TRP
Bersama Merawat Fasilitas Umum
21 Agustus 2015 \\ \\ 998

Kondisi fasilitas umum di Jakarta masih menjadi cermin persoalan kota besar yang belum tuntas di Indonesia. Jalan raya, halte bus, trotoar, dan taman kota yang ada belum terjaga sehingga tak bisa berfungsi optimal. Masyarakat dan pemerintah perlu bergandengan tangan untuk bersama-sama merawat fasilitas tersebut.

Kesimpulan demikian terekam dari hasil jajak pendapat Kompas melalui telepon yang diselenggarakan beberapa waktu lalu. Fasilitas umum (fasum) yang digunakan warga Jakarta sehari-hari belum bisa dikatakan baik menurut pandangan mereka.

Fasilitas yang dinilai paling buruk adalah trotoar. Sebanyak 62,9 persen responden menilai ruang untuk lalu lintas pejalan kaki di Ibu Kota masih buruk. "Trotoar banyak yang jelek. Rasanya jadi malas berjalan kaki," ujar Rolis (35), seorang responden di daerah Pulogadung, Jakarta Timur.

Menurut dia, sebagian trotoar bergelombang, berlubang, atau bahkan dipakai berdagang. Pada jam-jam sibuk, pengendara sepeda motor pun ikut memaksa para pejalan kaki berbagi ruang di trotoar. Bahkan tak sedikit trotoar yang beralih fungsi menjadi lahan parkir.

Koalisi Pejalan Kaki pernah mencatat, setidaknya ada 31 titik trotoar di sejumlah ruas jalan di Jakarta yang kondisinya seperti itu pada tahun 2014.

Selain masalah kualitas, keberadaan trotoar juga bisa dikatakan masih langka di Jakarta. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pada 2013 panjang trotoar di Ibu Kota baru mencapai 540,3 kilometer atau hanya 7,5 persen dari total panjang jalan di Jakarta, yaitu sepanjang 7.208 kilometer.

Penilaian negatif juga diberikan pada halte-halte bus. Lantai di sejumlah halte bus rapuh atau atapnya rusak. Seperti halnya trotoar, beberapa tempat menunggu bus juga dijadikan tempat berdagang. Pada Maret tahun lalu tercatat setidaknya 20 persen dari total sekitar 1.300 halte di Jakarta dalam kondisi rusak.

Menurut Sinta (42), peserta jajak pendapat dari Jakarta Selatan, halte yang ada saat ini jumlahnya masih sangat sedikit. Kalaupun ada, warga enggan menggunakannya karena kondisi halte yang tak layak dan trotoar untuk mengaksesnya pun tak nyaman bagi pejalan kaki. Tak heran, penduduk Jakarta akhirnya mengabaikan halte dan mencegat angkutan umum di sembarang tempat.

"Maaf, halte yang mana, yah? Rasanya semua tempat di Jakarta bisa jadi halte," ujar Sinta, yang selalu menggunakan angkutan umum untuk pergi ke tempatnya bekerja di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

Jalan rusak

Jalan sebagai salah satu fasum yang penting juga dianggap kurang laik oleh 57,2 persen responden dari lima kota di DKI. Padahal, kondisi jalan buruk bisa mengganggu mobilitas warga kota besar ini. Risiko kecelakaan pengguna jalan juga meningkat akibat prasarana jalan yang tak prima.

Tingginya pengguna kendaraan pribadi sedikit banyak akan berimbas juga pada tingginya beban jalan raya. Padatnya arus kendaraan setiap hari mempercepat kerusakan jalan. Hingga Juni 2015, Pemprov DKI mendata sebanyak 1.283 titik jalan rusak yang belum diperbaiki.

Perlu kerja sama

Fasum bertujuan memudahkan masyarakat melakukan kegiatan sehari-hari. Semestinya, pemeliharaan fasilitas menjadi tanggung jawab bersama. Sayangnya, menurut hampir separuh publik Jakarta (49,2 persen), buruknya fasum diakibatkan kepedulian warga untuk menjaga masih rendah.

Aksi perusakan atau pemanfaatan yang melebihi batas, baik sengaja maupun tak sengaja, memicu sulitnya menemukan fasum dalam kondisi bagus.

Di sisi lain, dua dari tiga warga Jakarta menilai pemprov juga belum optimal merawat beragam fasum ini. Sebagian responden menilai pemeliharaan oleh pemerintah baru sebatas tambal sulam. Padahal, keteladanan dan kewibawaan pemerintah diperlukan untuk mengarahkan warga menjaga fasum yang sudah disediakan.

Mengingat fasum dibangun untuk kepentingan bersama, sudah selayaknya perawatannya pun menjadi tanggung jawab bersama, yakni warga dan Pemprov DKI. Sebab, semakin banyak fasilitas yang rusak, semakin banyak layanan publik dan aktivitas warga yang terhambat. (Bima Baskara/Litbang Kompas)

Sumber: Kompas | 19 Agustus 2015

Berikan komentar.