TRP
Benahi Transportasi Massal
18 Agustus 2015 \\ \\ 574

Kemacetan Lalu Lintas Membuat Kenyamanan Kota Berkurang

SURABAYA — Meski kotanya mendapat penghargaan karena meraih penilaian tinggi dalam Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015, warga berharap sejumlah hal dibenahi agar kota semakin nyaman ditinggali. Warga Kota Surabaya, Yogyakarta, dan Solo, misalnya, berharap pemerintah kotanya membenahi transportasi massal.

Kota Surabaya di Jawa Timur yang meraih penilaian tertinggi di antara 93 kota di Indonesia telah membangun jalan alternatif, seperti Middle East Ring Road (MERR) sepanjang 10,98 kilometer. Ini mengikis perbedaan wilayah karena semua wilayah sudah terbuka dan mudah dicapai. Artinya, tidak ada lagi kawasan pinggiran kota karena semua wilayah begitu mudah dijangkau.

Namun, kata Dani Purwanto (29), warga Simomulyo, hal tersebut belum diikuti perbaikan sistem transportasi massal. "Angkutan kota sudah jumlahnya minim, jalurnya sangat terbatas. Jadi untuk menuju satu tempat, minimal harus jalan kaki dari rumah satu kilometer, baru ketemu lyn (angkutan kota), dan pasti harus ganti dua kali," ujarnya, Jumat (14/8).

Natalia (50), warga Medokanayu, mengapresiasi perkembangan perumahan hingga sudut kota. Namun, sayangnya, beberapa jalur lyn mati karena tidak ada penumpang lagi. Jumlah lyn pun berkurang.

"Semua berlomba mengendarai sepeda motor karena sulitnya mendapatkan angkutan kota. Sudah menunggu lama, jalur yang dilalui panjang sehingga menyita waktu," kata ibu dua anak ini. Dia mengatakan, lyn hanya ada penumpang saat jam berangkat dan pulang sekolah atau kerja.

R Surahutomo (19), pelajar yang tinggal di Tandes, mengusulkan Pemerintah Kota Surabaya memperketat pemakaian kendaraan pribadi agar angkutan massal lebih dibutuhkan. "Mobil pribadi sudah banyak sekali dan bikin macet. Naik sepeda motor juga sudah kena macet," katanya.

Di Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta juga belum ada transportasi massal yang memadai. Sejak beberapa tahun lalu, memang sudah ada Bus Trans Jogja, kendaraan umum dengan konsep bus rapid transit, tetapi dinilai belum memadai.

"Banyak armada Trans Jogja yang kondisinya kurang bagus, misalnya AC (pendingin ruangan) tidak nyala, knalpotnya mengeluarkan asap hitam, dan sopirnya ugal-ugalan," kata Cahyo Purnomo (27), warga Kelurahan Kraton.

Kemacetan lalu lintas yang semakin parah juga membuat Kota Yogyakarta tak lagi senyaman beberapa tahun lalu. "Kenyamanan Yogyakarta agak berkurang. Sekarang Yogyakarta itu sering macet, lingkungan kotanya makin padat dan semrawut," katanya.

Lingkungan kota yang semakin padat dan semrawut tersebut juga disebabkan pertambahan bangunan komersial, terutama hotel dan apartemen, yang cenderung tak terkendali. Menurut Sutaryono, dosen penataan ruang di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, Yogyakarta, hal itu tidak hanya membuat kenyamanan warga berkurang, tetapi juga kenyamanan wisatawan.

Kota Solo di Jawa Tengah yang dinilai berhasil menata kotanya pun masih dihadapkan pada masalah transportasi massal. Ketiadaan angkutan umum yang memadai membuat beberapa ruas jalan utama pada jam-jam tertentu macet.

"Jumlah angkutan umum yang nyaman masih kurang, terutama yang melintasi pinggiran kota. Bus Batik Solo Trans belum sampai daerah pinggiran," kata Santosa (31), warga Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Laweyan.

Fasilitas publik

Selain masalah transportasi massal, warga beberapa kota juga berharap pemkotnya membenahi lingkungan kota. Anggit Pamungkas, warga Kota Magelang, misalnya, bangga kotanya mendapat penilaian tertinggi dalam Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015 untuk kategori kota dengan penduduk 200.000 jiwa atau kurang. Selama ini dia juga merasa nyaman tinggal di Magelang.

Namun, dia berharap pemkot membangun ruang publik yang representatif untuk aktivitas rekreasi warganya. Alun-alun, menurut Anggit, seharusnya bisa ditata lebih baik, memenuhi konsep taman kota tersebut.

Di Bandung, warga mengapresiasi terobosan-terobosan yang dilakukan pemkot untuk memberikan kenyamanan warganya. Salah satunya adalah meningkatkan fasilitas publik dengan menyediakan akses internet gratis dan Wi-Fi di tiap taman.

Namun, menurut Ketua Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda Supardiyono Sobirin, masih ada hal yang harus diperhatikan. Pengelolaan drainase misalnya, masih kurang. Akibatnya, saat hujan deras, muncul genangan air hingga menutup jalan di beberapa wilayah. Tak jarang hal ini menimbulkan kemacetan lalu lintas.

"Kalau dihitung panjang jalan di Kota Bandung sekitar 1.000 kilometer sehingga dibutuhkan pula drainase di kanan kiri badan jalan itu. Namun, fakta di lapangan, drainase yang ada hanya sekitar 25 persen. Maka tak heran kalau hujan lebat melanda cepat menimbulkan terjadi banjir cileuncang (genangan tinggi di jalan)," katanya di Bandung.

Menurut Sobirin, pada 1960- an, apabila hujan mengguyur wilayah Bandung, 60 persen air hujan dapat meresap ke tanah, dan sekitar 40 persen dapat masuk ke drainase. Namun, mulai tahun 2000-an, sekitar 90 persen air hujan terbuang percuma.

Masalah-masalah tersebut di atas tidak lagi dirasakan warga Kota Balikpapan. Kebersihan, kenyamanan, ketertiban, dan keamanan, menjadi garis besar alasan warga Balikpapan betah tinggal di kota itu. Kebutuhan warga akan ruang publik juga terpenuhi.

Hal yang dirasakan warga Balikpapan masih kurang adalah ketersediaan barang kebutuhan pokok dengan harga murah. "Harga barang dan kebutuhan hidup di sini mahal. Hampir semua sayur, buah, daging, dan telor didatangkan dari Jawa dan Sulawesi," kata A Teddy (38), warga Balikpapan. (ETA/DEN/ODY/HRS/SEM/PRA/RWN/EGI/mkn)

Sumber: Kompas | 15 Agustus 2015

Berikan komentar.