TRP
Kawasan Gumuk Pasir di Pantai Bantul Ditata
14 Agustus 2015 \\ \\ 502

YOGYAKARTA — Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Badan Informasi Geospasial akan menata kawasan gumuk atau bukit pasir di pesisir pantai Kabupaten Bantul, DIY, untuk menjaga kelestarian lingkungan wilayah itu. Penataan dilakukan dengan memasang patok batas wilayah serta menertibkan bangunan, vegetasi, dan tambak udang yang mengganggu kelestarian gumuk pasir.

"Untuk tahap awal, kami akan memasang patok dan penanda batas wilayah gumuk pasir. Selama ini, kan, batas wilayah gumuk belum jelas sehingga muncul bangunan dan usaha tambak udang yang mengganggu kelestarian gumuk," kata Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Priyadi Kardono seusai bertemu Gubernur DIY Sultan Hamengku Bawono X, Rabu (12/8), di Yogyakarta.

Gumuk pasir di Parangtritis, Bantul, merupakan fenomena alam yang terbentuk sejak ribuan tahun lalu. Pasir pembentuk gumuk itu berasal dari material vulkanik Gunung Merapi yang mengalir ke beberapa sungai, lalu terbawa sampai laut selatan. Akibat ombak dan angin, pasir di laut itu kemudian terbawa ke pantai dan wilayah sekitarnya hingga membentuk bukit-bukit dengan beragam bentuk.

Namun, selama beberapa waktu terakhir, gumuk pasir tersebut mengalami kerusakan, termasuk oleh maraknya pembangunan tambak udang di wilayah itu. Padahal, gumuk pasir memiliki fungsi ekologis yang penting, misalnya untuk mencegah intrusi atau peresapan air laut ke lapisan air tanah. Kerusakan gumuk pasir juga membuat wilayah pesisir mudah terkena abrasi atau pengikisan daratan pantai karena gelombang air laut.

Priyadi mengatakan, BIG membagi kawasan gumuk pasir ke dalam beberapa zona, yakni zona inti, zona terbatas, dan zona penunjang. Berdasarkan pemetaan BIG, luas zona inti gumuk pasir 141,1 hektar (ha), luas zona terbatas 95,3 ha, dan zona penunjang 176,4 ha. "Zona inti gumuk pasir harus bebas dari bangunan, usaha tambak udang, dan vegetasi yang mengganggu. Zona ini hanya boleh dipakai untuk pariwisata minat khusus," katanya.

Sementara itu, di zona terbatas ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan, yakni pemukiman warga dengan kepadatan sedang, pariwisata umum, pembangunan fasilitas umum, serta aktivitas perdagangan dan jasa. Adapun zona penunjang bisa dimanfaatkan untuk hutan pantai, lahan pertanian hortikultura, perdagangan, dan jasa.

Menurut Priyadi, pemasangan patok batas wilayah akan dimulai pada September 2015. Sesudah itu, BIG akan merelokasi sejumlah pohon di kawasan tersebut yang mengganggu kelestarian gumuk pasir. Setelah selesai, Pemerintah DIY dan Pemerintah Kabupaten Bantul akan menertibkan tambak udang dan bangunan di kawasan itu.

Ia menambahkan, saat ini sebenarnya sudah ada Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis yang dibentuk atas kerja sama BIG, Pemerintah Kabupaten Bantul, dan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada untuk meneliti gumuk pasir di Parangtritis. Ke depan, aktivitas laboratorium itu akan ditingkatkan, terutama untuk mengembangkan pariwisata di gumuk pasir.

"Kami akan mencoba mendidik masyarakat setempat menjadi pemandu wisata di gumuk pasir. Sebab, sejarah terbentuknya gumuk pasir itu sebenarnya sangat menarik sehingga berpotensi menjadi daya tarik wisata," katanya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Mineral DIY Rani Sjamsinarsi mengatakan, gumuk pasir merupakan fenomena alam yang langka dan memiliki fungsi ekologis penting sehingga harus dijaga. Agar penataan kawasan itu berjalan mulus, Pemerintah DIY akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar gumuk lebih dulu. "Nanti akan kami koordinasi dengan BIG tentang bagaimana menata ruang di sana agar kelestarian gumuk terjaga," ujarnya. (HRS)

Sumber: Kompas | 13 Agustus 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.