi yang dibangun pada 1982/1983 itu sebagian besar sudah bocor, teruruk sedimen, bahkan beralih fungsi menjadi saluran pembuangan dari perumahan.

Sementara itu, warga di wilayah Gresik, Jawa Timur, kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur dan telaga di pedesaan mengering, sedangkan pasokan air bersih dari PDAM di perkotaan nyaris tidak mengalir. (GRE/REK/ACI)

Sumber: Kompas | 21 Agustus 2015

Berikan komentar.